Pixel Code jatimnow.com

Edarkan Sabu di Kediri, Dua Pria ini Disergap BNN

Editor : Sandhi Nurhartanto   Reporter : Bramanta Pamungkas
Kedua tersangka pengedar sabu ditangkap BNN Kediri
Kedua tersangka pengedar sabu ditangkap BNN Kediri

jatimnow.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kediri menangkap dua pengedar narkotika jenis sabu. Kedua tersangka ini adalah AD (19) dan SG (24) warga Kabupaten Mojokerto.

Dari keduanya, petugas mengamankan barang bukti berupa dua paket sabu dengan berat dua gram. Hingga saat ini pihak BNN Kediri masih melakukan pengembangan untuk menangkap bandar yang memasok sabu kepada kedua tersangka.

Kepala BNN Kabupaten Kediri, AKBP Lilik Dewi menuturkan penangkapan kedua pengedar ini berawal saat petugas menangkap AD. Pria yang sehari hari bekerja sebagai sopir ini ditangkap saat bertransaksi di daerah Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Petugas mengamankan sebuah paket sabu serta pipet yang disembunyikan dalam sebuah bungkus rokok.

"Pengedar ini mengendarai motor dari Mojokerto ke Kediri untuk bertransaksi," ujarnya, Selasa (19/3/2019).

Dari hasil pemeriksaan petugas, AD mengaku mendapatkan barang dari SG. Petugas kemudian langsung melakukan penangkapan terhadap SG. Dari tangan SG petugas mengamankan barang bukti berupa satu paket sabu siap jual. Keduanya merupakan pengedar yang selama ini meresahkan masyarakat.

Baca juga:
Sepanjang Tahun 2025, BNN Tulungagung Catat Kinerja Tinggi P4GN

"Jadi keduanya adalah pengedar lintas kota," imbuhnya.

BNN Kediri masih melakukan pengembangan lagi terhadap hasil penangkapan ini untuk menangkap bandar yang memasok sabu ke tersangka. Akibat perbuatannya kedua tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat (1) subsider pasal ayat (1) UU no 35 tahun 2009 dengan ancaman penjara selama 20 tahun.

Baca juga:
Buronan Narkoba Kelas Kakap Tertangkap, Ansor: Bongkar Jaringan Besar

 

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam