Diisukan Berharap Bantuan, Mantan Pevoli Nasional: Itu Tidak Benar

jatimnow.com - Mantan pevoli nasional era 90-an Jalu Dwi Prasetyo membantah kabar jika dirinya tengah mengharapkan bantuan pemerintah akibat sakit yang dideritanya. Kini dia hidup dengan satu kaki setelah kaki kirinya diamputasi akibat sakitnya tersebut.

Saat ditemui di rumahnya Jalan Awikoen Madya 17 Utara, Gresik, pria 56 tahun asal Ponorogo itu menceritakan perjalanan karirnya sebagai pevoli profesional hingga penyakit yang membuat kaki kiri diamputasi.

"Penyebabnya bukan diabetes, tapi kolesterol terlalu tinggi sehingga peredaran darah ke kaki kiri tersumbat. Dan pada 2010 harus diamputasi. Meski begitu saya tak pernah berharap apalagi meminta bantuan dari siapapun apalagi kepada pemerintah," ujar Jalu, Senin (8/6/2020).

Ayah tiga anak ini melanjutkan, meski saat ini telah kehilangan kaki kiri, tapi secara finansial dirinya lebih dari cukup. Karena selama 26 tahun terakhir dirinya tercatat sebagai karyawan di Bank Indonesia.

"Saya tegaskan berita itu tidak benar. Rasanya kok kurang bersyukur kepada Allah SWT kalau saya sampai berharap apalagi sampai meminta bantuan kepada pemerintah. Selain itu saya juga merasa tidak enak dengan teman-teman yang mengetahui kondisi riil saya saat ini," tutur suami dari Rina Trisnawati itu.

Mantan pevoli nasional era 90-an Jalu Dwi Prasetyo bersama istri di rumahnya di GresikMantan pevoli nasional era 90-an Jalu Dwi Prasetyo bersama istri di rumahnya di Gresik

Diakui Jalu, saat kaki kirinya diamputasi adalah masa-masa yang sulit dalam hidupnya, terutama masalah psikologis.

"Saya sangat tertekan saat itu. Jiwa saya berontak, mental saya benar-benar jatuh," kenang pria yang berulang tahun pada 25 Mei itu.

Akan tetapi berkat dukungan kuat dari keluarga, saudara serta para sahabat, berlahan Jalu mulai bisa menerima kenyataan. Bahkan Emha Ainun Najib atau Cak Nun menjadi salah satu orang yang terus memberikan motivasi pada hidupnya.

"Saya bersahabat dengan Cak Nun. Beliau bahkan menjenguk saya di rumah sakit saat kaki saya diamputasi. Saya banyak mendapatkan motivasi hidup darinya. Alhamdulillah kini hidup saya normal dan kembali bersemangat," tambah mantan pevoli yang berposisi sebagai open spiker itu.

Jalu juga sedikit mengenang kisahnya saat berkarir sebagai pevoli yang diawalinya dari klub amatir Sparta Ponorogo milik Zaenuri, gurunya di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Ponorogo.

"Saya lulus SPMA Tahun 1983. Mungkin dilihat punya bakat, saya diajak Pak Zaenuri gabung ke klub voli miliknya," jelasnya.

Kisah Jalu berlanjut, bersama Sparta Ponorogo, Tahun 1984 dirinya mengikuti Kejurda di Madiun. Penampilannya yang gemilang membuat dirinya ditawari bekerja di Perusahaan Gula Madiun. Tapi dirinya hanya setahun bekerja di perusahaan tersebut.

Tahun 1985 Jalu memutuskan hijrah ke Tuban untuk bekerja sebagai petugas pertanian. Karena hobinya di dunia voli telah mendarah daging, di sela kesibukannya bekerja sebagai petugas pertanian, Jalu tetap aktif bermain voli antar kampung. Ketika even 17-an di Tahun 1985 Jalu pun membela klub voli asal Langitan, Widang, Tuban.

"Di final tim saya bertemu Petrokimia Gresik. Selepas final saya ditawari pengurus voli Petrokimia Pak Imam Supardi dan Pak Sugeng Jo untuk bergabung dengan Petrokimia," bebernya.

Foto Jalu Dwi Prasetyo dan rekan satu tim voliFoto Jalu Dwi Prasetyo dan rekan satu tim voli

Sejak bergabung dengan klub voli Petrokimia, penampilan Jalu kian berkembang. Antara Tahun 1986 hingga 1989 dirinya dan tim mempersembahkan mahkota juara bagi Petrokimia di kejuaraan Livotama, Livokarya maupun kejuaraaan voli antar perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Dan hampir setiap kejuaraan saya terpilih sebagai pemain terbaik atau pemain favorit," ujarnya.

Tak berhenti di situ, seiring performanya yang kian meningkat, Tahun 1989 Jalu masuk dalam skuad tim voli putra PON Jawa Timur. Di event ini Jalu dan tim berhasil mempersembahkan medali emas bagi Jawa Timur. Prestasi ini kembali diulangnya pada PON 1993.

Dewi Fortuna terus menyertai Jalu di mana namanya masuk dalam skuad timnas voli putra SEA Games 1989 di Malaysia. Di final, skuad merah putih mampu mengalahkan Thailand. Jalu pun merasakan emas pertamanya di ajang internasional.

"Begitu pun dalam SEA Games 1991 Manila dan SEA Games 1993 Singapura, kami juga berhasil mempersembahkan emas untuk Indonesia," ucapnya.

Dari intensitasnya di pelatnas inilah Jalu kemudian kenal dengan Dudung Syarifudin, salah satu pejabat Bank Indonesia, yang kemudian memberi tawaran kepada Jalu sebagai karyawan di Bank Indonesia.

Selama bekerja di Bank Indonesia, Jalu juga pernah menjadi pelatih tim voli putra PON Jatim 2001 dan sukses merebut medali emas.

Sedang karirnya sebagai pelatih timnas voli putra untuk SEA Games Vietnam 2003 dijalani hanya sebulan. Jalu mengundurkan diri karena memilih fokus di tempat kerjanya.

"Saya mulai bekerja di Bank Indonesia Tahun 1994. Dan baru bulan ini saya resmi pensiun. Alhamdulillah saya sangat bersyukur dengan semuanya. Dan InsyaAllah uang pensiunan cukup sebagai bekal di hari tua," pungkasnya.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top