jatimnow.com – Pesatnya perkembangan teknologi dan lahirnya Generasi Alpha membawa tantangan baru yang menuntut perubahan drastis dalam pola asuh anak. Di era serba digital ini, orang tua dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi 'polisi pengawas' gawai, melainkan harus berevolusi menjadi digital mentor bagi anak-anak mereka.
Psikolog Universitas Airlangga (Unair), Dr. Primatia Yogi Wulandari menegaskan bahwa tantangan utama pengasuhan saat ini bukan lagi sekadar soal mendisiplinkan anak agar patuh secara buta.
"Pendekatan yang paling sesuai saat ini adalah ketika orang tua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police. Tujuannya adalah untuk mengajarkan penggunaan teknologi secara sehat dan aman, serta memitigasi risiko kecanduan hingga perundungan siber (cyberbullying)," terang Primatia.
Ia juga menyoroti tren media sosial yang kerap memicu parental burnout (kelelahan mengasuh) akibat paparan standar pengasuhan yang tidak realistis di internet. Oleh karena itu, literasi digital orang tua harus ditingkatkan, terutama dalam menyikapi fenomena sharenting atau kebiasaan membagikan konten anak di media sosial.
"Sebelum mengunggah konten tentang anak, orang tua wajib mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi, dan jejak digital yang akan terus menempel hingga mereka dewasa kelak," paparnya.
Lebih lanjut, Primatia menyoroti realitas di masyarakat di mana masih banyak praktik pengasuhan yang mengandalkan bentakan atau hukuman fisik. Padahal, fokus utama pengasuhan adalah membantu anak tumbuh menjadi pribadi mandiri yang tangguh dan sehat secara psikologis.
Baca juga:
Terobosan Terapi Anak Panti Asuhan dengan Pendekatan Psikologi Jawa
"Bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, sekaligus memiliki batasan yang jelas, jauh lebih efektif dalam membentuk pengelolaan emosi, rasa percaya diri, dan kemampuan penyelesaian masalah pada anak," jelasnya.
Untuk mencapai level pengasuhan tersebut, diperlukan pola komunikasi dua arah yang konsisten. Orang tua dapat memulainya melalui metode active listening (mendengarkan aktif), yakni mendengarkan anak bercerita hingga tuntas tanpa menyela, tidak menghakimi, dan memvalidasi emosi mereka.
Budaya komunikasi hierarkis yang membuat anak takut berpendapat karena khawatir dicap melawan harus mulai ditinggalkan. Primatia menegaskan, memberi ruang berpendapat sama sekali tidak menjatuhkan kewibawaan orang tua, justru memperkuat kelekatan batin.
Sebagai penutup, Primatia berpesan bahwa investasi terbesar sebuah bangsa terletak pada kualitas hubungan keluarga, bukan pada fasilitas yang serba mahal.
"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir. Luangkanlah waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka. Keluarga yang aman adalah kunci membesarkan generasi cerdas dan sehat mental," pungkasnya.