jatimnow.com - Mengatur jadwal minum obat saat Ramadan bukan sekadar memindahkan jam konsumsi ke waktu sahur atau berbuka. Kesalahan dalam memilih menu makanan pendamping ternyata berisiko melenyapkan khasiat obat hingga memicu iritasi organ dalam.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (FF Ubaya), apt. Steven Victoria Halim, M.Farm., mengungkapkan bahwa penyerapan zat aktif dalam tubuh sangat bergantung pada apa yang masuk ke lambung.
Selama berpuasa, tubuh mengalami penyesuaian metabolisme yang membuat interaksi antara makanan dan obat menjadi lebih sensitif.
Baca juga: Melihat Aktivitas Ibadah Warga Binaan Lapas Malang di Bulan Ramadan
"Ada beberapa jenis makanan yang wajib dijauhi agar obat terserap maksimal. Makanan tinggi lemak seperti gorengan, santan kental, dan jeroan itu menghambat penyerapan obat di usus karena memperlambat pengosongan lambung," ujar Steven saat ditemui di Surabaya, Selasa (24/2/2026).
Selain lemak, Steven mengingatkan pasien untuk menjauhi kombinasi makanan pedas dan asam saat mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Sambal, acar, atau minuman asam justru melipatgandakan risiko luka pada lambung jika bertemu dengan obat yang memiliki efek samping serupa.
Bagi mereka yang rutin mengonsumsi antibiotik atau obat-obatan tertentu, produk olahan susu seperti keju dan yoghurt juga perlu diwaspadai.
Kandungan kalsium di dalamnya memiliki sifat mengikat zat aktif obat, sehingga tubuh gagal menyerap manfaat medis yang seharusnya diterima.
"Minuman berkafein seperti kopi dan teh kental juga punya dampak buruk. Selain memicu asam lambung, kafein bersifat diuretik yang membuat orang lebih sering buang air kecil. Ini memicu dehidrasi yang secara tidak langsung mengganggu distribusi obat dalam darah," tambahnya.
Menu Pendukung Efektivitas Obat
Baca juga: Operasi Pasar Murah Ramadan Diskoperindag Lamongan Diserbu Warga
Agar pengobatan tetap berjalan sesuai rencana medis, Steven menyarankan masyarakat beralih ke karbohidrat kompleks dan protein tinggi.
Telur, ikan, ayam, serta tempe dinilai mampu menjaga rasa kenyang lebih lama sekaligus memberikan energi stabil bagi tubuh yang sedang dalam masa penyembuhan.
Kurma menjadi rekomendasi utama untuk mencegah lonjakan gula darah yang drastis, terutama bagi pengidap diabetes yang sedang menjalani terapi obat penurun gula.
Serat dan mineral dalam kurma membantu tubuh mengelola energi secara bertahap tanpa mengganggu kinerja obat.
Jangan Ubah Dosis Sendirian
Baca juga: ASN di Tulungagung Pulang Lebih Awal Selama Bulan Ramadan
Kompleksitas jeda waktu minum obat, terutama antibiotik yang membutuhkan interval ketat, seringkali membuat masyarakat bingung saat berpuasa. Steven dengan tegas melarang pasien mengubah jadwal atau menghentikan dosis secara mandiri.
"Konsultasikan ke dokter atau apoteker untuk menyesuaikan jadwal dosis yang paling aman. Mengubah aturan pakai tanpa pengawasan ahli sangat membahayakan kesehatan," kata Steven yang juga aktif di Pusat Informasi Obat dan Layanan Kefarmasian (PIOLK) Ubaya.
Bagi masyarakat yang membutuhkan panduan lebih lanjut, PIOLK Ubaya membuka layanan konsultasi obat secara gratis.
Langkah ini diharapkan mampu membantu warga tetap menjalankan ibadah puasa tanpa harus mengorbankan proses penyembuhan penyakit kronis maupun akut.