Pixel Code jatimnow.com

Warga Desa Mulai Melek QRIS, Mahasiswa KKN UB Bantu UMKM di Kediri Adaptasi

Editor : Yanuar D  
Mahasiswa KKN UB bersama salah satu pelaku UMKM saat pendampingan pembuatan QRIS. (Foto: Istimewa)
Mahasiswa KKN UB bersama salah satu pelaku UMKM saat pendampingan pembuatan QRIS. (Foto: Istimewa)

jatimnow.com - Pembayaran digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mulai menjadi pilihan masyarakat di desa-desa Kabupaten Kediri, termasuk Desa Jajar, Kecamatan Wates. Namun, di tengah meningkatnya minat warga bertransaksi secara non-tunai, sayangnya masih banyak pelaku UMKM yang belum mengadopsi QRIS karena terbatasnya pemahaman dan pendampingan.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Brawijaya menggelar sosialisasi sekaligus pendampingan pembuatan QRIS bagi pelaku UMKM di balai desa setempat. Mereka ingin membantu pelaku usaha beradaptasi dengan sistem pembayaran digital sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Langkah tersebut sejalan dengan tren penggunaan QRIS yang terus meningkat di Indonesia. Pada kuartal pertama 2026, volume transaksi QRIS tumbuh 116,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai transaksinya mencapai sekitar Rp2.970 triliun dengan total lebih dari 31 miliar transaksi.

Saat ini, jumlah pengguna QRIS telah menembus 61,7 juta orang dengan lebih dari 44 juta merchant yang sebagian besar berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa transaksi non-tunai semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk di wilayah pedesaan.

Sebanyak 10 pelaku UMKM mengikuti kegiatan tersebut. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan, mulai dari prosedur pendaftaran, persyaratan administrasi, hingga solusi apabila pelaku usaha belum memiliki telepon pintar.

Menurut Nabila selaku penanggung jawab kegiatan yang sebelumnya memaparkan materi mengenai manfaat, mekanisme pendaftaran, hingga penggunaan QRIS dalam aktivitas perdagangan sehari-hari, mengatakan tingginya minat peserta menunjukkan bahwa transformasi digital di tingkat desa mulai berkembang, meskipun masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.

“Kami melihat para pelaku UMKM memiliki ketertarikan yang cukup besar untuk menggunakan QRIS. Namun, banyak di antara mereka yang masih membutuhkan pendampingan, terutama terkait proses pendaftaran, persyaratan administrasi, serta cara penggunaan setelah QRIS aktif,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, pada Senin (3/8/2026).

Ia menambahkan bahwa penyampaian materi saja belum cukup untuk mendorong pemanfaatan teknologi digital di tingkat akar rumput.

Baca juga:
Asyik! Belanja di Indomaret Sekarang Bisa Bayar Pakai QRIS DANA

“Pendampingan secara langsung menjadi langkah penting agar para pelaku UMKM tidak hanya memahami manfaat QRIS, tetapi juga memiliki keyakinan untuk menggunakannya dalam kegiatan usaha sehari-hari,” katanya.

Tidak berhenti pada tahap sosialisasi, mahasiswa KKN Universitas Brawijaya juga memberikan pendampingan kepada salah seorang pelaku UMKM dalam proses pembuatan QRIS. Proses tersebut meliputi pengecekan dokumen, pengisian data usaha, registrasi, aktivasi kode QR, hingga simulasi transaksi.

Salah seorang peserta, Yaya, yang berjualan aneka sosis dan minuman dingin, mengaku terbantu dengan program tersebut. Selama ini, ia kerap menerima pertanyaan dari pelanggan mengenai ketersediaan pembayaran digital.

“Sering ada pembeli yang bertanya apakah bisa membayar menggunakan QRIS, tetapi saya belum mengetahui cara membuatnya. Setelah mendapatkan pendampingan, sekarang QRIS sudah bisa digunakan untuk melayani pelanggan,” tuturnya.

Baca juga:
Bank Jatim Launching QRIS Crossborder di Ajang Bromo Marathon 2025

Penggunaan QRIS dinilai memiliki sejumlah keunggulan, seperti mempercepat proses transaksi, mengurangi penggunaan uang tunai, memudahkan pencatatan keuangan, serta memperluas jangkauan konsumen. Sistem ini juga memungkinkan pelaku usaha menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital hanya melalui satu kode pembayaran.

Di wilayah pedesaan, pemanfaatan QRIS tidak hanya berkaitan dengan perubahan metode pembayaran, tetapi juga menjadi bagian dari proses transformasi ekonomi masyarakat. Digitalisasi memungkinkan pelaku usaha membangun kebiasaan pencatatan transaksi yang lebih tertata sehingga memudahkan pengembangan usaha pada masa mendatang.

Melalui kegiatan sosialisasi dan pendampingan pembuatan QRIS ini, mahasiswa KKN Universitas Brawijaya berharap semakin banyak pelaku UMKM di Desa Jajar yang mampu beradaptasi dengan perkembangan sistem pembayaran digital.

Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat daya saing UMKM melalui transaksi yang lebih praktis, aman, dan terdokumentasi dengan baik. Ke depan, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan terus terjalin sehingga upaya transformasi digital dapat berlangsung secara berkelanjutan serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Jajar.