jatimnow.com - Media sosial sering kali menjadi "ruang rahasia" bagi seseorang untuk meluapkan kegelisahan yang sulit diungkapkan secara langsung.
Fenomena ini ditangkap oleh Dr. Gede Aditra Pradnyana, lulusan doktoral Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sebagai peluang untuk menyelamatkan nyawa melalui deteksi dini kesehatan mental.
Aditra mengembangkan DeXMAG, sebuah model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) multimodal yang mampu mengendus indikasi depresi hanya melalui jejak digital pengguna.
Inovasi ini hadir sebagai solusi atas tingginya hambatan psikologis masyarakat yang sering kali merasa takut atau malu untuk berkonsultasi ke psikiater.
"Banyak orang lebih nyaman meluapkan perasaan rumit mereka ke media sosial daripada bicara langsung ke kerabat. DeXMAG bekerja secara non-intrusif, memanfaatkan pola ekspresi digital sebagai indikator awal," ujar pria yang akrab disapa Adit tersebut.
Keunggulan DeXMAG terletak pada kemampuannya mengolah data yang kompleks. Berbeda dengan sistem biasa, model ini menggabungkan Cross-Modal Attention and Adaptive Gated Fusion dengan fitur kepribadian Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).
Secara teknis, sistem ini bekerja dengan membedah dua modalitas utama, yakni teks dan gambar, yang kemudian diproses melalui model terlatih RoBERTa dan VGG-16 untuk membedah muatan emosi dalam setiap unggahan.
Proses tersebut diperkuat dengan fitur personalisasi MBTI yang memanfaatkan GloVe-BiLSTM guna memetakan tipe kepribadian spesifik pengguna secara akurat.
Baca juga:
Remaja Bunuh Diri Beruntun, Pakar UNAIR: Ruang Digital Jadi Pemicu Utama
Sebagai langkah final, seluruh data tersebut diolah melalui mekanisme Weighted Fused Representation yang memungkinkan sistem memberikan kesimpulan valid mengenai apakah pengguna terindikasi mengalami depresi atau tidak.
Dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ini menjelaskan bahwa hasil prediksinya mampu memetakan delapan sifat kepribadian, mulai dari introversion hingga extroversion, dalam bentuk diagram radar yang informatif.
Riset ini membuktikan bahwa sinyal linguistik dan visual yang digabungkan secara multimodal memberikan hasil jauh lebih akurat dibandingkan hanya melihat satu sisi saja.
Adit optimistis bahwa teknologi ini dapat menjadi pelengkap asesmen klinis konvensional dan mendukung intervensi diri secara cepat.
Baca juga:
Gali Lubang Tutup Lubang, Rohmah Akui Gunakan Nama Adik Demi Modal Usaha
Inovasi ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin kesehatan (SDGs 3) dan inovasi industri (SDGs 9).
Dengan mengintegrasikan AI ke dalam ranah kesehatan mental, Adit berharap angka bunuh diri akibat depresi yang tak terdeteksi dapat ditekan secara signifikan.
"Harapannya, pendekatan ini bisa memutus kerentanan depresi hanya melalui fitur aplikasi, sehingga bantuan bisa datang lebih cepat sebelum terlambat," pungkas alumnus Universitas Udayana tersebut.
URL : https://jatimnow.com/baca-82436-doktor-its-kembangkan-ai-deteksi-mental-health-lewat-jejak-digital