Refleksi Antropologi Sistem

Menggugat Kebenaran Agama

Senin, 13 Apr 2026 10:04 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Ketua Dewan Penasehat Ksatria Merah Jambu Foundation, Mayjen TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi. (Foto/Dokumentasi Pribadi)

jatimnow.com - Agama dan budaya tak pernah lepas dari kehidupan manusia. Keduanya terus hadir dalam setiap zaman, saling berkelindan dalam membentuk cara hidup yang bermartabat. Agama membawa misi keselamatan, sementara budaya menjadi syarat dasar yang memungkinkan manusia hidup sebagai manusia.

Dalam kehidupan modern, relasi antara agama, budaya, dan realitas sosial menjadi semakin menentukan. Cara manusia memaknai ajaran agama sangat dipengaruhi oleh konteks budaya tempat ia hidup. Dari sanalah kualitas peradaban dibentuk.

Kekeliruan yang Terus Diulang

Baca juga: Mahasiswa FIK Ubaya Sabet Tiga Gelar di Asian Student Fashion Week 2026

Beragam peristiwa menunjukkan bagaimana manusia kerap terjebak dalam pemahaman sempit atas agama. Keyakinan yang seharusnya membebaskan justru berubah menjadi belenggu.

Akar persoalan terletak pada kegagalan memahami teks dalam konteksnya. Banyak ajaran agama disampaikan melalui simbol dan perumpamaan. Tanpa pemahaman yang utuh, pesan tersebut mudah disalahartikan.

Akibatnya, firman Tuhan diperlakukan seperti kisah atau syair, bukan sebagai pedoman hidup. Masalah utama bukan terletak pada teks kitab suci, melainkan pada cara manusia memaknai isinya.

Di titik itu, refleksi antropologi sistem menjadi penting. Pendekatan tersebut mengajak untuk menelusuri persoalan hingga ke lapisan terdalam kehidupan manusia dan masyarakat.

Pemahaman agama perlu berjalan seiring dengan pembacaan kritis terhadap realitas budaya—baik yang ada (das Sein) maupun yang seharusnya (das Sollen).

Filsuf Plato menggambarkan manusia sebagai teks yang sulit dibaca. Untuk memahaminya, dibutuhkan pendekatan yang kritis sekaligus spesifik.

Ia mengibaratkan teks kehidupan ditulis dengan huruf sangat kecil, sehingga perlu “diperbesar” agar dapat dipahami dengan jernih.

Pendekatan itu menuntut penggunaan “alat bantu”—baik berupa ilmu pengetahuan maupun kesadaran kritis—agar makna yang tersembunyi dapat ditangkap secara tepat. Dengan cara tersebut, ajaran agama dapat hadir sebagai petunjuk nyata dalam membangun akhlak.

Agama, Konflik, dan Realitas Sosial

Dalam praktiknya, sentimen SARA masih kerap muncul di berbagai tempat. Konflik global seperti Palestina–Israel hingga ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menunjukkan bahwa agama sering diseret ke dalam pusaran konflik.

Ironisnya, kekerasan tersebut kerap dianggap sebagai bagian dari ajaran agama. Padahal, tafsir yang keliru justru menjauhkan agama dari tujuan utamanya: menjaga kehidupan.

Manusia dan Budaya Tak Terpisahkan

Budaya merupakan seperangkat nilai dan aturan yang membentuk perilaku masyarakat. Ia mencakup sejarah, bahasa, mitos, religi, hingga teknologi yang berkembang dalam rentang waktu tertentu.

Agama tidak hadir untuk menghapus budaya, apalagi menggantinya dengan budaya lain. Tantangan terbesar para pemuka agama saat ini adalah menemukan titik temu antara ajaran agama dan realitas budaya masyarakat.

Baca juga: Menjelajahi Bhutan, Destinasi Spiritual yang Menghidupkan Tradisi Kuno

Pertemuan keduanya tidak berhenti pada gagasan, tetapi harus tercermin dalam tindakan. Keselarasan antara kata dan perbuatan menjadi ukuran nyata keberhasilan nilai agama dalam kehidupan sosial.

\

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, penerapan nilai agama hanya dapat berjalan melalui aturan kenegaraan—mulai dari konstitusi hingga regulasi turunannya.

Perubahan Cara Pandang

Pendekatan antropologi sistem mendorong perubahan cara berpikir yang lebih mendasar. Manusia diajak melihat realitas secara utuh, tidak terjebak pada tafsir sempit yang terpisah dari konteks sosial.

Dengan cara pandang baru, ajaran agama dapat dipahami secara lebih relevan terhadap perkembangan zaman. Hal tersebut penting, terutama dalam menghadapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Contoh konkret terlihat dalam penafsiran istilah dalam kitab suci. Pemaknaan harus merujuk pada konteks awal kemunculannya (asbabun nuzul), bukan semata pada pengertian modern.

Istilah seperti Yahudi, Israel, atau Nasrani memiliki makna historis yang tidak selalu identik dengan pemahaman saat ini. Tanpa pemahaman konteks, tafsir dapat melenceng dan memicu kesalahpahaman.

Agama dan Negara dalam Sejarah

Sejarah menunjukkan bahwa pada masa awal perkembangan agama, konsep negara-bangsa belum dikenal. Struktur negara modern baru muncul pada abad ke-17 melalui gagasan kontrak sosial yang dikemukakan oleh John Locke dan Thomas Hobbes.

Baca juga: Meimura Ajak Seniman Lokal Berkolaborasi dalam Tur Besutan Jatim

Karena itu, penerapan ajaran agama dalam sistem negara modern membutuhkan penyesuaian dengan konteks kekinian. Tanpa itu, potensi benturan akan terus muncul.

Di Indonesia, persoalan tersebut terlihat dalam praktik demokrasi yang kerap tidak konsisten. Sistem presidensial berjalan berdampingan dengan praktik parlementer, sehingga melahirkan kompromi politik dalam bentuk koalisi.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kajian lebih mendalam, tidak hanya dalam bidang politik, tetapi juga ekonomi dan aspek kehidupan lainnya.

Menuju Agama yang Membebaskan

Tujuan utama agama adalah membawa kebaikan bagi manusia dan alam. Namun dalam banyak kasus, tafsir yang keliru justru menjadikan agama sebagai sumber konflik.

Karena itu, pembaruan cara pandang menjadi kebutuhan mendesak. Agama perlu dipahami secara kontekstual, berpijak pada realitas budaya, serta selaras dengan sistem kehidupan modern.

Dengan pendekatan tersebut, agama dapat kembali pada perannya sebagai sumber nilai yang menuntun manusia menuju kehidupan yang adil, damai, dan bermartabat.

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi
Ketua Dewan Penasehat Ksatria Merah Jambu Foundation

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler