Pixel Code jatimnow.com

Para Penjaga Cincin Api: 9 Jantung Bumi yang Tak Pernah Tidur

Editor : Ni'am Kurniawan  
Gunung Bromo di Jawa Timur (dok.jatimnow.com)
Gunung Bromo di Jawa Timur (dok.jatimnow.com)

jatimnow.com - Di tengah hamparan zamrud khatulistiwa, Indonesia berdiri sebagai jantung dari Ring of Fire, sebuah cincin tapal kuda yang melingkari Samudra Pasifik, tempat sebagian besar gempa bumi dan letusan gunung api dunia terjadi. 

Masyarakat Indonesia hidup di atas tanah yang subur berkat abu, namun juga terancam oleh api yang bersemayam di perut bumi.

Gunung-gunung api ini bukanlah sekadar gugusan batuan. Mereka adalah para penjaga abadi, saksi bisu sejarah, dan mesin pencetak kehidupan sekaligus kematian. Mereka tak pernah benar-benar tidur. Mereka hanya beristirahat sejenak, menyimpan energi yang siap dilepaskan kapan saja. 

Inilah sembilan di antara mereka yang paling aktif, yang menuntut kewaspadaan abadi dari kita.

1. Merapi: Sang Raja yang Berhati Panas

Gunung ini terletak di perbatasan daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gunung ini terhitung sebagai gunung api strato paling aktif di dunia, dengan siklus erupsi pendek (2-5 tahun). 

Letusan besarnya tercatat sejak tahun 1006 dan terus berlanjut hingga kini dengan guguran lava dan awan panas yang konsisten.

Di sisi lain, Merapi adalah berkah sekaligus petaka. Laharnya menyuburkan tanah, tetapi erupsinya yang eksplosif (tahun 2010) memaksa puluhan ribu warga mengungsi, menewaskan ratusan jiwa, dan mengubah topografi desa-desa di lerengnya. 

2. Sinabung: Kebangkitan Sang Petapa

Gunung ini terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Setelah 'tertidur' selama ratusan tahun sejak sekitar 1600, Sinabung tiba-tiba aktif kembali pada Agustus 2010.

Sejak itu, ia menjadi sangat agresif. Erupsi besar terus terjadi, termasuk tahun 2013, 2016 (yang menewaskan 7 orang), hingga 2021.

Kebangkitan Sinabung adalah tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan. Ribuan warga Suku Karo terpaksa direlokasi, meninggalkan desa dan lahan pertanian mereka yang terperangkap dalam Zona Bahaya. Dampaknya adalah krisis mata pencaharian dan trauma berkepanjangan.

3. Semeru: Mahameru yang Tak Pernah Diam

Gunung ini terletak di Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Gunung ini tercatat mengalamu erupsi sejak 1818, dan sejak saat itu, Semeru hampir tidak pernah benar-benar diam. 

Ia konsisten memuntahkan abu (erupsi tipe Vulkanian dan Strombolian) setiap 3-4 kali per jam. 

Periode aktifnya saat ini, termasuk erupsi besar pada akhir 2021, menegaskan statusnya sebagai gunung api yang sangat waspada.

Ancaman utama Semeru adalah Awan Panas Guguran (APG) dan Lahar Dingin yang membawa material vulkanik melalui alur sungai. 

Bencana di 2021 merenggut puluhan nyawa dan menghancurkan jembatan serta desa, menunjukkan betapa pentingnya mitigasi dan kepatuhan terhadap zona larangan.

4. Bromo: Keindahan yang Sarat Ancaman

Gunung ini berada Jawa Timur, di dalam Kaldera Tengger (Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang).

Bromo dikenal dengan siklus letusan yang cukup sering dan sporadis. Catatan letusan terulang sejak tahun 1907. Erupsi Bromo seringkali berupa letusan abu dan material ringan.

