jatimnow alexametrics

Menghitung Langkah PDIP Menggandeng NU di Pilwali Surabaya 2020

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Jajeli Rois
Balai Kota Surabaya
Balai Kota Surabaya

jatimnow.com - Menghadapi Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya, PDIP sampai saat ini belum memunculkan nama pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota.

Pengamat politik dari Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya Abdus Syair menyampaikan pandangannya bila PDIP ternyata mengusung figur nonkader, misalnya dari birokrat dan kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

"Kalau itu terjadi, berarti basis hijau NU di Surabaya benar-benar menjadi target utama bagi PDIP. Karena yang akan dihadapi kalau posisinya PDIP ini berhadapan dengan musuh dengan jumlah partai pengusung banyak," ujar Abdus Syair, Senin (15/6/2020).

Hotel Sahid Surabaya 2222 Best Wedding Dates

"Maka karena basisnya calon (Calon Wali Kota Machfud Arifin) yang diusung 7 partai itu memungkinkan ada PKB di dalamnya. Itu punya basis kelompok hijau yang cukup kuat," tambahnya.

Syair menerangkan, ada dua peta basis di Surabaya. Pertama peta merah basisnya PDIP, kedua basis religi. Di Surabaya sejak dulu sampai sekarang adalah basis NU dan PDIP dan kedua kelompok ini menjadi rebutan.

"Cuman masalahnya adalah, apakah NU secara kelembagaan di Surabaya itu akan memberi efek elektoral terhadap PDIP Eri Cahyadi yang bukan berasal dari kader PDIP," ungkapnya.

"Kalau kemudian itu berangkat didasari perseorangan, tidak punya basis kekuatan struktural di NU, menurut saya agak berat," sambung Syair.

Menurutnya, banyak kader PDIP yang ingin maju sebagai cawali maupun cawawali. Ketika mereka tidak terakomodir, tidak menutup kemungkinan akan terjadi klik (gejolak) di kalangan kader dan simpatisan. Karir para kader untuk memperebutkan kekuasaan di Surabaya sirna.

"Klik itu pasti akan ada. Apalagi lagi jika benar calon L1 (wali kota) dan L2 (wakil wali kota) yang mau diusung juga berasal dari luar kader," tuturnya.

"Bayangkan calon L1 bukan kader, kemudian L2 berangkat dari NU, ini kan di luar kader semua. Dan kalau saya masih berharap kader-kader PDIP cukup potensial menurut saya perlu diakomidir," terangnya.

Dia menambahkan, mengusung nonkader sebagai pasangan cawali dan cawawali juga sangat berisiko bagi kaderisasi di PDIP di masa akan datang.

"Karena partai politik itu harus berbasis kader, kalau tidak begitu sulit. Karena partai itu harus berkelanjutan," katanya.

"Saya bilang klik itu ada, tetapi selagi masih ada Bu Megawati itu aman. Nah pertanyaan kemudian, apakah Bu Megawati akan ada selamanya, kan tidak juga. Kita juga tidak tahu itu kapan," ungkap Syair.

Dia memberikan masukan PDIP di Pilwali Surabaya, yaitu jangan terlalu pragmatis dalam pencalonan. Misalnya cawali boleh diakomodir, tetapi cawawali itu juga harus dipikirkan, harus ada proses kaderisasi cukup bagus.

"Saya rasa ditelisik secara mendalam dan secara ilmu pengetahuan, ada banyak kader yang juga bisa dicalonkan begitu, walaupun posisinya bukan di L1," papar Syair.

Syair juga mengaku telah melihat baliho Eri dan Cak Ji (Armuji) sudah terpasang di mana-mana. Ketika rekom nantinya bukan dari kader, juga bisa membuat sakit hati bagi kader yang tidak diusungnya.

"Sakit hati pasti, apalagi cost-nya juga banyak bisa ratusan juta (memasang baliho). Kalau diakomodir pasti klik, walaupun ada Bu Megawati, klik itu tidak besar," ujarnya.

Menurutnya, Armuji berpeluang menjadi kompetitor. Karirnya di PDIP panjang. Lama menjadi anggota DPRD Surabaya bahkan pernah menduduki jabatan sebagai Ketua DPRD Surabaya dan sekarang eksis serta naik tingkat menjadi legislator PDIP di DPRD Provinsi Jawa Timur.

"Artinya karir dia, konsistensi dia, jaringan dia tidak perlu diragukan di PDIP. Masak begitu tidak diakomodir oleh PDIP, baik di level wilayah maupun pusat. Menurut saya ini eman (sayang sekali)," tambahnya.

Ia membayangkan, jika salah satu kader ada yang diusung sebagai cawali atau cawawali, maka PDIP akan selamat dibandingkan tidak mengusung kader sama sekali.

"Menurut saya PDIP akan selamat dibanding dengan dua-duanya itu di luar kader. Menurut saya akan berbahaya di masa akan datang jika tidak mengusung kader. Karena Megawati sekali lagi, ada titiknya, ada batasnya tidak akan bisa selama-lamanya," urainya.

"Eman sekali tidak ada kader di PDIP dan di Surabaya itu menurut saya stoknya banyak," jelasnya.

Hingga saat ini, baru ada satu calon wali kota Surabaya yang menonjol yaitu Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin. Mantan Kapolda Jatim itu telah diusung koalisi partai PKB, PAN, Gerindra, Demokrat, PPP, NasDem dan Partai Golkar.

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/new-resto-pelabuhan-portrait.gif