Pixel Code jatimnow.com

Kisah Inspiratif Christopher, Dalang Tionghoa ITS yang Dobrak Sekat Inklusi

Editor : Bramanta   Reporter : Ali Masduki
Penampilan Christopher Jason Santoso saat menjadi dalang pada pagelaran See You Soon 2023 di Tower 2 ITS. (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)
Penampilan Christopher Jason Santoso saat menjadi dalang pada pagelaran See You Soon 2023 di Tower 2 ITS. (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)

jatimnow.com - Identitas etnis dan keterbatasan fisik seringkali menjadi tembok tebal dalam pelestarian budaya. Namun, bagi Christopher Jason Santoso, hambatan tersebut justru menjadi bahan bakar untuk membuktikan bahwa seni tradisi tidak mengenal sekat eksklusif.

Mahasiswa S1 Studi Pembangunan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini sukses mengukir prestasi sebagai dalang Tionghoa sekaligus peneliti muda yang vokal menyuarakan isu inklusi.

Langkah Christopher di dunia pewayangan dimulai dari tugas sekolah dasar yang sederhana. Ketertarikan itu membawanya ke sebuah sanggar di Surabaya untuk belajar lebih dalam.

Bukannya sambutan hangat, pemuda kelahiran 2004 ini justru kenyang dengan perundungan. Ia sempat diremehkan karena kondisi rhotasisme atau sulit melafalkan huruf "R" (cadel), ditambah lagi sentimen negatif terkait latar belakang etnisnya.

"Saya sempat berhenti karena tekanan itu. Tapi akhirnya kembali lagi karena yakin warisan budaya ini milik siapa saja tanpa memandang perbedaan," ujar Christopher.

Enggan menyerah pada penolakan, ia memilih jalur otodidak. Lewat buku dan media sosial, ia mengasah teknik mendalang hingga mampu tampil memukau di ajang See You Soon 2023 ITS.

Tak tanggung-tanggung, ia membawakan lakon wayang dalam tiga bahasa sekaligus, yakni Inggris, Jawa, dan Mandarin.

Baca juga:
Alumnus ITS Jadi Profesor di Inggris, Gunakan Digital Twins Selamatkan Nyawa

Kecintaan pada budaya Jawa ini tidak berhenti di atas panggung kayu. Sebagai akademisi, ia mengonversi kegelisahannya terhadap diskriminasi menjadi riset ilmiah.

Tugas akhir miliknya membedah fenomena diskriminasi terhadap penutur rhotasisme di Surabaya. Kerja keras ini membawanya menjadi pembicara di International Symposium on Javanese Culture 2024.

Eksistensi Christopher di ITS juga mencakup ranah kewirausahaan dan diplomasi internasional. Ia membidani Herbits, startup jamu modern yang mendapat pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).

Di kancah global, ia tercatat sebagai Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia serta aktif dalam forum pemuda di China hingga forum hukum Asia-Afrika (AALCO).

Baca juga:
Doktor ITS Kembangkan AI Deteksi Mental Health Lewat Jejak Digital

Meski jadwalnya padat sebagai calon wisudawan periode April 2026, pemuja gaya mendalang Ki Nartosabdo ini tetap konsisten naik panggung.

Penampilan terakhirnya di TEDxITS 2024 menjadi bukti bahwa suara cadel yang dulu dihina, kini justru menjadi resonansi bagi inklusi sosial di Indonesia.

Melalui perjalanannya, Christopher menunjukkan bahwa melestarikan budaya bukan soal garis keturunan, melainkan soal keberanian merawat keberagaman di tengah gempuran modernitas.