jatimnow.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kian agresif memantapkan posisinya di panggung internasional.
Melalui kunjungan kehormatan Duta Besar Swedia untuk Indonesia, HE Daniel Blockert, kampus teknologi di Surabaya ini menjajaki perluasan kerja sama strategis yang mencakup akses karier bagi alumni di perusahaan teknologi asal negeri Nordik tersebut.
Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan upaya memperdalam kemitraan yang sudah lama terjalin dengan institusi bergengsi seperti KTH Royal Institute of Technology dan Stockholm School of Economics.
Baca juga: Alumnus ITS Jadi Profesor di Inggris, Gunakan Digital Twins Selamatkan Nyawa
Salah satu poin utama dalam pertemuan di Gedung Rektorat tersebut adalah penguatan International Undergraduate Program (IUP) dan skema gelar ganda (double degree).
Program tersebut dirancang untuk memberikan kompetensi global sekaligus membuka jalur profesional bagi mahasiswa ITS di pasar kerja Eropa.
"Kami ingin membuka lebih banyak jalur pengalaman internasional bagi mahasiswa dan alumni. Kemitraan ini mencakup peluang karier langsung di industri teknologi Swedia," kata Prof. Bambang, melalui siaran pers, Jumat (13/2/2026).
Tak hanya mengirim talenta ke luar negeri, ITS juga proaktif menarik minat mahasiswa Swedia melalui program pertukaran dan magang jangka pendek di Indonesia.
Baca juga: Doktor ITS Kembangkan AI Deteksi Mental Health Lewat Jejak Digital
Interaksi dua arah ini diharapkan mampu menciptakan iklim pendidikan yang inklusif dan berkualitas tinggi.
Duta Besar Daniel Blockert mengakui bahwa ITS merupakan salah satu mitra paling aktif bagi universitas-universitas di negaranya.
Ia mencatat adanya tren kenaikan minat mahasiswa Swedia untuk menimba ilmu di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Delegasi 13 Negara Ulik Inovasi Limbah Batik di SMP YPPI 1 Surabaya
"Kolaborasi dengan ITS menunjukkan perkembangan yang sangat kuat. Kami akan mendorong pertemuan lanjutan untuk memperdalam kerja sama riset dan pendidikan secara konkret," ungkap Daniel.
Langkah ini selaras dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) terkait pendidikan berkualitas dan kemitraan global.
Sinergi lintas negara ini diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga mempercepat pengembangan sumber daya manusia yang siap bersaing di level internasional.