Pixel Code jatimnow.com

Darah Manusia Terkontaminasi Racun Plastik, Peneliti Temukan Fakta Ngeri

Editor : Ni'am Kurniawan   Reporter : Ali Masduki
Peneliti ungkap temuan mengerikan, mikroplastik melepaskan zat racun dalam darah manusia yang memicu peradangan kronis, kerusakan DNA, hingga risiko kanker. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)
Peneliti ungkap temuan mengerikan, mikroplastik melepaskan zat racun dalam darah manusia yang memicu peradangan kronis, kerusakan DNA, hingga risiko kanker. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tubuh manusia kini bukan lagi zona steril dari polusi. Sebuah kolaborasi riset lintas universitas mengungkap fakta mengkhawatirkan. Bahan kimia beracun dari plastik telah bermigrasi ke dalam sistem biologis manusia, termasuk darah, dan mengancam kesehatan secara permanen.

Dalam seminar "Expose Temuan Bahan Kimia Racun Plastik dalam Darah" di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Senin (9/3/2026), para ahli membedah bagaimana partikel mikroplastik melepaskan zat aditif berbahaya seperti bisfenol, ftalat, hingga PFAS langsung ke dalam organ tubuh.

Zat-zat ini tidak sekadar menumpang lewat, melainkan memicu reaksi berantai yang merusak. Temuan pada pekerja pengelola sampah perempuan dan uji laboratorium pada hewan menunjukkan adanya gangguan metabolisme, perubahan profil sel darah, hingga peningkatan risiko penyakit jantung (kardiovaskular).

Partikel polietilena jenis plastik yang biasa kita gunakan sebagai kantong belanja dan wadah makanan terbukti mampu menembus pertahanan tubuh. Yudhiakuari Sincihu dari Fakultas Kedokteran UKWMS menjelaskan bahwa partikel ini memicu stres oksidatif yang menghancurkan membran sel.

"Saat masuk melalui makanan atau udara, mikroplastik berinteraksi langsung dengan jaringan. Kondisi ini menciptakan peradangan kronis yang merusak DNA dan protein. Dalam jangka panjang, gangguan ini memicu pertumbuhan sel yang tidak terkendali, atau kita kenal sebagai kanker," kata dr. Yudhiakuari.

Bahan kimia seperti ftalat, yang berfungsi melenturkan plastik, diketahui tidak terikat kuat pada materialnya. Alhasil, zat ini sangat mudah luruh saat terkena panas atau sinar matahari, lalu menyusup ke tubuh melalui rantai makanan.

Baca juga:
Siswa SMAN 1 Driyorejo Teliti Mikroplastik, Temuan di Sperma Jadi Alarm

Riset yang dipaparkan dalam forum ini tidak hanya bicara soal darah. Paparan mikroplastik dilaporkan sanggup mengganggu fungsi kognitif otak, memicu peradangan pada jaringan mata, mengubah struktur tulang, hingga merusak sistem reproduksi.

Di dalam usus, mikroorganisme bahkan mempercepat pelepasan racun tersebut. Hal ini menghancurkan keseimbangan mikrobiota usus yang menjadi benteng utama daya tahan tubuh manusia.

Direktur ECOTON, Prigi Arisandi, menilai hasil riset ini harus menjadi peringatan keras bagi masyarakat. Ia mendorong agar istilah-istilah ilmiah ini segera membumi agar publik sadar bahwa plastik bukan lagi sekadar masalah tumpukan sampah di sungai, melainkan ancaman nyawa.

Baca juga:
Pameran Bayi Mikroplastik di Surabaya, Potret Kelam Penjajahan Plastik

"Masalah plastik menyangkut kesehatan langsung. Kita butuh perubahan perilaku total untuk menghentikan pemakaian plastik sekali pakai," tegas Prigi.

Senada dengan itu, Dekan FK UKWMS, Herjunianto, mendesak adanya kebijakan yang lebih tegas dari pemerintah, termasuk penetapan baku mutu mikroplastik dan penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) bagi produsen plastik.

Tanpa langkah radikal, impian generasi muda untuk memiliki masa depan bebas racun (toxic-free future) hanya akan menjadi angan-angan di tengah kepungan partikel plastik yang kian tak terkendali.