jatimnow.com - Lonjakan kasus perundungan di lingkungan pendidikan yang mencapai 4.664 laporan pada awal 2025 memaksa sekolah mengubah strategi penanganan.
Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Surabaya bersama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kini mendorong para guru menggunakan analisis sosiometri untuk mendeteksi potensi kekerasan sebelum terjadi.
Dalam workshop nasional yang digelar di Gedung Unusa Tower, Senin (12/1/2026), ratusan guru SD hingga SMA di Surabaya dibekali metode pemetaan hubungan sosial siswa. Teknik ini bertujuan mengubah pola penanganan sekolah yang selama ini cenderung pasif.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menilai penanganan kasus bullying di lapangan seringkali menyerupai pemadam kebakaran baru bergerak saat api sudah berkobar atau setelah ada laporan masuk.
Padahal, kekuatan data sosiometri mampu memberikan gambaran prediktif mengenai struktur kekuasaan di dalam kelas.
"Kita bisa melihat siapa siswa yang terasing dan terisolasi sebelum mereka benar-benar menjadi korban. Begitu juga dengan siapa yang mendominasi secara negatif sebelum mereka menjadi pelaku," ujar Prof. Tri Yogi di hadapan para peserta.
Menurutnya, sosiometri berfungsi sebagai radar psikososial. Pendidik tidak boleh hanya terpaku pada kurikulum akademik, tetapi wajib memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian di tengah keramaian sekolah.
Identifikasi risiko dini ini memungkinkan sekolah melakukan intervensi cerdas tanpa menunggu jatuhnya korban fisik maupun mental.
Baca juga:
Lebih 30 Buku Setahun, Prof Yusak Unusa Raih Author of the Year
Perspektif lain datang dari Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Sruji Bahtiar. Ia melihat perbaikan mentalitas dan hati sebagai fondasi utama. Namun, kebaikan saja tidak cukup tanpa sokongan regulasi dan pengetahuan yang memadai dari para pengajar.
"Pikiran yang baik akan melahirkan ucapan yang baik. Jika ini dilakukan berulang, maka akan membentuk karakter dan mentalitas yang kuat pada siswa," kata Sruji.
Sementara itu, Pakar Sosiologi Universitas Negeri Jember (UNEJ), Dr. Rojabi Azharghany, menyoroti akar perundungan yang sering tersamarkan sebagai 'pendidikan mental'.
Hasil penelitiannya di sejumlah boarding school menunjukkan bahwa pemberian tanggung jawab berlebih pada satu siswa untuk mengatur rekan sebayanya sering menjadi pemicu kekerasan.
Baca juga:
Unusa Galang Dana dan Kirim Tim Medis ke Daerah Terdampak Bencana
"Mirisnya, banyak orang dewasa di lingkungan sekolah justru menganggap tindakan perundungan itu sebagai bagian dari pendewasaan mental," ungkap Rojabi.
Ia menegaskan, langkah awal memutus rantai ini adalah keberanian sekolah untuk menyatakan secara tegas bahwa perundungan adalah tindakan yang salah.
Tidak ada cara instan untuk menghapus budaya kekerasan selain menumbuhkan empati secara konsisten dalam interaksi harian antara guru dan murid.