Anak SD di NTT Nekat Akhiri Hidup, Pakar UNAIR Desak Evaluasi Sosial

Kamis, 05 Feb 2026 18:15 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Bagong Suyanto. (Foto: Humas Unair/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kematian tragis YBR, bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu keprihatinan mendalam dari kalangan akademisi.

Siswa kelas IV SD tersebut ditemukan tak bernyawa di sebuah pohon cengkeh pada akhir Januari lalu, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai sinyal darurat bagi kesehatan mental anak di daerah pelosok.

Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Bagong Suyanto, menilai tragedi ini merupakan akumulasi dari tekanan ekonomi dan minimnya sistem pendukung (support system) di lingkungan pedesaan.

Baca juga: Sentuhan Estetik JIVVA, Pakaian Olahraga Lokal yang Berdayakan Penjahit Daerah

YBR yang dikenal pendiam, tinggal di pondok bambu sempit bersama neneknya sejak balita, sementara ayahnya merantau ke Kalimantan tanpa kabar selama satu dekade.

"Kondisi ekonomi yang sulit adalah faktor nyata yang menggerus kesejahteraan mental anak. Saat kebutuhan dasar sulit terpenuhi, anak-anak sering kali menyerap stres dan kecemasan orang dewasa di sekitarnya," ujar Prof Bagong.

Menurutnya, anak-anak di wilayah terpencil kerap kali luput dari pantauan psikologis karena akses layanan yang terbatas. Isolasi geografis dan sosial membuat mereka tidak memiliki ruang untuk mengadukan beban emosional yang mereka pikul.

Baca juga: Negara Setop Biaya Visum, Korban Kekerasan Seksual Kian Terhimpit

Prof Bagong menyebut peran keluarga dan warga sekitar sangat krusial dalam mendeteksi perubahan perilaku anak.

\

Ia melihat ada celah besar dalam penanganan kesehatan mental di tingkat akar rumput, terutama bagi anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua lengkap.

"Anak yang tinggal di daerah pelosok sering dianggap tangguh secara alami, padahal mereka mungkin merasa terisolasi tanpa dukungan memadai. Kesehatan mental mereka harus mulai dijadikan prioritas, bukan lagi isu sampingan," tegasnya.

Baca juga: Hebat! Mahasiswa UNAIR Ini Tempuh S3 Sains Veteriner di Usia 22 Tahun

Sebagai solusi jangka panjang, Prof Bagong mendorong pemerintah untuk membangun community support system melalui lembaga sosial lokal.

Jaringan ini diharapkan mampu menjangkau tiap keluarga di wilayah terpencil guna memberikan intervensi emosional sebelum terlambat.

Tragedi anak di NTT ini menjadi pengingat pahit bahwa kemiskinan bukan hanya soal urusan perut, melainkan juga ancaman serius bagi ketahanan jiwa generasi muda Indonesia.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler