Konsumsi Beras Isi Ulang, Pola Hidup Sehat Baru dan Kurangi Limbah Plastik

jatimnow.com - Pendiri dan Pengamat Pola Konsumsi Beras di Perkotaan, Hason Sitorus menyebut beras cokelat atau brown rice disebut lebih sehat daripada beras putih. Sebab beras cokelat masih memiliki dedak yang tergolong sumber serat serta benih yang utuh.

Menurutnya, beras cokelat yang selama ini dianggap sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat itu juga memiliki kandungan mineral dan zat gizi yang penting bagi tubuh.

"Beras-beras warna putih yang dikemas terlihat kinclong sebenarnya lapisan kulit arinya sudah hilang. Jadi, vitamin dan mineral terbuang bersama lapisan yang lain," ujar Hason, Kamis (16/9/2021).

Owner Rumah Pangan Kita itu menjelaskan bahwa memasak beras cokelat butuh kesabaran karena harus direndam semalaman. Untuk pemberian air 3 banding 1 dari beras.

"Beri sedikit garam agar rasanya tidak hambar. Setelah itu baru dimasak dan buktikan ketika terbiasa mengonsumsinya kita tidak akan gemuk. Kandungan karbohidratnya rendah," jelas dia.

Pensiunan PNS Pemkot Surabaya menambahkan selama ini beras berwarna putih yang dikonsumsi masyarakat hanya mengandung gula atau zat pemanis.

"Itulah sebabnya masyarakat terjangkit penyakit diabetes karena sudah terbiasa mengonsumsi beras putih, rasanya lezat yang sementara. Kalau mengonsumsi beras cokelat ini bisa mencegahnya," ungkap dia.

Perbandingan lain yaitu terkait harganya, jika dibandingkan beras merah, harga beras cokelat lebih terjangkau dengan nilai gizi yang tetap sama. Selain itu dengan membeli brown rice juga membantu mengurangi limbah plastik.

Pasalnya, jika beli brown rice di Rumah Pangan Kita yang berada di Jalan Karang Menjangan no 22 Surabaya, menggunakan sistem isi ulang.

"Kami menyediakan beras cokelat dengan isi ulang wadah jeriken. Di samping bisa mengurangi limbah plastik, juga menghemat pengeluaran," kata dia.

Hason lalu menunjukkan demo bagaimana pabrik-pabrik beras membersihkan beras cokelat yang menurut dia kandungan gizi dan mineral di dalamnya terbuang.

"Alat ini sengaja saya beli agar orang tahu bagaimana proses padi pecah kulit sampai berwarna putih. Yang tertinggal di beras putih, cantik, kemasan bagus, harganya mahal adalah rasa manisnya saja," pungkas Hason.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top