Pixel Code jatimnow.com

Ngorok Bukan Tidur Nyenyak, Kenali Sleep Apnea si Pembunuh Senyap

Editor : Dadang Kurnia   Reporter : Ali Masduki
Sleep Technician sekaligus Direktur Resindo Medica, Andini Ekawati, memperagakan penggunaan alat Apnea Link di Pramita Ngagel, Surabaya, Sabtu (16/5/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Sleep Technician sekaligus Direktur Resindo Medica, Andini Ekawati, memperagakan penggunaan alat Apnea Link di Pramita Ngagel, Surabaya, Sabtu (16/5/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kebiasaan mendengkur sering kali dianggap sebagai tanda seseorang telah tertidur pulas. Nyatanya, suara ngorok tersebut bisa menjadi alarm bahaya dari tubuh yang sedang berjuang mempertahankan nyawa.

Gangguan pernapasan saat tidur, atau dikenal sebagai sleep apnea, merupakan ancaman terselubung yang jamak merenggut korban tanpa disadari di malam hari.

Masyarakat kerap mengabaikan gejala ini karena terjadi saat kesadaran hilang. Padahal, kondisi tubuh berada pada titik paling rentan ketika hambatan sirkulasi udara berlangsung.

Sleep Technician sekaligus Direktur Resindo Medica, Andini Ekawati, menuturkan bahwa asupan oksigen yang mendadak anjlok saat tidur memaksa organ tubuh bekerja ekstra keras. Dampaknya tidak main-main, mulai dari komplikasi penyakit berat hingga risiko kematian mendadak (sudden death).

"Tidur adalah kondisi tanpa kesadaran, sehingga sleep apnea kerap dijuluki silent killer. Saat saluran napas menutup, kadar oksigen anjlok drastis. Saya pernah menangani pasien yang saturasinya melorot sampai 48 persen. Jika angka serendah itu terjadi di bangsal rumah sakit, seluruh alarm medis pasti sudah berbunyi nyaring," tuturnya saat mengenalkan alat Apnea Link di Pramita Ngagel, Surabaya, Sabtu (16/5/2025). 

Sleep Technician sekaligus Direktur Resindo Medica, Andini Ekawati, memperagakan penggunaan alat Apnea Link di Pramita Ngagel, Surabaya, Sabtu (16/5/2025). (Ali Masduki/jatimnow.com)Sleep Technician sekaligus Direktur Resindo Medica, Andini Ekawati, memperagakan penggunaan alat Apnea Link di Pramita Ngagel, Surabaya, Sabtu (16/5/2025). (Ali Masduki/jatimnow.com)

Keajaiban tubuh manusia membuat otak langsung terjaga demi memompa napas kembali saat kadar oksigen menyusut tajam. Proses tersebut membuat jantung bergejolak hebat, melambat saat napas terhenti, lalu mendadak melonjak kencang hingga 100 bpm begitu pasien tersadar.

Akibatnya, penderita kerap bangun pagi dalam kondisi lelah, pusing, dan otot terasa kaku karena saraf terus bekerja semalaman tanpa istirahat.

Kerusakan jangka panjang mengincar kelompok usia produktif. Banyak ditemukan kasus pasien berusia 30 hingga 40 tahun mendadak mengalami pembengkakan jantung atau stroke akibat minimnya pasokan oksigen ke otak.

Gangguan itu juga memicu diabetes akibat metabolisme yang kacau, serta memicu hipertensi yang kebal terhadap obat (drug-resistant hypertension).

Dalam banyak kasus, pasien darah tinggi yang bertubuh gemuk dan gemar mengorok tidak akan sembuh sebelum gangguan pernapasannya dibenahi.

Kondisi serupa menimpa pasien pasca-stroke, di mana pemulihan berjalan lambat akibat otak kekurangan pasokan udara segar sepanjang malam.

Deteksi dini tingkat keparahan gangguan ini diukur melalui parameter Apnea-Hypopnea Index (AHI), yang menghitung frekuensi henti napas dan penyempitan saluran udara per jam. Pengukuran manual mustahil dilakukan mandiri mengingat durasi tidur manusia mencapai 6 hingga 8 jam.

Nilai AHI (kejadian per jam) digunakan untuk menentukan kategori keparahan gangguan tidur berdasarkan karakteristik klinis yang muncul. Pada nilai AHI 0–5, kondisi masih tergolong normal, ditandai dengan pernapasan yang stabil serta pasokan oksigen yang aman.

Baca juga:
Sering Ngorok? Pramita Surabaya Siapkan Tes Sleep Apnea

Selanjutnya, nilai AHI 5–15 termasuk kategori ringan, di mana dengkuran biasanya mulai mereda ketika posisi tubuh dimiringkan saat tidur.

Pada rentang AHI 15–30, kondisi masuk kategori sedang dan umumnya ditandai dengan munculnya gejala kelelahan ekstrem ketika bangun tidur.

Sementara itu, nilai AHI di atas 30 menunjukkan kategori berat, yang ditandai dengan dengkuran terjadi di segala posisi tidur serta meningkatnya risiko komplikasi serius, seperti serangan jantung.

Anatomi tubuh memegang peran besar dalam memicu gangguan fisik. Sleep apnea tidak hanya menyerang warga bertubuh tambun.

Individu berbadan kurus juga berisiko tinggi jika memiliki struktur lidah tebal, amandel besar, atau rongga napas yang sempit. Pada stadium berat, mengubah posisi tidur tidak lagi mampu meredakan sumbatan udara.

Solusi Medis Tanpa Obat

Apnea Link atau perangkat uji tidur rumahan yang digunakan untuk mendeteksi sleep apnea telah didesain senyaman mungkin penuh sensor tanpa mengganggu tidur pasien. (Ali Masduki/jatimnow.com)Apnea Link atau perangkat uji tidur rumahan yang digunakan untuk mendeteksi sleep apnea telah didesain senyaman mungkin penuh sensor tanpa mengganggu tidur pasien. (Ali Masduki/jatimnow.com)

Baca juga:
Pramita Surabaya Kembangkan Pusat Rehabilitasi Jantung Modern

Gangguan mekanis pada saluran pernapasan tidak dapat disembuhkan dengan konsumsi obat-obatan. Langkah awal untuk kategori ringan bisa dimulai dengan perbaikan gaya hidup, seperti menurunkan berat badan, rutin berolahraga, menggunakan bantal tinggi, atau tidur menyamping.

Tindakan pembedahan lewat dokter spesialis THT menjadi opsi jika ditemukan kelainan anatomis seperti amandel besar atau penyempitan tenggorokan.

Pilihan paling aman dan efektif saat ini adalah menggunakan perangkat portabel tekanan napas positif (positive pressure) di samping tempat tidur. Alat yang dihubungkan ke wajah melalui masker khusus berfungsi menjaga saluran napas tetap terbuka tanpa menyalurkan zat kimia atau gas buatan.

Selain itu, kata Andini, masyarakat kini bisa memanfaatkan layanan pemeriksaan sleep diagnostic test rumahan atau pemeriksaan medis menggunakan alat Apnea Link untuk memantau fungsi tubuh secara komprehensif saat tidur yang disediakan oleh Pramita.

Layanan jemput bola medis dikerahkan langsung ke kediaman pasien demi mendapatkan data yang akurat. Apnea Link atau perangkat uji tidur rumahan yang digunakan untuk mendeteksi sleep apnea telah didesain senyaman mungkin penuh sensor tanpa mengganggu tidur pasien.

Tim medis akan datang ke rumah sekitar pukul delapan malam untuk memasang alat sesuai jam istirahat. Pasien hanya perlu memastikan kondisi bugar bebas flu.

"Usai dipasang, Anda tetap bisa menonton televisi atau ke toilet. Pagi harinya, alat dapat dilepas sendiri sebelum tim kami datang menjemput kembali untuk evaluasi hasil," pungkasnya.