jatimnow alexametrics

Kisah Buruh Bongkar di PIOS yang Sukses Bangun Rumah hingga Beli Motor

Editor : Sandhi Nurhartanto Reporter : Sahlul Fahmi
Yanto menceritakan perjalanan hidupnya yang sukses mengais rezeki di PIOS
Yanto menceritakan perjalanan hidupnya yang sukses mengais rezeki di PIOS

jatimnow.com - Alon-alon waton kelakon. Pepatah Jawa ini menjadi prinsip hidup bagi Yanto, seorang buruh bongkar di Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS).

Setelah 5 tahun bekerja sebagai buruh bongkar di pasar induk yang berada di Benowo, Surabaya, kini Yanto bisa membangun rumah di desa dan membeli dua motor matic.

Ia menceritakan, selepas lulus SMK pria asal Bojonegoro ini sebenarnya ingin bekerja di salah satu perusahaan pertambangan milik negara di kota asalnya. Namun karena persaingan ketat, Yanto akhirnya kehilangan mimpinya tersebut.

Tak mau larut dalam kekecewaan, pada pertengahan 2014 Yanto bertekad merubah nasib menuju Kota Surabaya.

Kebetulan ada tawaran dari seorang teman yang sebelumnya sudah bekerja lebih dulu sebagai buruh bongkar di pasar grosir yang terletak tak jauh dari pintu Tol Romo Surabaya itu.

"Saya tidak memiliki sawah, kalau di rumah terus pikiran jadi buntu. Jadi lebih baik mencari pekerjaan apapun yang penting halal," kata Yanto kepada jatimnow.com, Kamis (11/6/2020).

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/gempur-rokok-ilegal-portrait-1.jpg

Pria berumur 29 tahun itu menceritakan sistem kerjanya sebagai buruh bongkar di PIOS dikerjakan secara tim. Biasanya dalam setiap bongkar akan dikerjakan oleh 8 sampai 10 orang.

"Kalau pasar ramai dalam sehari saya bisa melakukan bongkar 7 sampai 8 truk sayur dan buah. Tapi kalau kondisi pasar sepi hanya 4 sampai 5 truk saja," beber ayah satu anak ini.

Dari pekerjaan yang telah dijalani selama 5 tahun itu, Yanto mampu membangun rumah yang kini ditinggali bersama keluarga kecilnya.

"Tanahnya pemberian orang tua, saya tinggal bangun saja. Alhamdulillah sekarang sudah selesai. Punya rumah sendiri membuat saya jadi tenang," ungkapnya.

Selain itu, dari jerih payahnya tersebut Yanto dapat membeli dua sepeda motor matic. Satu motor digunakannya sebagai transportasi dari Bojonegoro ke PIOS. Sedang motor satunya untuk istrinya di rumah.

"Kalau yang saya pakai ini cicilannya sudah lunas. Tapi yang satunya masih nyicil, baru jalan setahun lebih ini," tandasnya.

 

Berita ini kerjasama antara Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS) dengan jatimnow.com

 

 

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/player-manggis-potrait.jpg