Pegawai PMK Surabaya yang Juga Ketua RW Dipecat karena Pakai Rompi 02

jatimnow.com - Seorang pegawai Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya dipecat karena kedapatan menggunakan rompi bergambar pasangan calon Wali Kota Machfud Arifin dan Calon Wakil Wali Kota Mujiaman atau nomor urut 02.

Bagaimana kisahnya tenaga outsourcing itu dipecat? Pengacara muda M Sholeh tidak mau ketinggalan. Dia mewawancarai Fahrul Suganda yang juga menjabat ketua RW V, Kelurahan Kapasan ini. Kasus tersebut membuat heboh di media beberapa waktu lalu.

Baca juga:  

Hasil bincang- bincangnya yang diunggah di channel YouTube miliknya serta telah disaksikan redaksi pada Jumat (27/11/2020 ).

"Saya kerja di Dinas PMK sejak 2018 bulan 3 (Maret - red)," jawab Fahrul memulai bincang-bincangnya.

Selama kerja di Dinas PMK, Fahrul Suganda mengaku tidak pernah dapat surat peringatan.

"Tidak pernah sama sekali. Baik-baik saja," terang Fahrul Suganda.

Ia menyebut, jika selain bertugas di Dinas PMK, dirinya juga menjabat sebagai Ketua RW (Rukun Warga red) V, Kelurahan Kapasan, Kota Surabaya.

Ia menceritakan dirinya dipecat karena bapaknya mendatangkan pasangan calon nomor urut 1 Machfud Arifin dan Mujiman (MAJU)

Otomatis sebagai ketua RW, cirinya tidak bisa menghalangi keinginan warganya.

"Jadi bapak saya itu ke MA Center (Jalan Basuki Rakhmat-red) untuk bikin acara di depan Balai RW V, bukan di dalam balai pada 8 November. Yang datang Calon Wakil Wali Kota Surabaya Pak Mujiaman. Yang hadir hampir 700 orang. Saya sebagai RW tidak orasi. Saya merasa nanti kalau saya naik panggung dan bikin orasi, saya tidak netral," jelas dia.

Ia mengaku dirinya saat itu berada di bawah panggung dengan mengenakan an rompi MAJU karena disuruh bapaknya.

"Karena sebagai tuan rumah. Otomatis, kan saya juga harus menyambut Pak Mujiaman juga. Tapi untuk netral, saya tetap netral karena 01 minta izin ke saya untuk kampanye, saya juga kasih izin. Yang datang langsung Pak Eri (Eri Cahyadi red) yang dihadiri 20 orang maksimal 50 warga," ungkap Fahrul.

Ia meneruskan, sewaktu Mujiaman datang diikuti oleh 700 warganya itu karena model kampanye dibuat road show. Mujiaman jalan dari gang ke gang dan berhenti atau kumpulnya di depan Balai RW V.

"Apakah saat Eri datang, anda juga datang?" tanya Sholeh.

"Mohon maaf saya tidak datang karena ada hajatan di luar kota. Dianggap saya berpihak. Bahkan ada fitnah, saat Pak Eri datang ada yang orasi bilang sekarang RW nya belum sadar. Tapi kalau Pak Eri menang, Insya Allah nanti RW- nya sadar," kata Fahrul.

Pria berbadan kekar itu kemudian melanjutkan setelah kampanye Mujiaman, dirinya juga mendengar fitnah kembali karena dianggap sebagai tim sukses MAJU.

"Saya difitnah sebagai tim sukses Pak MA dan Pak Mujiaman. Faktanya saya bukan jadi apa-apa. Jadi pas tanggal berapa itu saya dipanggil dinas dan ditunjukkan foto saya memakai rompi Machfud Arifin-Mujiaman. Ditunjukkan bukti dan orang dinas memanggil, saya membuat pembelaan. Saya sampaikan sebenarnya saya orang merah. Saya masuk ke dinas pemadam karena saya dimasukkan sama orang merah," terang Fahrul.

"Jelaskan apa yang dimaksud merah itu? Merah itu apa, hijau itu apa. Jangan-jangan anda itu pelangi. Yang dimaksud merah itu apa?," kejar Sholeh.

"Yang dimaksud merah itu orang PDI Perjuangan. Saya sebenarnya juga orang PDI Perjuangan. Saya tidak ikut struktur PDI Perjuangan. Yang menang dulu di kampung saya juga PDI Perjuangan. Pasti itu. Sudah berkali-kali menang di situ," jawabnya.

