Love Scamming, Cinta Sehat Tak Pernah Jahat

Selasa, 24 Feb 2026 15:46 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo Surabaya. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Orang yang sudah berumur, sebutlah lansia, bukan berarti tak lagi mengenal cinta. Mereka bisa jatuh cinta juga, bahkan drama percintaannya terkadang melebihi drama percintaan anak muda.

Tetapi hati-hati, cinta di usia lansia bisa juga mendatangkan perkara. Alih-alih bahagia, dompet dan tabungan kita taruhannya.

Cinta bisa berawal dari rasa kesepian dan ingin mencari teman. Sedikit perhatian yang didapat dari orang lain bisa menimbulkan ‘baper’. Dan oma-opa bisa jadi tak kenal ghosting; semua serba serius, sehingga patah hatinya juga serius.

Baca juga: Dinkes Trenggalek Buka Layanan Fisioterapi Keliling Gratis Pasien Lansia

Pada September 2025, seorang wanita lansia berusia 80 tahun di Hokkaido tertipu oleh laki-laki yang menyamar sebagai astronot Rusia yang terdampar di luar angkasa dan membutuhkan uang untuk "biaya pulang ke Bumi".

Sang astronot selalu meminta transferan uang untuk beli oksigen dan membayar kapal ke Bumi, guna menemuinya dan hidup bahagia selama-lamanya.

Tapi ujung-ujungnya, lansia ini melapor ke polisi karena tersadar betapa banyaknya uang yang sudah dia transfer dan janji astronot tidak pernah ditepati.

Love scamming, penipuan berkedok asmara adalah kejahatan yang memanfaatkan emosi paling manusiawi, yaitu kebutuhan dicintai dan didengar.

Beberapa tahun ini, love scamming banyak terjadi di Indonesia, khususnya pada kelompok perempuan. Love scamming terjadi bukan hanya karena literasi digital yang minim, tetapi mereka juga tidak mendapatkan literasi keuangan.

Terlebih lagi, dampak psikologisnya sangat membuat trauma dan rasa malu yang mendalam. Dalam banyak kasus yang diberitakan, kerugian korban bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah, bahkan lebih, karena transfer dilakukan bertahap dan korban sering meminjam atau menguras tabungan demi membantu orang yang dicintai.

Baca juga: Bank Mandiri Taspen Permudah Lansia Miliki Mobil Impian dengan DP 0 Persen

“Awalnya cuma chat.” Kalimat itu sering muncul ketika korban menceritakan ulang bagaimana penipuan berkedok asmara bermula. Pelaku tampil sabar, perhatian, dan konsisten; seperti mengirim pesan tiap pagi, menanyakan kabar, mengingatkan makan obat, bahkan mengucap doa.

\

Bagi sebagian lansia yang kesepian, baru kehilangan pasangan, atau jarang mendapat dukungan emosional, rangkaian perhatian itu terasa seperti “hadiah” yang sudah lama hilang.

Masalahnya, di belakang layar, “cinta” itu sering kali hanyalah strategi. Dan ujungnya nyaris selalu sama: permintaan uang, transfer bertahap, dan kerugian finansial di pihak lansia.

Untuk mencegah love scamming, perlu pendekatan manusiawi; bukan menggurui, bukan menyalahkan, melainkan membangun kebiasaan verifikasi dan pagar finansial yang sederhana.

Baca juga: Mahasiswa Surabaya Ciptakan Sepeda Listrik Roda Tiga, Cocok untuk Lansia

Jika kita ingin melindungi lansia, kuncinya ada pada dua hal: ruang aman untuk bercerita dan literasi praktis yang bisa dipakai hari ini.

Sebab di dunia digital, perhatian bisa dipalsukan, tetapi tabungan dan masa tua yang aman tidak boleh jadi taruhannya.

Sebagai keluarga ataupun anak, sudahkah kita menyediakan waktu untuk mendengarkan lansia kita bercerita?

Oleh: Yuli Zulaikha
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Dr. Soetomo

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler