jatimnow.com - Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) menatap Mukernas KONI pada Mei 2026 dengan kepercayaan diri tinggi. Organisasi tersebut telah mengunci dua syarat krusial, yakni rekomendasi dari KONI dan pengesahan badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM. Bekal itu membuka jalan bagi domino untuk diakui sebagai cabang olahraga resmi di tingkat nasional.
Ketua Umum PB PORDI, H. Andi Jamaro Dulung, menyebut fondasi legal organisasi sudah lengkap sejak beberapa tahun terakhir.
“Sejak 2022 kami sudah mendapat rekomendasi KONI. Itu menjadi syarat untuk pencatatan di Kemenkumham. Sekarang dua-duanya sudah kami pegang, termasuk SK yang tercatat dalam lembaran negara,” ungkapnya kepada jatimnow.com dalam turnamen Domino, Surabaya Domino Tournament 2026 di Grand City, Minggu (19/4/2026).
Bagi masyarakat luas, pengakuan resmi bukan sekadar status administratif. Pengesahan tersebut akan membawa domino keluar dari stigma permainan santai menjadi olahraga kompetitif dengan sistem yang terukur. Dampaknya bisa dirasakan hingga level akar rumput, dari klub desa hingga kejuaraan nasional.
PORDI juga mengklaim telah melampaui syarat organisasi yang ditetapkan KONI. Saat ini, kepengurusan provinsi sudah terbentuk di lebih dari separuh wilayah Indonesia.
Sebanyak 21 provinsi telah dilantik, 26 provinsi mengantongi surat keputusan, dan mandat organisasi menjangkau seluruh 34 provinsi.
“Minimal syaratnya setengah plus satu provinsi. Kami sudah melewati itu. Bahkan di setiap provinsi, struktur daerahnya aktif dan diakui KONI setempat,” terangnya.
Peserta mengikuti Surabaya Domino Tournament 2026 di Grand City Convention Hall, Surabaya, Minggu (19/4/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Di lapangan, aktivitas domino sudah berjalan tanpa menunggu pengakuan resmi. Turnamen rutin digelar dengan sistem registrasi atlet yang ketat. Setiap pemain wajib terdaftar dalam klub atau “Gardu” sebelum bisa ikut kompetisi.
Baca juga:
Final Sengit Warnai Surabaya Domino Tournament 2026
Fenomena menarik muncul dari sisi pembiayaan. Berbeda dengan banyak cabang olahraga lain, pemain domino justru bergerak mandiri. Mereka membiayai perjalanan, penginapan, hingga kebutuhan turnamen tanpa bergantung pada dana pemerintah.
“Pemain datang dengan biaya sendiri. Naik pesawat, menginap di hotel, semua ditanggung pribadi. Ini menunjukkan kemandirian yang jarang terlihat di olahraga lain,” ujarnya.
Basis massa pun tidak kecil. Meski belum menjangkau seluruh desa di Indonesia, PORDI memperkirakan sekitar 25 persen desa telah memiliki klub domino. Artinya, ada lebih dari 20 ribu komunitas yang aktif bermain dan berkompetisi.
Di tengah popularitas tersebut, tantangan utama sebelumnya terletak pada perbedaan aturan antar daerah. Variasi cara bermain membuat pertandingan lintas wilayah sulit dilakukan. PORDI kemudian menyusun standar nasional melalui simulasi panjang yang melibatkan berbagai daerah.
Baca juga:
HGI dan PORDI Cetak Sejarah Domino Profesional di Surabaya
Kini, satu sistem permainan berlaku seragam. Pemain dari Jawa Timur, Papua, hingga Sumatera dapat bertanding dengan aturan yang sama. Format permainan pun dibuat sederhana namun kompetitif, mulai dari kartu pembuka hingga sistem poin seperti “Cekih” dan “Pal”.
Mantan ketua PBNU yang akrab disapa AJD itu melihat domino memiliki akar budaya yang kuat di masyarakat Indonesia. Permainan itu sudah hidup jauh sebelum organisasi terbentuk.
“Domino sudah ada di mana-mana. Tidak ada hajatan tanpa permainan ini. Kami hadir untuk menyatukan aturan agar bisa dipertandingkan secara nasional, bahkan ke depan menjadi standar internasional,” ucapnya.
Dengan legalitas yang telah dikantongi dan jaringan organisasi yang meluas, langkah PORDI menuju pengakuan resmi tinggal menunggu keputusan forum Mukernas. Jika lolos, domino berpotensi naik kelas dari tradisi sosial menjadi olahraga prestasi yang diakui negara.
URL : https://jatimnow.com/baca-83880-domino-selangkah-lagi-jadi-cabor-resmi-di-koni