Pixel Code jatimnow.com

Tak Kejar Laku, Penulis Buku Asal Malang Luncurkan 2 Buku demi Literasi Warga

Editor : Yanuar D   Reporter : Avirista Midaada
Perempuan asal Malang, Rinda Puspasari saat peluncuran buku. (Foto: Aris/jatimnow.com)
Perempuan asal Malang, Rinda Puspasari saat peluncuran buku. (Foto: Aris/jatimnow.com)

jatimnow.com - Perempuan asal Malang, Rinda Puspasari, meluncurkan dua buku sekaligus sebagai upaya mengedukasi masyarakat dan menguatkan budaya literasi. Dua buku tersebut berjudul Di Bawah Langit yang Bukan Milikku dan Koi dari Kolam Kaisar ke Nusantara: Jejak Waktu dan Rahasia Gigi yang Berbisik.

Peluncuran dua buku dengan karakter berbeda ini menjadi catatan tersendiri di dunia literasi. Buku Di Bawah Langit yang Bukan Milikku mengangkat kisah kehidupan personal Rinda Puspasari, yang mengajak pembaca menyelami perjalanan hidup, pencarian jati diri, hingga refleksi batin sang penulis.

Sementara buku Koi dari Kolam Kaisar ke Nusantara menghadirkan kisah ikan koi dengan pendekatan yang ringan dan mudah dipahami. Berangkat dari pengalamannya meneliti koi saat menempuh pendidikan serta kiprahnya di dunia pendidikan, Rinda menjadikan koi sebagai subjek utama dalam bukunya.

Rinda Puspasari menyebut menulis merupakan bagian dari kepribadian sekaligus hobinya. Di sela waktu istirahat, ia memilih menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan hingga akhirnya dibukukan.

“Hari ini suatu hal tentang keberanian untuk menulis yang sering kita lupakan. Saya percaya buku tidak cukup ditentukan tapi ditemukan, memberi kesempatan agar gagasan di buku ini bisa sampai ke pembaca,” kata Rinda saat peluncuran buku, Senin malam (9/2/2026).

Ia menjelaskan, melalui buku tentang koi, dirinya menawarkan sudut pandang berbeda yang jarang diketahui masyarakat. Penulisan buku tersebut berangkat dari riset sejarah, geologi, budaya, hingga ekonomi yang kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan.

“Koi kaisar itu dengan latar berbeda, berangkat dari riset sejarah, geologi, budaya dan ekonomi. Namun itu saya jadikan satu. Di sini koi saya jadikan subjek, bukan objek yang bisa menjadikan peradaban, yang mengingatkan kita bahwa manusia bisa belajar tentang dirinya sendiri melalui produk lain,” ujarnya.

Dalam proses penulisannya, Rinda melakukan riset ke berbagai komunitas koi, membandingkan jurnal ilmiah, hingga mewawancarai pelaku usaha koi di Garum, Kabupaten Blitar. Proses tersebut ia jalani selama kurang lebih satu tahun.

Baca juga:
Buku Tambo Girisik Resmi Diluncurkan di Malam Puncak Literatutur 2025

“Saya sebelumnya sudah tulis dan buat gagasannya, dari situ muncul dan berkembang idenya. Saya riset, saya juga datangin tempatnya. Memang kalau orang akademik menilai buku koi ini kurang ilmiah dalam penulisannya, tapi tujuan saya menulis ini agar orang lain bisa memahami dengan mudah,” jelasnya.

Sementara itu, buku Di Bawah Langit yang Bukan Milikku menawarkan refleksi pembelajaran hidup tanpa kehilangan identitas diri. Buku tersebut berangkat dari pengalaman pahit dan manis kehidupan Rinda, termasuk pengakuan bahwa dirinya bukan anak kandung dari orang tua yang membesarkannya.

“Saya baru tahu setelah 46 tahun, bahwa saya punya leluhur jenderal polisi seperti itu. Saya baru tahu kalau saya bukan anak kandung itu setelah usia 23 tahun dan saya rahasiakan sampai umur 46. Jadi semua yang ada di situ saya nggak berani kalau itu fiktif, itu malah membuat celaka saya,” tegasnya.

Rinda menilai, dua buku tersebut diharapkan mampu mendorong budaya literasi di Indonesia yang masih tergolong rendah. Meski demikian, ia mengaku tidak terlalu memikirkan aspek komersial dari karya-karyanya.

Baca juga:
Basiq El Fuadi Luncurkan Buku “Jejak Islam dalam Tata Ruang Kota Gresik”

“Saya nggak mau buku saya dalam bentuk elektrik, saya mau mendidik warga. Saya ingin orang Indonesia membuka buku, bukan HP. Saya tidak pernah memikirkan buku itu akan laku, berapapun yang saya dapatkan itu saya terima,” tuturnya.

Menurutnya, dampak literasi tidak selalu bisa dirasakan secara instan.

“Mungkin efeknya bukan sekarang. Mungkin lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi buku saya menjadi referensi. Kalau kita tidak melakukan apa-apa, tentu perubahan tidak akan terjadi dan bangsa Indonesia tidak akan pernah berubah,” pungkasnya.