Pixel Code jatimnow.com

Hapus Pola Hafalan, Guru di Mamuju Didorong Fokus Bangun Nalar Siswa

Editor : Tim Jatimnow   Reporter : Ali Masduki
Pelatihan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) di MAN 1 Mamuju. (Foto: IGI/jatimnow.com)
Pelatihan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) di MAN 1 Mamuju. (Foto: IGI/jatimnow.com)

jatimnow.com - Era menghafal rumus tanpa makna harus segera berakhir di ruang kelas. Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sulawesi Barat kini mendorong transformasi besar dalam cara guru menyampaikan materi, dengan menempatkan kemampuan bernalar sebagai fondasi utama siswa.

Ketua IGI Sulbar, Sutikno, menyatakan bahwa guru di Indonesia, terutama di Mamuju perlu meninggalkan pola pengajaran rutin yang hanya mengandalkan ingatan.

Menurutnya, kemampuan bernalar adalah kompetensi global yang mendesak bagi "Generasi Emas" Indonesia agar mampu bersaing di kancah internasional.

"Siswa sekolah dasar tidak bisa dipaksa memahami hal abstrak secara instan. Guru harus mahir menggunakan pendekatan bertahap, mulai dari benda konkret, gambar, baru kemudian masuk ke simbol abstrak," ujar Sutikno saat membuka pelatihan Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) di MAN 1 Mamuju.

Senada dengan hal itu, narasumber dari Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas, Dhitta Puti Sarasvati, melihat ada fenomena mengkhawatirkan di mana kelas matematika seringkali kehilangan esensi belajarnya. Hal ini terjadi karena prinsip pengajaran yang kurang tepat.

"Setiap anak pada dasarnya cerdas. Jika diajarkan dengan prinsip yang benar dan guru yang antusias, nalar mereka akan terbangun dengan sendirinya," kata Dhitta.

Putri mendiang ekonom Rizal Ramli ini menambahkan bahwa tanpa kemampuan analitik yang kuat sejak usia dini, siswa Indonesia berisiko tertinggal jauh dari standar pendidikan negara maju.

Kemahiran matematika bukan soal menghitung cepat, melainkan melatih logika sistematis dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving) dalam kehidupan sehari-hari.

Pelatihan yang berlangsung hingga 7 Maret 2026 ini melibatkan 50 guru jenjang SD dan Madrasah Ibtidaiyah. Agenda ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi nasional melalui penguatan pedagogi spesifik.

Inisiatif ini mendapat sokongan penuh dari berbagai instansi, mulai dari Dinas Pendidikan, Kanwil Kemenag Sulbar, hingga Bank Indonesia Perwakilan Sulbar dan dukungan legislatif dari Anggota DPR RI, H. Muhammad Zulfikar Suhardi.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan muncul standar baru pengajaran yang lebih humanis dan berorientasi pada logika.