Pixel Code jatimnow.com

Nestapa Pelaku UMKM Lamongan, Terlanjur Investasi tapi Serapan SPPG Minim

Editor : Yanuar D   Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Aktifitas harian pelaku UMKM Lamongan produk susu kedelai (Foto: Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Aktifitas harian pelaku UMKM Lamongan produk susu kedelai (Foto: Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Minimnya serapan produk lokal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lamongan dikeluhkan para pelaku UMKM.

Senyum mereka mendadak pudar usai menerima kenyataan bahwa produk mereka tidak mendapat respons baik dari SPPG meski telah berulang kali melakukan penawaran.

Kekecewaan juga dipicu karena pelaku UMKM terlanjur meningkatkan jumlah produksi sampai membeli alat, usai mendengar komitmen pemerintah bahwa Program MBG juga fokus menyerap produk UMKM.

Kondisi itu dirasakan betul oleh Sofi Alfian, pelaku UMKM produk susu kedelai di Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan.

"Awalnya sempat mengirim beberapa kali, tapi sekarang berhenti. Dapur SPPG lebih memilih susu UHT pabrikan dengan alasan kepraktisan dan masa simpan yang lebih lama," ujar Alfin, Kamis (8/1/2026).

Baca juga:
Anggaran BGN Turun, SPPG Tempurejo Kediri Kembali Layani Sekolah hingga Posyandu

Hal yang sama dialami Tutik Handayani, pengusaha roti dari Desa Karanglangit, Kecamatan Lamongan Kota yang mengaku jika dari segi legalitas dan kualitas, produk lokal sebenarnya sudah sangat siap.

"Kami sudah memiliki izin BPOM, sertifikasi Halal, hingga konsultasi ke Dinas Kesehatan. Kami bahkan mengikuti rekomendasi untuk menambah kandungan kalsium pada roti agar sesuai standar gizi nasional. Namun kenyataannya, penyerapan oleh SPPG di Lamongan tetap minim," tutur Tutik.

Baca juga:
Mbak Vinanda Resmikan SPPG Semampir 1, Perkuat Pemenuhan Gizi Anak dan 3B Kediri

Ketua Gerai UMKM Lamongan, Reni Setiawati, membenarkan bahwa hambatan prosedur teknis di lapangan menjadi ganjalan utama bagi para pelaku usaha lokal. 

"Sangat disayangkan, teman-teman sudah menabung dan membeli alat canggih agar produksi lebih profesional. Begitu alat siap, produk justru tidak digunakan. Akhirnya alat-alat tersebut menganggur," jelas Reni.