Kisah Keluarga Pasien (1)

Diagnosa Lebih dari PDP Covid-19 untuk Ibuku Terbantahkan

jatimnow.com - Ibuku telah tutup usia dan aku beserta keluargaku sudah mengikhlaskannya. Namun kegundahan sempat menyelimuti kami beberapa jam sebelum ibu tiada.

Betapa tidak, seorang dokter IGD menyampaikan bahwa ibuku menjadi pasien dengan status Lebih dari PDP (pasien dalam pengawasan). Aku bergumam, kok ada status lebih dari PDP.

Pengalaman itu aku alami berawal pada Jumat (27/3/2020) sore saat aku mendapat kabar dari adikku melalui pesan Whatsapp (WA). Dalam pesan itu adikku mengatakan bahwa ibuku dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit swasta di kawasan Surabaya barat sekitar pukul 16.30 Wib.

Memang dalam beberapa hari sebelum wafat, ibuku mengeluh sakit pada dadanya. Saat tidur terlentang maupun miring ke kanan atau ke kiri, ibuku mengaku sakit dan sesak. Namun tidak batuk-batuk, begitu pula diare.

Catatan medik dari Rumah Sakit MKS ketika masuk di IGD pada saat itu, tensi ibuku 180/80, nadi 97 dan suhu tubuh 37,9 dejat celcius.

Kakakku menghubungiku dan mengatakan bahwa ibu harus dirujuk ke rumah sakit lain karena di rumah sakit itu sudah tidak ada bed-nya. Aku pun bertanya, kenapa ibu harus dirujuk.

"Kata dokter, paru-parunya umik (kami biasa memanggil ibu dengan panggilan umik) banyak airnya. Ada infeksi yang ada virus dan bakteri, tapi tidak tahu jenisnya. Karena itu, umik harus dirujuk," jelas kakakku saat itu.

"Tapi umik nggak mau dirujuk, minta pulang ke rumah," sambung kakakku.

Aku meminta kakak agar menungguku sampai ke rumah sakit. Sebab aku harus menyelesaikan tugas jurnalisku tentang update perkembangan penyebaran Covid-19 di wilayah Jawa Timur dari Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya.

Kakak dan adikku bergantian menghubungiku agar aku segera datang ke rumah sakit. Karena dari pihak rumah sakit memberikan batas waktu sekitar satu jam untuk menunggu kepastian apakah ibu dirujuk atau pulang paksa.

Setelah menyelesaikan tugas tulisanku, aku bergegas menuju Rumah Sakit MKS yang berada di kawasan Surabaya barat.

Rumah sakit itu sudah sekitar 7 tahun menjadi 'langganan' ibuku berobat. Selama itu ibu menjadi pasien cuci darah (HD).

Sampai di rumah sakit pada Jumat malam, aku melihat dokter dan perawat menggunakan alat pelindung diri (APD) saat menangani ibuku yang terbaring di bed ruang IGD. Dalam benakku, kenapa perawat dan dokter menggunakan APD.

Aku curiga kalau ibuku didiagnosa Corona. Apalagi saat itu Corona tengah mewabah dan Surabaya masih menjadi daerah tertinggi di Jatim. Kemudian aku mendekat ke ibukku yang sedang terbaring. Melihat aku di sampingnya, ibu bersedia dirujuk.

"Umik gelem dirujuk nak. Jelekno rumah sakit seng apik. (Umik mau dirujuk nak. Carikan rumah sakit yang bagus)," ucap ibuku.

Seketika itu aku langsung menemui perawat dan dokter jaga IGD. Aku menyampaikan bahwa ibuku bersedia dirujuk. Aku juga minta jangan ke rumah sakit (maaf tidak saya sebutkan) itu, karena ibu saya trauma ke rumah sakit itu dan selalu teringat bapaknya (kakek saya) yang wafat di rumah sakit tersebut, saat itu ibuku yang menjaganya.

Kemudian aku bertanya ke dokter maupun perawat tentang hasil diagnosa terhadap ibuku, sehingga ibu harus dirujuk. Saya juga minta ditunjukkan daftar rumah sakit rujukan.

Betapa terkejutnya aku ketika perawat membuka tab dan menunjukkan daftar rumah sakit rujukan Corona.

"Dok, ibu saya ODP (orang dalam pemantauan) atau PDP (pasien dalam pengawasan)," tanyaku.

"Bukan ODP lagi, lebih dari PDP," jawab dokter jaga itu.

Dokter menyampaikan ke keluargaku bahwa dari hasil rontgen, pada paru-paru ibuku terdapat cairan dan juga ada infeksi yang ada virus dan bakterinya. Namun dokter tidak menjelaskan bakteri atau virus apa yang ada dalam paru-paru ibuku itu.

Jawaban dari dokter bahwa ibuku didiagnosa Lebih Dari PDP itu membuatku terkejut. Sebab ibuku tidak pernah keluar negeri, tidak pernah ke luar provinsi, tidak pernah bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19. Apalagi selama ini ibuku rutin cuci darah ke rumah sakit itu. Cuci darah terakhir pada Selasa dan rencanya Sabtu waktunya HD (hemodialisi atau cuci darah).

Kami sekeluarga juga tidak bepergian ke luar negeri maupun ke luar provinsi saat pertama kali Covid-19 melanda Wuhan, China. Kami juga tidak pernah bersentuhan dengan pasien terkonfirmasi Covid-19.

Aku sempat khawatir, apakah ibuku tertular karena aku. Karena di antara keluargaku yang sering berpergian saat Corona mewabah di Surabaya dan beberapa daerah di Jatim, aku sering berinteraksi dengan banyak orang termasuk meliput update penyebaran Covid-19 di Gedung Grahadi.

Tapi dalam benak hatiku, tidak mungkin ibuku tertular dari aku. Karena selama ini alhamdulillah aku sehat-sehat saja dan tidak sakit yang mengarah ke Covid-19 seperti panas, pilek, demam, batuk dan lain-lain.

Saat wabah Corona melanda Jatim, aku juga tidak berpergian ke luar negeri maupun ke luar provinsi.

Meski begitu, aku tetap berusaha mencari rumah sakit rujukan untuk ibuku, di tengah kegundahanku. Namun ternyata tidak mudah mencari rumah sakit rujukan Corona.

Setelah beberapa rumah sakit rujukan dihubungi dan menyatakan ruang isolasinya penuh, akhirnya ibuku mendapatkan rumah sakit rujukan yang terletak di kawasan Wonokromo.

Di rumah sakit rujukan inilah semua diagnosa dari dokter jaga di Rumah Sakit MKS terbantahkan.

Di rumah sakit rujukan inilah ibuku dinyatakan bukan pasien Lebih Dari PDP, apalagi positif Covid-19. Sehingga ibu yang sempat dimasukkan ruang isolasi, akhirnya dibawa ke ruang IGD seperti halnya pasien umum.

Meski tim medis di rumah sakit rujukan ini sudah bekerja keras menangani ibuku, tetapi takdir dari Allah sudah menjemput ibuku. Ibuku menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit ini, tepat pukul 04.45 Wib, Sabtu (28/3/2020).

Setelah mengurus semua administrasi di rumah sakit, jenazah ibuku akhirnya kami bawa pulang dan dimakamkan dengan cara wajar, seperti umumnya umat muslim yang meninggal dunia. (Bersambung)

 

Penulis adalah wartawan jatimnow.com

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top