Pixel Code jatimnow.com

Sejarah Lahirnya Universitas NU, Berawal dari Cirebon hingga Kini Capai 248 PTNU

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Nahdlatul Ulama (NU) yang kini tersebar di berbagai daerah, termasuk di Surabaya. (Foto: Unusa for jatimnow.com)
Nahdlatul Ulama (NU) yang kini tersebar di berbagai daerah, termasuk di Surabaya. (Foto: Unusa for jatimnow.com)

jatimnow.com - Jaringan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (NU) yang kini tersebar di berbagai daerah berawal dari satu proses pendirian kampus di Cirebon pada 2010. Dari model tersebut, puluhan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) kemudian lahir di berbagai wilayah Indonesia hingga membentuk jaringan pendidikan tinggi NU yang terus berkembang.

Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Hanief Saha Ghafur, mengungkapkan proses lahirnya Universitas NU bermula setelah KH Said Aqil Siroj terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada 2010.

Menurut Hanief, tidak lama setelah menjabat, Kiai Said mendapat undangan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

"Presiden SBY bertanya kepada Kiai Said, apa yang perlu saya bantu untuk NU ke depan," kata Hanief, Sabtu (01/8/2026).

Menanggapi pertanyaan tersebut, Kiai Said menyampaikan keinginan memperkuat amal usaha NU pada tiga sektor utama, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan. Pemerintah saat itu, lanjut Hanief, menyatakan kesiapan mendukung pengembangan program tersebut.

Hanief mengaku kemudian diminta Kiai Said untuk mengawal pengembangan pendidikan tinggi NU. Saat itu ia menjabat Ketua PBNU Bidang Pendidikan sekaligus Staf Khusus Menteri Pendidikan Nasional Prof. Mohammad Nuh.

"Karena posisi itu, saya banyak menjembatani harapan Kiai Said kepada Pak Nuh sekaligus menyampaikan ketentuan yang harus dipenuhi untuk mendirikan perguruan tinggi," ujarnya.

Hanief menuturkan titik awal lahirnya Universitas NU terjadi ketika mendampingi Menteri Pendidikan Mohammad Nuh melakukan kunjungan kerja ke Cirebon dan Kuningan pada 2010.

Saat berada di Cirebon, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cirebon meminta bertemu dengan Menteri Pendidikan. Dalam pertemuan itu, Mohammad Nuh menanyakan program yang ingin dikembangkan PCNU.

"Jawabannya sederhana, mereka ingin mendirikan perguruan tinggi," kata Hanief.

Mendengar keinginan tersebut, Mohammad Nuh mempersilakan PCNU Cirebon mengajukan pendirian perguruan tinggi dengan syarat memenuhi seluruh regulasi yang berlaku.

Baca juga:
Genap 45 Tahun, Unitomo Mantapkan Kontribusi Nyata bagi Masyarakat

Ia meminta proposal disusun sesuai ketentuan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Saat ditanya mengenai lamanya proses perizinan, Direktorat Kelembagaan Ditjen Dikti ketika itu menjelaskan penerbitan izin membutuhkan waktu sedikitnya enam bulan.

Setelah seluruh persyaratan dipenuhi, Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon resmi memperoleh izin berdiri pada 2010.

Menurut Hanief, proposal pendirian UNU Cirebon kemudian dijadikan acuan oleh PBNU untuk mendorong pendirian kampus serupa di berbagai daerah.

"Dari proposal UNU Cirebon yang sudah keluar izinnya, kami membagikannya kepada PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia agar mengonsolidasikan aset dan infrastruktur. Jika memenuhi syarat, maka dapat mendirikan perguruan tinggi NU," ungkapnya.

Ia menyebutkan, pada masa Mohammad Nuh menjabat Menteri Pendidikan, sekitar 20 hingga 24 Universitas NU berhasil memperoleh izin operasional.

Jumlah itu terus bertambah pada masa Menteri Pendidikan berikutnya, yakni Muhammad Nasir, Muhadjir Effendy, hingga Nadiem Makarim. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 43 Universitas Nahdlatul Ulama yang berdiri sejak 2010.

Baca juga:
URI: Inovasi Kepemimpinan yang Melompati Hukum?

Hanief menambahkan, jika dihitung berdasarkan seluruh bentuk badan hukum, perguruan tinggi NU kini mencapai sekitar 248 institusi.

Jumlah tersebut mencakup kampus yang dikelola badan hukum perkumpulan, yayasan perguruan tinggi NU, yayasan pesantren, maupun yayasan milik warga Nahdliyin yang tergabung dalam Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU).

Meski jaringan perguruan tinggi NU terus bertambah, Hanief menilai tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memperbanyak jumlah kampus.

Menurutnya, penguatan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas melalui konsolidasi aset, peningkatan mutu akademik, penguatan sistem penjaminan mutu, peningkatan jumlah mahasiswa, serta transformasi sekolah tinggi dan institut menjadi universitas agar daya saing perguruan tinggi NU semakin kuat.

"Jangan hanya pesat secara kuantitatif, tetapi juga harus kuat secara kualitatif. Itu tantangan dan jawaban transformatif yang harus diperjuangkan NU ke depan," tutur Hanief.