Pixel Code jatimnow.com

Anak-anak Turun Tangan Selamatkan Mangrove Wonorejo Surabaya dari Sampah Plastik

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
ECOTON bersama pelajar dan relawan membersihkan Mangrove Wonorejo Surabaya. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)
ECOTON bersama pelajar dan relawan membersihkan Mangrove Wonorejo Surabaya. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)

jatimnow.com - Lebih dari 21 siswa homeschooling tingkat SD hingga SMP bersama mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dan relawan turun langsung membersihkan kawasan Mangrove Wonorejo, Surabaya, Minggu (19/7/2026).

Dalam aksi bertajuk Make Mangrove Green Again, mereka berhasil mengangkat lebih dari 20 karung sampah plastik yang menjerat akar-akar mangrove.

Kegiatan yang digagas ECOTON itu tidak sekadar menggelar aksi bersih-bersih. Peserta juga diajak memahami peran penting mangrove sebagai benteng alami pesisir yang melindungi pantai dari abrasi, menyerap karbon biru (blue carbon), menyaring polutan, sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, udang, dan burung.

Founder ECOTON, Prigi Arisandi, menjelaskan bahwa sampah plastik yang melilit akar mangrove dapat mengganggu pertumbuhan pohon.

Plastik juga berpotensi menutup lentisel, yaitu pori-pori pada batang dan akar yang berfungsi sebagai jalur pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

"Jika lentisel tertutup sampah plastik, proses respirasi mangrove terganggu. Dampaknya bukan hanya menghambat pertumbuhan, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup pohon," kata Prigi saat memberikan edukasi kepada peserta di atas perahu yang menyusuri kawasan mangrove.

Ia menambahkan, plastik yang terus terpapar sinar matahari, gelombang, dan gesekan akan terurai menjadi mikroplastik.

Partikel berukuran sangat kecil itu jauh lebih sulit dibersihkan dan berisiko masuk ke rantai makanan di ekosistem pesisir.

Kegiatan dimulai dengan menyusuri kawasan mangrove menggunakan perahu. Selama perjalanan, peserta dikenalkan pada berbagai jenis mangrove, satwa yang hidup di dalamnya, hingga ancaman pencemaran plastik terhadap kawasan pesisir.

Usai sesi edukasi, seluruh peserta menyebar untuk melepaskan sampah yang menjerat akar mangrove dan membersihkan area sekitar.

Dalam waktu sekitar 30 menit, mereka mengumpulkan lebih dari 20 karung berkapasitas 25 kilogram.

Baca juga:
MPLS Berbeda, Siswa SMAN 1 Mantup Lamongan Teliti Mikroplastik di Sekolah

Sampah yang paling banyak ditemukan berupa botol plastik sekali pakai, kantong kresek, kemasan sachet, sedotan, sandal, dan berbagai jenis limbah plastik lain yang terbawa aliran sungai hingga bermuara di kawasan mangrove.

Abdullah, siswa kelas 2 SD, mengaku terkejut melihat banyaknya sampah yang membelit akar pohon.

"Tadi aku mengambil sampah plastik yang melilit akar mangrove. Sampahnya banyak sekali dan sulit dilepaskan. Sampah itu berasal dari orang yang membuang sampah sembarangan. Pesanku, buanglah sampah pada tempatnya dan kurangi penggunaan plastik sekali pakai agar tidak mencemari pantai," ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Nashwa, siswi kelas 1 SD yang baru pertama kali mengikuti aksi bersih pantai.

"Ini pertama kali aku ikut bersih-bersih pantai. Sampahnya sangat banyak. Aku mengumpulkan dua karung berisi botol plastik, kemasan minuman, sedotan, dan sampah lainnya yang baunya menyengat. Mulai sekarang kita harus mengurangi penggunaan plastik. Kalau bepergian aku biasanya membawa botol minum dan wadah makan sendiri supaya tidak menambah sampah plastik," ungkapnya.

Salah seorang orang tua peserta, Ariesta, menilai kegiatan lapangan seperti itu memberi pengalaman yang sulit diperoleh di ruang kelas.

Baca juga:
600 Siswa SDIT El Haq Ikuti Microplastic Journey, Perkuat Sekolah Bebas Plastik

"Anak-anak bisa belajar langsung mengenal ekosistem mangrove, memahami dampak sampah plastik, dan membangun kebiasaan menjaga lingkungan. Harapannya, kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai juga diterapkan di rumah," tuturnya.

ECOTON meyakini pendidikan lingkungan akan lebih efektif ketika dipadukan dengan pengalaman langsung di lapangan.

Melihat sendiri dampak sampah plastik terhadap mangrove diharapkan dapat membentuk kepedulian sekaligus mendorong perubahan perilaku sejak usia dini.

Melalui gerakan Make Mangrove Green Again, ECOTON juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Sebagian besar sampah yang mencemari kawasan mangrove berasal dari aliran sungai sebelum akhirnya terbawa ke muara dan laut.

Kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum, wadah makan, tas belanja pakai ulang, serta memilah sampah dari rumah dinilai menjadi langkah nyata untuk menjaga mangrove tetap lestari sebagai benteng pesisir dan rumah bagi beragam biota laut.