Pixel Code jatimnow.com

Bengawan Solo Meluap 10 Kali, Jatim Perbarui Rencana Siaga Bencana

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
SIAP SIAGA Jawa Timur menggelar Sosialisasi Anticipatory Action (AA), Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) untuk para stakeholder. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
SIAP SIAGA Jawa Timur menggelar Sosialisasi Anticipatory Action (AA), Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) untuk para stakeholder. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ancaman bencana hidrometeorologi di Jawa Timur kian nyata. Dalam satu dekade terakhir, tercatat 2.227 kejadian bencana menerjang wilayah ini, dengan tren yang terus merangkak naik.

Dari ribuan peristiwa tersebut, luapan DAS Bengawan Solo menjadi momok paling mematikan yang telah menghantam kawasan ini sebanyak 10 kali dalam kurun waktu 2016-2025.

Banjir besar ini tidak sekadar merendam infrastruktur di Bojonegoro, Tuban, Gresik, Ngawi, dan Lamongan, tetapi juga melumpuhkan sendi ekonomi warga.

Merespons kondisi darurat tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) dan Program SIAP SIAGA (kemitraan Australia-Indonesia) untuk merombak total strategi kesiapsiagaan melalui Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD).

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Pangarso Suryotomo, menegaskan bahwa penanganan banjir di sepanjang aliran Bengawan Solo mustahil hanya mengandalkan manajemen debit air.

Menurutnya, ketangguhan warga di ratusan desa pinggir sungai adalah kunci utama.

"Masyarakat harus paham apa yang harus dilakukan saat sirine peringatan berbunyi. Kita tidak hanya bicara teknis tanggul atau pembukaan pintu Bendungan Gajah Mungkur, tapi soal kesiapan sosial sebelum status siaga darurat ditetapkan," ujar pria yang akrab disapa Papang ini di Surabaya, Rabu (11/2/2026).

Dokumen Rencana Kontijensi (Renkon) yang menjadi panduan gerak saat bencana kini tengah dibongkar ulang.

Baca juga:
Dua Hari Pencarian, Korban Tenggelam di Bengawan Solo Ditemukan

Ketua Tim Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Dadang Iqwandy, mengakui dokumen yang ada saat ini sudah kedaluwarsa karena disusun sejak 2018.

"Idealnya Renkon diperbarui setiap dua tahun. Dengan komposisi 75 persen badan sungai berada di Jawa Timur, pembaruan data sangat mendesak. Kita butuh skenario siapa berbuat apa yang lebih segar dan akurat," jelas Dadang.

Langkah ini nantinya melibatkan sedikitnya 15 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menyusun pemetaan klaster dan kajian risiko berbasis data ahli.

Baca juga:
Mayat Wanita Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Bengawan Solo Bojonegoro

Sementara itu, PMI Jawa Timur melalui Edi Purwoko menyatakan komitmennya untuk memastikan masyarakat mampu membaca gejala alam secara mandiri.

Senada, Program Manager Humanitarian DFAT Australia, Henry Pirade, menilai sinergi ini bertujuan agar sistem pemerintah dan kapasitas warga di akar rumput bisa berjalan selaras.

"Kita ingin memastikan peringatan dini bukan sekadar informasi di atas kertas, melainkan tindakan nyata yang menyelamatkan nyawa di lapangan," pungkasnya.

Jika pemodelan di Jawa Timur ini sukses, sistem kesiapsiagaan banjir Bengawan Solo akan menjadi cetak biru nasional yang bakal diterapkan di wilayah mitra lain seperti Bali, NTB, dan NTT.