Gen Z Ogah Jadi Bos, Perusahaan Terancam Krisis Kepemimpinan

Kamis, 19 Feb 2026 21:32 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Riset tunjukkan Gen Z mulai hindari posisi manajer. Pakar Manajemen Ubaya ingatkan risiko krisis kepemimpinan dan burnout bagi perusahaan. (Foto: Ilustrasi/Gemini)

jatimnow.com - Dunia kerja global tengah menghadapi pergeseran paradigma yang cukup ekstrem. Generasi Z kini cenderung menjauhi kursi manajerial, sebuah fenomena yang dikenal sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management.

Tren ini tidak lagi sekadar obrolan di media sosial, melainkan realitas yang mulai mengguncang struktur organisasi perusahaan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin, menilai bagi anak muda zaman sekarang, jabatan tinggi bukan lagi simbol prestasi.

Baca juga: Lawan Isolasi Sosial Digital, Pelajar NU Jabon Kembalikan Gen-Z ke Ruang Nyata

Mereka melihat posisi manajer sebagai beban kerja yang tidak sepadan dengan kompensasi yang diterima.

"Jabatan manajerial bagi Gen Z justru dianggap beban yang timpang dengan imbalannya," tutur Elsye saat membedah fenomena tersebut.

Jika tren ini dibiarkan, perusahaan bakal menanggung risiko besar dalam jangka pendek maupun panjang.

Elsye memprediksi akan terjadi kekosongan kepemimpinan serta lonjakan angka pengunduran diri (turnover) pada level manajer menengah.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi ini bisa memicu krisis suksesi di level eksekutif. Secara finansial, kas perusahaan berpotensi terkuras hanya untuk biaya rekrutmen eksternal dan pelatihan ulang demi menambal lubang yang ditinggalkan para talenta muda.

Baca juga: Sindiran BEM SI Jatim: Sumbang BoP Rp17 T, Siswa Bundir Tak Mampu Beli Buku

"Inovasi organisasi bisa merosot karena tidak ada 'jembatan' yang menghubungkan visi strategis pimpinan dengan eksekusi teknis di lapangan," tambahnya.

\

Efek dominonya pun merembet ke lingkungan kerja. Manajer senior terpaksa memikul beban ganda yang berujung pada kelelahan mental atau burnout. Jika fondasi manajerial ini rapuh, keberlangsungan perusahaan berada dalam pertaruhan besar.

Menanggapi sikap apatis Gen Z terhadap promosi jabatan, Elsye menyarankan perusahaan mulai mengadopsi pendekatan Individual Contributor (IC). Skema ini memungkinkan karyawan mendapatkan apresiasi yang setara tanpa harus dibebani tugas struktural.

"Jangan paksa karyawan kompeten naik jabatan hanya supaya mereka bisa dapat gaji lebih tinggi. Sebaiknya, terapkan sistem kompensasi berdasarkan kinerja dan kontribusi nyata," tegas Kepala Laboratorium Manajemen SDM Ubaya tersebut.

Baca juga: Gen Z Jatim Desak DPRD Susun Perda Plastik Sekali Pakai

Selain itu, karena Gen Z sangat alergi dengan urusan administratif yang berbelit, otomatisasi teknologi menjadi harga mati untuk menyederhanakan alur kerja mereka.

Transformasi di level pimpinan puncak juga mutlak diperlukan. Elsye menyarankan para petinggi perusahaan untuk mengubah gaya kepemimpinan dari sosok pengawas menjadi fasilitator yang penuh empati. Pemimpin yang terbuka dianggap lebih mampu memancing kreativitas dan inovasi karyawan muda.

"Bangun komunikasi dua arah. Gen Z tidak mau sekadar diperintah, mereka ingin didengar. Motivasi mereka akan melonjak saat merasa pendapatnya dianggap relevan oleh pimpinan," pungkasnya.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler