Alumnus ITS Jadi Profesor di Inggris, Gunakan Digital Twins Selamatkan Nyawa

Jumat, 20 Feb 2026 13:58 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Profesor Bhakti Stephan Onggo saat menyampaikan materi di Dinas Pekerjaan Umum (PU) SDA Jawa Timur. (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)

jatimnow.com - Bagi Profesor Bhakti Stephan Onggo, barisan kode dan algoritma simulasi bukan sekadar deret angka teknis. Di tangan profesor Business Analytics dari University of Southampton, Inggris ini, teknologi menjelma menjadi instrumen kemanusiaan.

Lewat inovasi digital twins, alumnus Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut sedang merancang ulang masa depan mitigasi bencana di Indonesia agar lebih adaptif dan berpihak pada kaum rentan.

Lahir di Probolinggo pada 1970, perjalanan akademik Bhakti dimulai di tengah keterbatasan fasilitas kampus tahun 1989.

Baca juga: Doktor ITS Kembangkan AI Deteksi Mental Health Lewat Jejak Digital

Namun, kondisi itulah yang menempa mentalitas ulet dan mandiri pria yang kini menjadi diaspora sukses di Inggris Raya.

Setelah menuntaskan studi di Lancaster University dan meraih gelar doktoral di National University of Singapore (NUS), Bhakti membangun reputasi global sebagai pakar simulasi.

Meski berkarier di mancanegara, ia enggan memutus akar dengan tanah air. Berkolaborasi dengan Departemen Teknik Geomatika dan Pusat Penelitian MKPI ITS, Bhakti mengembangkan teknologi digital twins—sebuah representasi digital dari sistem nyata yang terhubung secara real-time.

"Kita berusaha menyelamatkan penyintas bencana secepat mungkin dan sebanyak-banyaknya," tegas Bhakti.

Baca juga: ITS Buka Jalur Karier ke Swedia, Gandeng Kampus Top Dunia Perkuat IUP

Perbedaan mendasar inovasi ini terletak pada fokusnya. Jika simulasi konvensional cenderung statis, digital twins memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara dinamis berdasarkan perubahan kondisi lapangan dalam hitungan detik.

\

Fokus utamanya sangat spesifik, yakni penyelamatan populasi rentan, seperti ibu hamil dan anak-anak, serta optimalisasi distribusi bantuan logistik.

Dengan mengintegrasikan digital twins ke dalam metodologi simulasi, para pengambil kebijakan dapat memprediksi situasi dengan akurasi tinggi, mengevaluasi berbagai skenario darurat, hingga mengalokasikan fasilitas medis secara tepat di tengah ketidakpastian bencana.

Baca juga: Delegasi 13 Negara Ulik Inovasi Limbah Batik di SMP YPPI 1 Surabaya

Selain aspek teknis, Bhakti menekankan bahwa pendidikan di ITS memberinya fondasi berpikir kritis. Menurutnya, kemampuan mengkritisi informasi bukan hanya berguna untuk riset, melainkan senjata utama menghadapi era hoaks.

Kiprah Bhakti kini menjadi bukti nyata bagaimana sains bisa bersinergi dengan empati. Melalui pengembangan teknologi yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), ia mengingatkan satu hal fundamental bagi generasi penerus.

"Fasilitas memang bagus, tetapi pada akhirnya kualitas mahasiswa yang akan menentukan," tutup penghobi kuliner ini.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler