Pixel Code jatimnow.com

Cerita Uung Victoria Finky Arungi Laut 14 Jam demi Ibu Menyusui

Editor : Dadang Kurnia   Reporter : Ali Masduki
Uung Victoria Finky memberikan edukasi teknik menyusui kepada seorang ibu di Pulau Kangean melalui praktik langsung menggunakan alat peraga. (Foto: Mom Uung for jatimnow.com)
Uung Victoria Finky memberikan edukasi teknik menyusui kepada seorang ibu di Pulau Kangean melalui praktik langsung menggunakan alat peraga. (Foto: Mom Uung for jatimnow.com)

jatimnow.com - Gema gerakan sosial #BersamaMomUung akhirnya mendarat di pesisir Pulau Kangean, wilayah paling timur Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Uung Victoria Finky, sosok di balik jenama pendukung ibu menyusui tersebut, membawa misi besar. Yakni membedah problem nutrisi anak di daerah yang selama puluhan tahun terkendala akses informasi kesehatan.

Langkah Uung bukan sekadar agenda bisnis. Sebagai ibu tiga anak, perjalanan 14 jam mengarungi laut menuju pulau tersebut menjadi ziarah personal.

Ia mengingat betul betapa rapuhnya mental seorang ibu saat menghadapi fase menyusui sendirian tanpa dukungan sistem yang memadai.

"Menyusui sering kali terasa sunyi. Ada rasa lelah dan cemas yang sulit diceritakan. Ibu-ibu di pelosok butuh lebih dari sekadar teori; mereka perlu dirangkul dan didengar," tutur Uung saat memulai agenda edukasi pada akhir April 2026.

Bersama tim medis dari CHeNECE Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Founder Mom Uung itu menyisir pemukiman warga melalui metode home visit.

Di sana, kenyataan pahit ditemukan. dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A., mencatat grafik tumbuh kembang anak di wilayah kepulauan tersebut masih didominasi kasus gizi kurang atau stunting.

Baca juga:
Uung Victoria Finky: Perawatan Rambut Anak Tak Harus di Salon Konvensional

Penyebabnya bukan semata-mata kemiskinan, melainkan pola asuh yang keliru. dr. Ikhsanuddin Qoth’i menemukan praktik pemberian air tajin sebagai pengganti air susu ibu masih lumrah di kalangan warga lokal. Mitos bahwa ASI tidak lancar menjadi alasan utama para ibu menyerah pada nutrisi alami.

"Masalahnya bukan soal kuantitas susu, tapi keyakinan hati. Ketenangan ibu menentukan kelancaran ASI. Jika mereka didampingi dan merasa aman, proses nutrisi alami tersebut pasti berjalan," jelas dr. Ikhsan saat memberikan bimbingan teknik laktasi kepada warga.

Selama di Kangean, tim konselor laktasi melakukan praktik langsung. Mereka mengajarkan teknik perlekatan hingga manajemen MPASI sesuai usia anak. Antusiasme terlihat jelas saat puluhan ibu berkumpul, menyimak setiap instruksi medis dengan saksama.

Uung memandang fenomena tersebut sebagai bukti nyata bahwa semangat para ibu di pelosok sangat tinggi, hanya saja sarana informasinya yang tersumbat.

Baca juga:
Founder Moell Tempuh 15 Jam ke Pulau Mamburit Demi Kesehatan Anak

Baginya, turun langsung ke lapangan merupakan satu-satunya cara memastikan kampanye kesehatan tidak berhenti menjadi slogan di media sosial, namun menjadi solusi konkret di dapur-dapur rumah warga.

Edukasi mendalam dan pendampingan laktasi ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi masyarakat Kangean agar anak-anak mereka tumbuh sehat tanpa bayang-bayang stunting.

Misi di ujung timur Madura tersebut barulah permulaan dari peta panjang gerakan sosial yang ingin menyasar lebih banyak wilayah terisolasi di Indonesia.