jatimnow.com - Dinas Kesehatan Sidoarjo mulai menginvestigasi standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Kalitengah setelah ratusan siswa mengalami keracunan. Investigasi dilakukan untuk memastikan seluruh proses makanan, mulai dari datang hingga dikonsumsi, telah sesuai ketentuan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Dokter Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel muntahan dan bahan makanan yang telah dikirim ke Labkes Surabaya.
Hasil pemeriksaan diperkirakan baru keluar sekitar satu minggu. Namun, menurut Lakhsmie, hasil laboratorium bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian dalam penanganan kasus tersebut.
Dinkes juga akan menelusuri penerapan SOP pengolahan makanan, termasuk rentang waktu sejak makanan tiba hingga dikonsumsi.
“Sebetulnya yang paling penting adalah bukan hasilnya itu. Yang paling penting adalah sikap kita bagaimana terkait kalau misalnya memang ini terbukti karena permasalahan produk olahannya atau bahannya,” kata Laksmi, Rabu (2/9/2026).
“SOP-nya dijalankan atau tidak. Kemudian kan ini dari makanan datang sampai dengan dikonsumsi itu kan ada batas waktunya. Nah, ini sudah betul atau tidak itu yang perlu kita investigasi,” lanjutnya.
Menurutnya, investigasi nantinya tidak hanya dilakukan Dinkes. Berbagai unsur akan dilibatkan, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN). Lakhsmie menyebut berdasarkan data yang dimiliki Dinkes, kondisi dapur penyedia makanan sejauh ini dinilai baik dan tidak ditemukan masalah.
Sementara itu, penanganan terhadap para siswa yang mengalami gejala keracunan masih dilakukan. Dinkes telah mengaktifkan krisis kesehatan dan membagi penanganan menjadi dua bagian, yakni di lapangan dan rumah sakit.
Di lapangan, puskesmas menjadi koordinator. Sedangkan sejumlah rumah sakit disiagakan dengan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta sarana pendukung.
Baca juga:
Keracunan Massal MBG di Surabaya, BGN dan Dinkes Temukan Pelanggaran SOP
Hingga saat ini, 88 pasien masih menjalani rawat inap di sekitar sembilan rumah sakit. Kondisi mereka secara umum stabil dan tidak ada yang membutuhkan perawatan khusus.
Dinkes juga mengevakuasi sekitar 35 pasien lainnya pada hari ini ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Dengan tambahan tersebut, jumlah warga yang mengalami gejala dalam kasus ini diperkirakan mencapai sekitar 566 orang. Sebelumnya, tercatat sekitar 531 orang mengalami keluhan.
Keluhan yang paling banyak dirasakan berupa pusing, mual, muntah, dan diare.
Dinkes juga masih melakukan penelusuran terhadap 19 sekolah yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut. Kepala Dinas Pendidikan telah diminta menelusuri siswa yang tidak masuk sekolah untuk memastikan apakah ketidakhadiran mereka berkaitan dengan kasus yang sama.
Baca juga:
MBG dan Ujian Negara, dari Dapur Rakyat hingga Mahkamah Konstitusi
“Prinsipnya, siapa pun yang sakit akan kami lakukan terapi sesuai kondisinya. Tetapi untuk menelusuri sekolah mana dan siapa saja yang terdampak, kemarin Pak Wagub sudah menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan untuk menelusuri siapa saja yang hari ini tidak masuk sekolah,” jelasnya.
Sementara terkait kemungkinan penetapan kejadian luar biasa (KLB), Lakhsmie mengatakan keputusan tersebut masih akan dibahas bersama pihak terkait.
Begitu pula dengan pembiayaan perawatan pasien. Pemerintah daerah dan pemerintah provinsi masih mendiskusikan skema pembiayaan tersebut.
Bagi pasien yang telah dipulangkan, Dinkes mengimbau tetap melakukan kontrol apabila masih mengalami keluhan. Sementara pasien yang sudah pulih dan tidak lagi mengalami gejala dapat melanjutkan pemulihan dengan obat yang telah diberikan.