jatimnow.com - Dunia pendidikan Islam dan keluarga besar Lembaga Pengajaran Bahasa Arab Masjid Agung Sunan Ampel (LPBA MASA) Surabaya berduka. Ustadz Ali Tsauri bin KH. Abdul Djalil, ulama sekaligus pendidik bahasa Arab, wafat pada Selasa, 15 September 2026, selepas Ashar.
Ustadz Ali Tsauri dikenal luas di kalangan murid dan alumni LPBA MASA sebagai pengajar yang memiliki penguasaan mendalam terhadap bahasa Arab. Ia juga pernah dipercaya menjadi Wakil Mudir Bidang Kurikulum mendampingi Mudir LPBA MASA, Ustadz Saifullah Azhari.
Putra KH. Abdul Djalil asal Tembelang, Jombang, itu lahir di Jombang pada 24 Februari 1948. Ia wafat dalam usia 78 tahun.
Salah satu murid LPBA MASA, Mochammad Fuad Nadjib, mengenang Ustadz Ali Tsauri sebagai sosok yang tidak hanya mengajarkan bahasa Arab di ruang kelas, tetapi juga mendorong murid memperluas wawasan keilmuan di luar pelajaran wajib.
Dalam perjalanan pendidikannya, Ustadz Ali Tsauri sempat menempuh studi magister di Universitas Al-Azhar, Mesir. Namun, atas dawuh gurunya, ia memilih kembali ke Indonesia meski belum menyelesaikan ujian akhir.
Tesisnya disebut telah rampung. Namun, keputusan untuk pulang ke Tanah Air membuat perjalanan akademiknya di Al-Azhar berhenti sebelum ujian akhir.
Sepulang dari Mesir, pengabdian Ustadz Ali Tsauri semakin dekat dengan dunia pendidikan Islam, termasuk melalui LPBA MASA.
Ia mengawali kegiatan mengajar di tingkat Mustawa Tsalis. Sejumlah disiplin ilmu bahasa Arab diajarkannya, mulai dari Ilmu 'Arudh, Muhadatsah, Ta'bir hingga Muthala'ah.
Kedalaman pengetahuan Ustadz Ali Tsauri menjadi salah satu hal yang paling diingat para murid. Ia juga dikenal tidak segan memberikan tambahan pelajaran di luar jadwal resmi.
Para santri bahkan diwajibkan menghafalkan sejumlah syair dan karya klasik. Di antaranya Hikam wan Nashoih karya Imam Syafi'i, Qashidah Hamziyyah karya Imam Al-Bushiri, serta Hikam Mihyar Ad-Dailami.
Setiap Ramadan, Ustadz Ali Tsauri juga rutin menggelar Dars Idhafi. Forum tambahan itu menjadi ruang bagi para murid untuk memperluas wawasan sekaligus mendalami tema-tema keislaman.
Salah satu materi yang pernah dibahasnya adalah hubungan antara Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar.
Materi itu kemudian menjadi salah satu pemantik bagi Fuad Nadjib untuk mengembangkan gagasan hingga melahirkan karya tulis berjudul Goresan Tinta Ramadlan yang terbit pada 2025.
Baca juga:
Menyingkap Isyarat Langit di Balik Jalan Sunyi Sang Pewaris Ampel Denta
Kecintaan Ustadz Ali Tsauri terhadap LPBA MASA juga tercermin dari keterlibatannya dalam berbagai aktivitas lembaga. Sebagai sesepuh dan pembina, ia pernah menjalankan tugas sebagai staf kurikulum bersama para muridnya.
Meski tinggal di Wonocolo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Ustadz Ali Tsauri disebut tetap berangkat ke LPBA MASA sejak pagi dan baru kembali menjelang Magrib.
Dedikasi itu bahkan terlihat ketika ia pernah langsung menuju LPBA MASA dari Stasiun Pasar Turi setelah bepergian dari Jakarta. Ia tidak lebih dulu pulang ke rumah agar bisa segera kembali membersamai aktivitas lembaga.
Bagi para murid, kenangan terhadap Ustadz Ali Tsauri tidak hanya terkait kapasitas keilmuannya. Ketegasan dalam mendidik, kedekatan dengan santri, serta kesediaannya mencurahkan waktu di luar kelas menjadi bagian yang melekat dalam ingatan mereka.
Salah satu gurauan Ustadz Ali Tsauri yang juga dikenang berkaitan dengan keberkahan sebuah lembaga pendidikan. Ketika KH. Adnan Syarif dari Lumajang, salah satu pendiri LPBA MASA, bercerita mengenai lembaga pendidikan yang dibangunnya di Lumajang, Ustadz Ali Tsauri menjawab dengan nada bercanda.
"Meskipun metode dan manajemen yang antum bawa di sana sama persis dengan di sini, tapi masih kurang, khay? Mbah Sunan nggak dibawa," ujarnya kala itu.
Bagi Fuad, ungkapan tersebut menggambarkan cara pandang Ustadz Ali Tsauri mengenai pendidikan. Menurut dia, keberhasilan lembaga tidak semata ditentukan metode dan manajemen, tetapi juga berkaitan dengan nilai keilmuan, sanad, doa, dan keberkahan para ulama.
Baca juga:
Napak Tilas Misteri Jejak Islam Pertama Kali Masuk Sidoarjo
Kini, Ustadz Ali Tsauri telah berpulang. Suara tegasnya di ruang kelas, tambahan materi di luar jadwal, hafalan syair, hingga Dars Idhafi Ramadan tinggal menjadi kenangan bagi para murid.
Namun, ilmu yang diwariskannya terus hidup melalui orang-orang yang pernah belajar kepadanya.
"Ilmu yang beliau ajarkan tidak ikut pergi. Ia tetap hidup dalam ingatan para murid, mengalir dalam tulisan, pengajaran, dan pengabdian orang-orang yang pernah belajar kepada beliau," kata Fuad.
Bagi keluarga besar LPBA MASA, kepergian Ustadz Ali Tsauri bukan hanya kehilangan seorang guru. Ia meninggalkan jejak panjang pengabdian dalam pendidikan Islam dan pengembangan bahasa Arab.
Doa pun dipanjatkan agar Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan almarhum, menerima amal ibadah serta pengabdiannya, mengangkat derajatnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Keluarga yang ditinggalkan juga diharapkan mendapat kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.
URL : https://jatimnow.com/baca-87564-kisah-pengabdian-ustadz-ali-tsauri-untuk-lpba-masa-surabaya