Delegasi 13 Negara Ulik Inovasi Limbah Batik di SMP YPPI 1 Surabaya

Kamis, 12 Feb 2026 19:13 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Siswa SMP YPPI 1 Surabaya (tengah) saat mendemonstrasikan cara pembuatan minuman tradisional sinom kepada para peserta CommTECH Camp 2026. (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)

jatimnow.com - Puluhan mahasiswa dari berbagai belahan dunia berkumpul di selasar SMP YPPI 1 Surabaya, Kamis (12/2). Bukan untuk studi banding biasa, 43 peserta internasional dari 13 negara ini sedang membedah rahasia di balik konsep Sustainable Community yang digagas Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Melalui program CommTECH Camp 2026, para delegasi asal Jepang, Rusia, Kanada, hingga Filipina ini melihat langsung bagaimana isu global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) mendarat di level sekolah menengah.

Menariknya, mereka tidak hanya duduk mendengarkan teori, melainkan langsung terjun ke dapur produksi hingga bengkel kriya.

Baca juga: Alumnus ITS Jadi Profesor di Inggris, Gunakan Digital Twins Selamatkan Nyawa

Manager for CommTECH and Short Program ITS, Muh Wahyu Islami Pratama, menyatakan bahwa agenda ini dirancang sebagai ruang tukar pikiran yang nyata.

Menurutnya, peserta dan siswa punya kesempatan emas untuk saling menggali peran komunitas dalam menjaga ekosistem lingkungan agar tetap berumur panjang.

"Kami ingin mengenalkan bagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan bisa hidup di tengah masyarakat sekolah," ujar pria yang akrab disapa Wahyu tersebut.

Para peserta mengikuti tiga sesi lokakarya yang cukup kontras namun saling beririsan. Mereka belajar mengolah kuliner khas lokal, mencanting batik tulis, hingga mengukir motif nusantara menggunakan solder.

Di balik estetika kain batik yang mereka buat, ada teknologi lingkungan yang diselipkan para siswa.

Baca juga: Doktor ITS Kembangkan AI Deteksi Mental Health Lewat Jejak Digital

Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Titris Hariyanti Utami, memaparkan bahwa kurikulum sekolahnya memang mewajibkan siswa peka terhadap sisa produksi.

\

"Kami tidak membuang limbah begitu saja. Sisa lilin dari proses membatik diolah kembali menjadi lilin aromaterapi. Bahkan air bekas pencucian kain kami netralisir pH-nya secara alami sebelum dialirkan ke saluran pembuangan," kata Titris.

Pendekatan praktis ini menuai pujian dari Malissa Hartzenberg, mahasiswa University of the Fraser Valley, Kanada.

Sebagai mahasiswa teknik, Malissa mengaku terkejut melihat bagaimana nilai-nilai tradisi bisa bersinergi dengan pengelolaan lingkungan yang cerdas.

Baca juga: ITS Buka Jalur Karier ke Swedia, Gandeng Kampus Top Dunia Perkuat IUP

"Sangat unik melihat elemen budaya berjalan selaras dengan inovasi teknologi. Cara penyampaian lewat lokakarya ini membuat konsep pembangunan berkelanjutan jadi jauh lebih mudah dipahami," ungkap Malissa.

Langkah ITS melalui CommTECH Camp ini menjadi bukti nyata dukungan kampus terhadap pendidikan berkualitas dan kemitraan global.

Kegiatan tersebut menyasar poin-poin utama SDGs, mulai dari pengelolaan kota yang berkelanjutan hingga pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler