jatimnow.com – Di pedalaman Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, selembar kain bukan sekadar penutup raga. Bagi masyarakat adat Dayak Iban, setiap helai benang adalah rekaman sejarah yang dirajut tanpa tinta.
Tenun Iban Sadap kini berdiri sebagai benteng terakhir yang mengikat hubungan manusia, leluhur, dan kelestarian alam yang kian terancam.
Keberhasilan Festival Tenun Iban Sadap pada Desember lalu menjadi bukti bahwa denyut tradisi ini masih kencang.
Magareta Mala, sosok di balik festival tersebut, menyatakan bahwa tenun merupakan bahasa spiritual dan kearifan lokal yang nyata.
"Tenun bukan komoditas semata. Ini simbol identitas. Ada nilai sakral di dalamnya yang menyangkut kelahiran hingga kematian," ujar Mala saat ditemui di sela kesibukannya.

Ketergantungan masyarakat pada alam terlihat dari proses produksinya. Pewarna kain diambil dari dedaunan, akar, dan kulit kayu yang hanya tumbuh subur jika hutan mereka terjaga.
Herkulanus Sutomo dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu memaparkan keterikatan ini sebagai hubungan timbal balik yang mutlak.
"Menenun berarti memelihara bumi. Kami tidak mungkin memusnahkan tanaman pewarna di wilayah adat sendiri," kata Tomo.
Ia mengingatkan, jika negara gagal memberikan pengakuan dan perlindungan melalui RUU Masyarakat Adat, maka kehilangan wilayah adat otomatis mematikan tradisi menenun. Tanpa hutan, bahan baku dan ruh dari tenun itu sendiri akan lenyap.
Pusat dari peradaban ini berada di rumah panjang. Di ruang terbuka yang disebut ruai, para perempuan dari berbagai usia berkumpul.
Suara alat tenun kayu yang saling beradu menjadi musik harian. Di sini, menenun adalah kegiatan komunal yang memacu semangat.
Yosefa Kiki Nayah Sari, salah satu penenun muda, mengaku tergerak karena suasana kebersamaan tersebut.
"Seru kalau ramai-ramai di ruai. Lihat teman menenun, saya jadi semangat untuk ikut bekerja. Rasanya seperti berlomba dalam kebaikan," tutur Yosefa.

Bagi anak muda seperti Yosefa, menenun adalah bentuk perlawanan terhadap zaman yang serba instan. Ia menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk memastikan motif sakral seperti kebat tetap eksis.
Mala kini mulai membuka pintu rumah panjang bagi dunia luar melalui paket tur edukasi. Namun, ia tidak mencari turis massal yang sekadar datang untuk berfoto.
Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa dari Kuala Lumpur tinggal dalam waktu lama hanya untuk memahami filosofi di balik motif manusia dan hewan pada kain tersebut.
"Kami ingin pengunjung datang untuk memahami prosesnya yang panjang, bukan sekadar melihat hasilnya," tambah Mala.
Melalui festival dan regenerasi penenun muda, masyarakat Dayak Iban di Desa Sadap sedang mengirimkan pesan kuat ke publik.
Selama alat tenun masih berbunyi di rumah panjang, selama itu pula mereka akan terus berdiri menjaga hutan Kapuas Hulu dari kehancuran.
URL : https://jatimnow.com/baca-82195-hutan-hilang-tenun-pun-padam-sinyal-darurat-dari-rumah-panjang-sadap