"Saya juga sampaikan itu. Kalau saya memakai bajunya Pak Eri, apakah saya juga dipecat. Soalnya kapasitas saya sebagai Pak RW. Tidak bisa bela sini, tidak bisa bela sana. Atasan saya tidak bisa menjawab," imbuhnya.

"Setelah dipanggil, pembelaan, keputusannya apa?" tanya Sholeh penasaran.

"Keputusannya saya bikin BAP (berkas acara pemeriksaan) dan pernyataan. Isi pernyataan tidak membela 01 atau 02, harus netral dan yang kedua harus tetap di posisinya, saya tanda tangan di atas materai. Sehari setelah saya menandatangani surat pernyataan, saya dipanggil dan dipecat. Yang menemui saya kan Baruna (pimpinan) 03 yaitu Kepala Bidang Operasional. Seharusnya yang mecat saya Baruna 01 dan sebagai Kepala Dinas dan bukan kepala operasional. Ini tidak sah," jawabnya.

Setelah mendapat sanksi pemecatan, Fahrul Suganda mengaku langsung ditemui oleh Calon Wali Kota Machfud Arifin (MA).

"Saya langsung ditemui oleh Pak MA dan tim pemenangan. Saya datang ke sana. Saya bilang pak saya dipecat dan tanggapannya Pak MA 'Ya udah mas, besok kita tunggu tanggal 9 saja'. Terlalu bijak Pak MA itu, terlalu bijak, tidak arogansi dan tidak memutus rezeki orang langsung. Kalau Pak MA arogansi mungkin berunjuk rasa di Pasar Turi (Kantor Dinas PMK Surabaya red). Tapi Pak MA tidak seperti itu. Pak MA memberikan advokasi dengan mempelajari semua dan masih di bawah tim pemenangan juga," terangnya.

"Sampai sekarang langkahnya seperti apa. Apakah menemui kepala dinas atau Baruna 03?" tanya Sholeh.

"Tim advokasi sudah mau melangkah ke dinas," jawab Fahrul.

"Apa tanggapan warga setelah anda dipecat?"

"Tanggapannya ya kok bisa disangkut pautkan RW dengan pekerjaan. Jadi mutusnya kok gak ada pertimbangan, ini RW, ini pekerjaan. Karena selama ini saya tidak pernah menyangkut pautkan pekerjaan saya dengan menjadi Ketua RW. Saya kemarin juga tidak pakai baju dinas, dan sedang tidak berdinas," jawabnya.

"Apakah anda tahu mobil ASN Pemkot yang dipakai untuk kepentingannya Erji (Eri-Armudji). Beberapa bulan lalu kasusnya itu. Apakah si pelaku ASN juga diberhentikan dari ASN?" tanya Sholeh.

"Ya saya tahu ada mobil itu, tetapi saya belum dengar apakah ASN itu diberhentikan atau tidak. Karena begini, di PMK sendiri banyak juga yang anak ranting dari PDIP, orang merah di dalam sana banyak. Orang struktur sana banyak merah. Karena pas saya Binjas atau (pembinaan) jasmani itu sudah disarankan untuk ke 01," jawabnya.

"Siapa yang menyarankan ke 01?" tanya Sholeh kepo.

"Pelatih binjas yang menyarankan ke 01. Bilangnya gini, jangan lupa ini alatnya Pak Eri bukan dari pemerintah kota. Jadi kita harus meneruskan perjuangannya. Terus ada yang tanya pak ini binjas atau kampanye. Ada yang protes kalau kampanye jangan di sini pak. Akhirnya dia berhenti ngomong," beber Fahrul.

Ia berdalih sebagai ketua RW akan netral, memberikan ruang yang sama kepada para calon wali kotaagar tidak terjadi gesekan diantara warganya.

"Saya pasti netral. Sampai sekarang 01 dan 02 di kampung saya ada semua. Jadi banner, stiker monggo. Saya tidak pernah melarang warga saya 01-02. Saya tidak mau ada bentrok warga. Ada yang bentrok, saya yang tanggungjawab bukan orang lain," tandasnya.

Di akhir video, Sholeh menyebut jika Fahrul Suganda sudah netral karena mempersilahkan siapa saja yang datang baik dari 01 atau 02.

"Mestinya menurut saya itu cukup diberi surat peringatan. Karena bagaimanapun Mas Fahrul memilik anak dan menurut saya diberhentikan itu tidak elok, tidak menyelesaikan masalah. Justru ini memperlihatkan jika tidak mendukung Erji maka sanksinya pemberhentian. Kalau pakai rompi Erji mungkin tidak diberhentikan bisa malah dapat reward," kata Sholeh.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top