Pixel Code jatimnow.com

Bising Kota Malang Tiba-tiba Hilang di Tempat Ini

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Padi Heritage Resort Malang hadir sebagai ruang beristirahat bagi warga kota maupun pelancong yang ingin menjauh sejenak dari kebisingan. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Padi Heritage Resort Malang hadir sebagai ruang beristirahat bagi warga kota maupun pelancong yang ingin menjauh sejenak dari kebisingan. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com – Deru kendaraan dan klakson yang mendominasi jalanan Kota Malang mendadak menghilang begitu langkah memasuki kawasan Padi Heritage Resort. Di tempat itu, suara mesin digantikan gemericik air Sungai Brantas dan desir angin yang melintas di petak-petak sawah.

Padi Heritage Resort Malang hadir sebagai ruang beristirahat bagi warga kota maupun pelancong yang ingin menjauh sejenak dari kebisingan. Lokasinya tak jauh dari pusat aktivitas pendidikan. Kawasan tersebut berada dekat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (UNISMA).

Hotel dan kafe Kopi Kalibrantas berdiri di lahan persawahan yang landai menuju aliran Sungai Brantas. Jaraknya sekitar 6 kilometer dari Museum Brawijaya dan hanya beberapa menit berjalan kaki dari Taman Rekreasi Tlogomas.

Tamu menikmati suasana dari blakon Padi Heritage Resort Kota Malang. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Tamu menikmati suasana dari blakon Padi Heritage Resort Kota Malang. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Begitu memasuki area kompleks, suasana kota terasa tertahan di balik rimbun pohon kelapa dan bambu. Pemandangan sawah produktif terbentang di depan bangunan kayu tua yang menjadi pusat aktivitas pengunjung.

Jusuf, penggagas Padi Heritage Resort, memilih nama “Padi” bukan tanpa alasan. Ia melihat tanaman tersebut sebagai simbol yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

“Padi sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari. Mau diolah menjadi bubur, nasi goreng, atau nasi gurih, bahan dasarnya tetap sama. Karakternya fleksibel dan selalu cocok dengan berbagai lauk. Keberadaannya juga sangat esensial,” ujar Jusuf saat ditemui di lokasi pada Sabtu (07/3/2026).

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain bangunan. Alih-alih mengusung gaya modern, Jusuf menghadirkan Joglo Kudusan asli yang diboyong langsung ke area hotel. Material kayu tua dengan ukiran detail menjadikan bangunan itu memiliki karakter kuat.

Di bagian dalam, pengunjung dapat melihat koleksi wayang kulit yang tertata rapi. Interior tersebut menghadirkan suasana Jawa klasik yang kerap disebut bernuansa “Mojopahitan”.

Baca juga:
Foto: Menjelajah Penglipuran, Simbol Keteguhan Bali Menjaga Warisan Leluhur

Atmosfer tradisional yang berpadu dengan lanskap sawah membuat cafe di Malang tersebut kerap dipilih sebagai lokasi foto prewedding hingga prosesi akad nikah.

Menariknya, perkembangan tempat tersebut justru terjadi saat pandemi Covid-19 melanda dan melumpuhkan sektor pariwisata. Saat banyak pelaku usaha melakukan penghematan, manajemen Padi Heritage Resort memilih memperluas area.

Kopi Kali Brantas mulai beroperasi pada 2021, ketika pembatasan kegiatan mulai dilonggarkan. Dua tahun kemudian, pengelola merampungkan pembangunan area bawah, panggung kegiatan, serta musala.

“Kami melihat orang membutuhkan ruang terbuka luas ketika aturan new normal berlaku. Area outdoor menjadi pilihan banyak orang,” kata Jusuf.

Baca juga:
Jember Raih Juara III di East Java Tourism Marketing Award 2025

Saat ini Padi Heritage Resort memiliki sekitar 40 kamar yang dirancang santai dengan pemandangan alam. Pengunjung datang dari berbagai kota seperti Surabaya dan Jakarta, bahkan wisatawan mancanegara mulai singgah.

Suasana pedesaan terasa semakin kuat dengan kehadiran kawanan ayam Silkie unggas berbulu lembut asal Amerika yang berkeliaran di sekitar halaman. Ayam-ayam tersebut telah berkembang hingga generasi keenam sejak pertama kali dipelihara di area hotel.

Di tempat tersebut, kemewahan tidak diukur dari tinggi bangunan atau gemerlap lampu. Pengunjung datang untuk menikmati udara segar, mendengar suara sungai, dan menyantap hidangan hangat di tepi sawah.

Bagi sebagian orang, pengalaman sederhana semacam itu justru menjadi kemewahan yang jarang ditemukan di tengah kesibukan kota Malang.