Pixel Code jatimnow.com

Tak Rela Mahasiswa Mundur, ITS Sulap Dana Abadi Jadi Penyangga Hidup

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati memaparkan skema penerimaan mahasiswa baru dalam acara ITS Media Gathering 2026 di Solo, Sabtu (31/1/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati memaparkan skema penerimaan mahasiswa baru dalam acara ITS Media Gathering 2026 di Solo, Sabtu (31/1/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com – Gelombang pengunduran diri mahasiswa akibat impitan ekonomi yang menghantui berbagai kampus, nyatanya tidak berlaku di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kampus Pahlawan tersebut memilih jalur berani, yakni mengerahkan dana abadi demi menahan ratusan mahasiswa agar tidak angkat kaki dari ruang kelas.

Langkah konkret tersebut bukan sekadar retorika. Di bawah komando Rektor Profesor Bambang Pramujati, ITS "pasang badan" dengan menyulap simpanan dana abadi menjadi penyangga hidup mahasiswa yang terjepit biaya.

Tak tanggung-tanggung, total dana beasiswa fantastis sebesar Rp195,6 miliar disiapkan untuk mengawal masa depan 9.324 anak didik sepanjang tahun 2025.

Bambang membeberkan bahwa kebijakan ini lahir dari realitas lapangan yang menyesakkan. Ia menemukan fakta adanya ratusan mahasiswa yang terjebak dalam anomali skema bantuan. Mereka lolos Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) untuk biaya pendidikan, namun tunjangan biaya hidupnya nol rupiah.

"Banyak kampus melaporkan mahasiswa dalam kondisi tersebut memilih mundur. Di ITS, kami melarang itu terjadi. Mereka harus tetap lanjut kuliah," tegas Bambang saat memaparkan skema penerimaan mahasiswa baru dalam acara ITS Media Gathering 2026 di Solo, Sabtu (31/1/2026).

Guna menambal celah tersebut, ITS mengoptimalkan dana abadi sebagai solusi jangka panjang. Bambang berkomitmen menyalurkan subsidi rata-rata Rp1 juta per bulan bagi setiap mahasiswa terdampak hingga mereka meraih gelar sarjana.

Meski nominalnya sedikit di bawah standar KIP-K pusat yang mencapai Rp1,25 juta, dana abadi hadir sebagai sekoci penyelamat. ITS juga bergerak lincah menggandeng mitra eksternal, termasuk dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Khofifah Indar Parawansa melalui programnya disebut siap memberikan bantuan penuh bagi mahasiswa asal Jatim yang masuk kriteria.

Baca juga:
Alumnus ITS Jadi Profesor di Inggris, Gunakan Digital Twins Selamatkan Nyawa

Upaya ini terbukti bukan investasi kosong. Sepanjang tahun lalu, 9.324 penerima beasiswa ITS berhasil memanen lebih dari 2.000 prestasi di berbagai level.

Melalui 70 lebih skema beasiswa, ITS perlahan menghapus stigma bahwa pendidikan teknik kelas wahid hanya bisa diakses oleh kalangan berpunya.

Tak hanya urusan isi perut mahasiswa, ITS kini mulai menjemput bola ke daerah-daerah. Bambang membeberkan bahwa timnya tengah bergerilya mencari talenta unggul dari kabupaten yang selama ini jarang melirik ITS.

Jalur Golden Ticket pun disiapkan sebagai karpet merah bagi mereka untuk masuk tanpa hambatan birokrasi tes.

"Kami membuka pintu bagi ketua OSIS dan siswa berprestasi lewat jalur tanpa tes. Kami ingin ITS menjadi rumah bagi putra-putri terbaik dari seluruh penjuru Indonesia, tanpa terkecuali," tambahnya.

Baca juga:
Doktor ITS Kembangkan AI Deteksi Mental Health Lewat Jejak Digital

Menatap tahun akademik 2026, ITS berencana menjaring sekitar 6.300 mahasiswa baru jenjang sarjana. Namun, ada pergeseran strategi yang cukup signifikan.

Guna mengikuti arahan kementerian, ITS tidak lagi berambisi menambah kuota sarjana secara besar-besaran, melainkan mengalihkan fokus pada penguatan jumlah mahasiswa pascasarjana.

Bagi publik yang mengincar kursi di ITS, rangkaian seleksi tahun 2026 akan dimulai melalui jalur SNBP pada Februari dan SNBT di bulan Maret. Sementara itu, pendaftaran jalur mandiri dan prestasi (SMITS) akan dibuka sepanjang April hingga Juni 2026.

"Anggaran dan skema beasiswa ini adalah pesan bagi masyarakat, siapa pun yang punya kemauan dan prestasi, pintunya terbuka lebar di sini," tutup Bambang.