Pixel Code jatimnow.com

Heboh Temuan Kasus HIV Anak Sekolah di Sidoarjo, Pakar Minta Warga Tak Panik

Editor : Ni'am Kurniawan   Reporter : Dadang Kurnia
Anak terpapar HIV (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)
Anak terpapar HIV (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)

jatimnow.com – Kabar mengenai temuan sejumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada anak usia sekolah di Sidoarjo belakangan ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Merespons fenomena tersebut, pakar kesehatan dari Universitas Airlangga (Unair) menegaskan bahwa kenaikan angka ini seharusnya disikapi dengan deteksi dini dan penghapusan stigma, bukan dengan kepanikan.

Dosen Prodi Kebidanan FK Unair, Dewi Setyowati membeberkan fakta penting bahwa kasus HIV pada anak umumnya menular secara vertikal, yakni dari ibu kepada anaknya.

Oleh karena itu, penemuan kasus pada kelompok anak sekolah memerlukan penelusuran medis lebih lanjut ke lingkungan keluarganya. Dewi justru menilai, terdeteksinya kasus-kasus baru ini adalah sinyal positif berjalannya sistem skrining kesehatan di masyarakat.

"Semakin cepat seseorang mengetahui status HIV-nya, maka semakin cepat pula tatalaksana pengobatan dapat diberikan. Meskipun jumlah kasus terlihat meningkat, hal itu justru menjadi indikator bahwa skrining berjalan lebih baik sehingga pasien memperoleh penanganan lebih awal," tegas Dewi, Selasa (28/7/2026). 

Ia mengingatkan, virus HIV bekerja menyerang sistem kekebalan tubuh. Pasien umumnya meninggal bukan akibat virus HIV itu sendiri secara langsung, melainkan karena infeksi penyerta atau komplikasi (oportunistik) yang muncul saat daya tahan tubuh pasien sudah anjlok drastis.

Tantangan terberat dalam pengendalian HIV saat ini justru datang dari stigma negatif masyarakat. Dewi menyoroti masih banyaknya anggapan keliru yang menyamaratakan semua penyandang HIV dengan perilaku menyimpang. Padahal, penyakit ini bisa menjangkiti siapa saja, termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

Baca juga:
Kasus HIV di Sidoarjo Tembus 7.129, Penghulu Didorong Perkuat Ketahanan Keluarga

"HIV tidak menular hanya melalui berjabat tangan, berbincang, atau hidup berdampingan di satu ruangan. Pemahaman yang keliru inilah yang membuat banyak penyandang HIV dijauhi, hingga akhirnya mereka takut dan enggan melakukan pemeriksaan atau pengobatan medis," jelasnya.

Guna menekan laju kasus sekaligus menghapus diskriminasi, Dewi mendorong masyarakat dan keluarga untuk memperkuat edukasi kesehatan reproduksi melalui pendekatan ABCDE. Yakni Abstinent atau tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

Kemudian, Be faithful atau setia kepada satu pasangan yang sah. Selanjutnya, Condom atau menggunakan alat pengaman sebagai upaya pencegahan mutlak pada kondisi berisiko.

Baca juga:
Banjir Rob Kalianak Makin Parah, Pakar Soroti Penurunan Tanah dan Usulkan Relokasi

Selain itu ada Drugs, yakni tidak menggunakan narkoba, terutama dilarang keras berbagi jarum suntik secara bergantian. Terajhir adalah Education, yakni membekali diri dengan pendidikan kesehatan dan informasi yang valid.

Menurutnya, pendidikan di dalam keluarga memegang peran krusial sebagai fondasi pembentukan pola pikir dan perilaku anak.

"Pemerintah saat ini telah menghadirkan berbagai program layanan, mulai dari skrining hingga pengobatan yang sepenuhnya ditanggung. Namun, upaya ini butuh dukungan keluarga melalui keterbukaan informasi, agar penanganan HIV pada anak maupun dewasa semakin optimal tanpa bayang-bayang stigma," pungkasnya.