jatimnow.com - Ada hari-hari tertentu ketika republik ini seperti sudah kehabisan bahan untuk bertengkar. Biasanya itu terjadi setelah isu politik melelahkan, harga cabai naik-turun, atau presiden sedang ke luar negeri. Pada hari-hari seperti itu, media sosial kita seperti mencari mangsa baru. Dan lalu muncullah hikayat yang mendadak viral… tumbler.
Ya, tumbler KRL jurusan Tanah Abang–Rangkasbitung. Barang paling tidak strategis dalam sejarah Republik Indonesia, tetapi mampu memecah perhatian nasional lebih dari rapat paripurna DPR.
Kalau para politisi kita sedang bingung bagaimana mempersatukan bangsa, mungkin jawabannya sederhana: hilangkan saja satu tumbler, niscaya seluruh rakyat bersuara dalam harmoni. Harmoni cacian, analisis abal-abal, dan teori konspirasi.
Perkara dimulai ketika seorang pengguna KRL memposting bahwa tumbler-nya hilang setelah dititipkan kepada petugas kebersihan. Videonya viral. Dalam waktu kurang dari tiga jam, algoritma bekerja lebih cepat dari KPK menangani kasus besar.
Semua orang tiba-tiba berubah menjadi detektif swadaya, analis SOP KRL, bahkan ahli hubungan industrial.
Yang menarik, tidak ada satu pun yang bertanya warna tumbler-nya apa. Padahal, seperti halnya politik Indonesia, keputusan penting kerap ditentukan oleh warna.
KAI Commuter pun turun tangan. Serius sekali. Seakan-akan tumbler itu bukan barang pribadi, tetapi bagian dari aset BUMN yang tercatat dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.
CCTV diselidiki. Petugas diperiksa. Ada mediasi, ada klarifikasi, ada pernyataan resmi. Untuk ukuran hilangnya sebuah tumbler, respons ini hampir menyerupai investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
Tentu saja publik terbelah. Sebagian membela pemilik tumbler: “Itu hak konsumen!” Sebagian lagi membela petugas: “Mereka kerja capek, jangan asal nuduh!”. Dan sebagian lainnya, golongan netizen paling stabil, hanya ingin menonton keributan sambil makan cilok.
Ada yang bilang kasus ini hanya masalah sepele yang dibesar-besarkan. Saya tidak setuju. Karena di republik ini, hal-hal kecil selalu punya kebiasaan jelek: meloncat menjadi isu nasional.
Di level politik, pola ini sudah lama terjadi. Indonesia bisa tenang menghadapi inflasi global, tetapi bisa ribut luar biasa hanya karena presiden memakai jaket tertentu. Atau karena kata “wowo” dianggap plesetan. Politik kita kadang seperti acara gosip infotainment. Bedanya hanya pada kualitas pencahayaan.
Jadi jangan heran ketika tumbler pun bisa memecah belah negara. Kita memang punya bakat alami untuk melebih-lebihkan hal kecil dan mengabaikan hal besar. Jalan rusak bertahun-tahun? Biasa. Tumbler hilang sehari? Nasional. Yang membuat perkara ini semakin politis adalah satu hal: respons institusi publik.
Baca juga:
Drama Ormas Madas-Armuji Berakhir Damai di Meja Rektor Unitomo
Cara KAI menangani kasus tumbler ini menunjukkan sesuatu yang sering kita lupakan. Di era digital, reputasi bisa hilang lebih cepat dari tumbler yang tertinggal di rangkaian KRL. Satu video 10 detik bisa membuat direksi BUMN gemetar. Satu postingan bisa membuat SOP perusahaan direvisi.
Dalam dinamika politik hari ini, pemerintah pusat sedang mati-matian membangun citra pelayanan publik yang responsif, manusiawi, dan modern. Maka hilangnya tumbler bisa menjadi ancaman reputasi, lebih berbahaya dari demo kecil atau kritik oposisi.
Kalau Anda pikir saya lebay, coba ingat: kita hidup di zaman ketika rating menteri bisa naik-turun hanya karena viral di TikTok.
Para pejabat tentu tidak ingin terlihat tidak peduli. Apalagi di awal pemerintahan baru. Di masa seratus hari pertama, semuanya masih serba sensitif. Salah senyum saja bisa jadi isu. Apalagi salah menangani tumbler.
Tetapi ada satu hal lucu sekaligus menohok: ketika petugas kebersihan KRL diperiksa sedemikian ketat, sebagian publik justru mengingatkan, “Coba kalau OTT koruptor cepatnya begini juga.”
Ah, itulah kita. Tidak pernah puas. Petugas kebersihan diperiksa, bilang kebangetan. Kalau tidak diperiksa, bilang tutup mata. Lagi-lagi, netizen benar, walaupun tidak selalu bijak.
Baca juga:
Pelaku Penganiayaan di SPBU Sembayat Diamankan Polsek Manyar Gresik
Di sinilah saya sadar: drama tumbler hilang ini sesungguhnya bukan tentang tumbler. Ini tentang relasi publik dan institusi. Tentang kepercayaan yang rapuh. Tentang betapa pentingnya komunikasi yang terbuka, cepat, dan empatik.
Dan, yang paling penting, tentang betapa gampangnya republik ini tersulut oleh hal remeh karena hal-hal besar justru terlalu sering tak tersentuh.
Akhir cerita? Tumblernya belum kembali. Reputasi KAI sedikit lecet. Netizen kenyang hiburan. Dan republik kembali sibuk dengan urusan besar lainnya. Setidaknya sampai ada tumbler berikutnya yang hilang.
Sahabat, kalau negara lain punya “affair of the century”, maka kita punya “tumbler of the week”. Tapi jangan salah: justru dari tumbler ini kita belajar, bahwa keadilan tidak selalu berwujud gedung megah, sidang serius, atau pasal-pasal rumit. Kadang ia hanya soal bagaimana negara merespons hal paling sederhana.
Dan sementara negara masih belajar, satu hal penting tetap kita jaga: Jangan sampai kehilangan akal sehat. Tumbler boleh hilang, kewarasan jangan.
Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
URL : https://jatimnow.com/baca-80845-republik-tumbler-hilang