jatimnow alexametrics

Reaksi Elit Parpol Soal Video Bupati Jember dr Faida

Editor : Redaksi Reporter : Budi Sugiharto
Foto: Bupati Jember Faida/Istimewa
Foto: Bupati Jember Faida/Istimewa

jatimnow.com - Video Bupati Jember dr Faida bicara tentang mahalnya surat rekomendasi partai politik untuk pemilihan kepala daerah beredar hingga Kamis (3/9/2020). Bagaimana reaksi elit partai politik (parpol)  menyaksikannya?

"Dan untuk itu saya pastikan, kalau dalam pilkada itu mencari rekom saja perlu uang bermiliar-miliar, sementara gajinya bupati semua orang tahu rata-rata Rp 6 juta, kalau toh ada insentif dan lain-lainnya, dengan biaya yang puluhan miliar itu, saya pastikan sulit untuk menjadi pemimpin yang tegak lurus," kata Bupati Faida.

"Apabila mengawali pencalonan di pilkada dengan cara-cara yang kurang terhormat, membeli kesempatan, membayar kepercayaan, itu bukan suatu awalan yang baik dan saya meyakini tidak akan mendapat ridho dari Allah SWT," tambah Bupati Faida.

Hotel Sahid Surabaya 2222 Best Wedding Dates

Pernyataanitu disampaikan Bupati Faida saat menjadi panelis dalam acara webinar dengan topik perempuan sebagai kepala daerah dari Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember beberapa hari lalu. Saat itu, Faida tampil bersama Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko.

Perlu diketahui dalam pilkada Jember tahun 2015, Faida bepasangan dengan Abdul Muqiet Arief diusung PDI Perjuangan, Partai NasDem, PAN, serta Partai Hanura.

"Saya sejatinya tidak merancang untuk maju secara independen, apalagi saya incumbent. Namun seperti biasa dinamika perebutan rekom, perjuangan untuk mendapatkan rekom, meskipun kita pernah berkontribusi kepada partai, kepada peningkatan suara, itu tidak otomatis lalu kita mendapatkan rekom kembali," teran Bupati Faida.

"Tetapi bagi saya, apapun yang penting kita tidak boleh berpisah dengan rakyat. Selama kita diingini rakyat, mendapat rekom atau tidak dari partai, kebersamaan itu akan menguatkan dalam pembangunan ke depan," kata Bupati Faida.

Ia melanjutkan, jika mendapatkan rekom pada pilkada 2015 tidak dikenakan biaya.

"Kalau pengalaman (pilkada Jember) 2015, saya mendapatkan rekom dari partai tanpa mahar, itu memang terjadi. Dan saya tidak membayar rekom tersebut, baik dari PDI Perjuangan maupun dari Nasdem. Namun pada periode kedua ini belum ada rekom yang turun sampai hari ini di Kabupaten Jember,” kata Faida.

"Namun alhamdulillah (saya) bisa mendapatkan rekom rakyat dan berhasil lolos dari verifikasi faktual KPU. Dan alhamdulillah tidak ada satu suara pun yang kami beli dari rakyat. Karena kepercayaan rakyat ini yang membuat saya merasa layaklah berjuang pada lima tahun ke depan. Karena rakyat memberi kepercayaan," ungkap Bupati Faida.

Untuk pilkada tahun ini, Bupati Faida maju lagi, tapi melalui jalur independen atau perseorang berpasangan dengan Calon Wakil Bupati Dwi Arya Nugraha Oktavianto. Ia juga menyatakan telah memperoleh dukungan dari rakyat, melebihi syarat yang ditetapkan penyelenggara pemilu.

"Dari 121 ribu suara minimal yang dipersyaratkan dari KPU, dalam sepuluh hari, relawan kami berhasil mengumpulkan 250 ribu suara, dan kami hanya sempat memasukkan dalam Silon (Sistem Informasi Pencalonan) KPU (sebanyak) 180 ribu (dukungan)," ungkap Bupati Faida.

Menurut Ketua DPP Partai NasDem, Effedie Choirie atau Gus Choi, semua yang disampaikan Bupati Faida memang kenyataan. Selama memimpin Jember, Bupati Faida ingin serius mengurus rakyat, tapi tetap bersih, jujur, tidak korupsi, tidak manipulasi, tidak kolusi, tIdak main main dengan APBD. Bahkan tidak mau kompromi dengan kehendak elite (anggota DPRD Jember yang dirasakan tidak cocok dengan hati dan pikirannya.

"Pokoknya Faida tegak lurus. Mungkin itu ilmu dari kuliah kedokteran. Memang harus begitu, biar mengobati pasien itu tepat dan akurat. Tapi sekarang dia sedang tidak mengurus rumah sakit, tidak sedang praktek sebagai dokter, tapi sebagai bupati," kata Gus Choi mengingatkan

Bagi Gus Choi, Bupati Faida yang sekarang sebagai pemimpin politik, birokrasi dan pemimpin masyarakat yang beragam, majemuk, plural, dengan strata sosial yang berbeda beda pula.

"Menghadapi realitas seperti itu nggak bisa hanya dengan satu ilmu kedokteran," tegas politisi asal Gresik ini, Kamis (3/9/2020)

Gus Choi sempat melontarkan kelakar.

"Mestinya Bupati Faida bisa juga menggunakan ilmunya orang Arab. Ilmu Yahanu. Atau Ilmunya Abu Nawas. Sangat aneh bin ajaib. Petahana maju lagi tapi pakai jalur independen. Ini mesti ada yang salah dalam mengetrapkan ilmunya," katanya.

"Logisnya, petahana yang baik itu mesti didukung semua partai. Bahkan lawannya hanya bumbung kosong," tambahnya dengan mimik serius.

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/new-resto-pelabuhan-portrait.gif