jatimnow.com - Semangat Raden Ajeng Kartini hidup dalam keseharian banyak perempuan, termasuk Cessil Yananda (33). Warga Surabaya ini membuktikan bahwa perempuan bisa mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan peran di keluarga.
Cessil mengelola bisnis kecantikan sebagai pemilik GC Salon Hair and Beauty di kawasan PTC Pakuwon Trade Center.
Di tengah kesibukan sebagai pengusaha, ia tetap menjaga ritme kehidupan rumah tangga, membagi waktu antara pekerjaan, komunitas, dan keluarga.
Baginya, makna Kartini masa kini bukan sekadar soal kemandirian, tetapi juga keseimbangan.
“Kami ingin tetap bahagia, punya ruang untuk diri sendiri, tanpa melupakan keluarga. Hari kerja untuk aktivitas masing-masing, akhir pekan kami khususkan untuk keluarga,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Sejak remaja, Cessil sudah terbiasa bekerja. Ia membantu orang tua berjualan obat dari apotek sejak usia 16 tahun.
Pengalaman itu membentuk kemandiriannya. Ia sempat menjajal dunia modeling dan masuk 10 besar, namun memilih berhenti mengikuti keinginan keluarga.
Perjalanan kariernya berlanjut ke dunia penjualan mobil. Di sana, ia belajar berkomunikasi dan memahami strategi pemasaran.
Setelah menikah, ia ikut mengelola keuangan usaha keluarga sebelum akhirnya membangun bisnis sendiri.
Kini, selain salon, Cessil juga menjalankan usaha biliar bersama mitra. Meski memiliki tim, ia tetap turun langsung memastikan operasional berjalan baik.
“Walaupun sudah ada tim, saya tetap terlibat supaya kualitas tetap terjaga,” katanya.
Di luar bisnis, Cessil aktif dalam berbagai komunitas. Ia rutin mengikuti olahraga Zumba bersama Happy Zumba Community dan tergabung dalam Lions Clubs International District 307 B2 Indonesia. Aktivitas ini menjadi ruang baginya untuk bersosialisasi sekaligus menjaga kesehatan.
“Pertemanan kami bukan hanya soal olahraga. Kami saling mendukung dalam kehidupan, bahkan dalam bisnis,” ujarnya.
Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan charity. Lingkar pertemanannya dibangun dengan semangat saling menguatkan, bukan sekadar berkumpul tanpa arah.
“Kami lebih memilih kegiatan yang positif, seperti olahraga, charity, atau event bersama. Hal-hal negatif seperti gosip kami hindari,” jelasnya.
Meski memiliki banyak aktivitas, Cessil tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ia percaya peran sebagai ibu dan istri tidak bisa tergantikan.
“Keluarga tetap nomor satu. Tapi perempuan juga butuh ruang untuk berkembang,” tuturnya.
Cessil berharap semangat Kartini terus hidup dalam keseharian perempuan Indonesia. Bukan hanya dalam simbol, tetapi dalam tindakan nyata, berani berkembang, tetap menjaga nilai, dan saling mendukung.
“Bahagia sekarang terasa mahal. Karena itu, kami memilih cara-cara positif untuk mencapainya, tanpa keluar dari batas,” pungkasnya.
URL : https://jatimnow.com/baca-83932-kisah-cessil-perempuan-surabaya-menafsir-kartini-masa-kini