Meskipun letusannya jarang yang eksplosif, abu vulkanik Bromo sering mengganggu pariwisata, penerbangan, dan kesehatan masyarakat, terutama di Desa Ngadirejo dan sekitarnya. 

Namun bagi Suku Tengger, Bromo adalah gunung suci yang dijaga dan dihormati.

5. Karangetang: Jendela Api Sulawesi Utara

Baca juga:
Menakar Nyali, Menepis Hoaks: Seni Bertahan Hidup di Negeri Cincin Api

Gunung inj berada Pulau Siau, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara.

Karangetang tercatat aktif sejak 1675. Ia memiliki frekuensi letusan yang sangat tinggi, dengan aktivitas konsisten berupa aliran lava pijar dan guguran.

Karena lokasinya di pulau kecil, ancaman utamanya adalah lahar dan awan panas yang langsung mengancam pemukiman di lerengnya. Beberapa kali letusan (tahun 2015) telah menyebabkan pengungsian massal dan kerusakan rumah warga.

6. Kerinci: Atap Sumatera yang Menyimpan Bara

Terletak Perbatasan Jambi dan Sumatera Barat, menjulang sebagai gunung api tertinggi di Indonesia.

Kerinci adalah gunung api tipe Vulkano lemah yang sering erupsi freatik di kawah pusat. Sejak tahun 1838, tercatat puluhan kali erupsi, seringkali hanya berupa abu tipis.

Ancaman letusan besarnya cukup jarang, namun asap dan abu tipis sering mengganggu aktivitas pendakian dan pertanian teh di Kayu Aro. Kewaspadaan di sini lebih bersifat jangka panjang, mengingat potensi letusan besar yang bisa berdampak pada ekosistem hutan hujan tropis di sekitarnya.

7. Raung: Kaldera Raksasa Jawa Timur

Terletak dj Perbatasan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember, Jawa Timur.

Gunung ini mencatatkan letusan yang sangat panjang sejak 1593, Raung adalah kaldera masif yang sering menunjukkan aktivitas minor hingga menengah. 

Periode aktifnya, seperti yang terjadi pada tahun 2015 dan 2020, ditandai dengan gempa tremor dan letusan abu.

Abu vulkanik Raung dapat menyebar luas, hingga mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, dan Bandara Blimbingsari, Banyuwangi. Hujan abu kerap melanda desa-desa sekitarnya, merusak tanaman pertanian.

Baca juga:
Waspada Kebencanaan: Belajar dari Jawa Timur dan Sumatera

8. Agung: Sang Penjaga Pulau Dewata

Terletak di Kabupaten Karangasem, Bali.

Letusan dahsyat gunung Agung pada tahun 1963-1964 adalah salah satu yang terbesar di Indonesia pasca-Toba, menewaskan sekitar 1.900 orang dan bahkan menurunkan suhu bumi. Setelah fase tidur panjang, ia kembali aktif pada 2017-2018.

Ketika Agung beraktivitas (tahun 2017), dampaknya melumpuhkan sektor pariwisata Bali dan memaksa ratusan ribu penduduk mengungsi. Bali, sebagai destinasi utama, merasakan dampak ekonomi dan sosial yang masif.

9. Dukono: Api Abadi Halmahera

Letaknya Halmahera Utara, Maluku Utara.

Dukono adalah salah satu gunung api yang hampir tidak pernah berhenti meletus secara minor sejak tahun 1933 hingga hari ini. Erupsinya bersifat terus-menerus (kronis) dengan tipe Strombolian.

Meskipun terisolasi, letusan Dukono secara periodik memuntahkan abu vulkanik yang signifikan, mengganggu penerbangan di wilayah Maluku Utara. 

Masyarakat di sekitarnya harus terbiasa hidup dengan ancaman abu yang dapat merusak pernapasan dan pertanian.

Sembilan gunung ini hanya sebagian dari lebih dari 120 gunung api aktif di Tanah Air. Mereka adalah pengingat bahwa kita tidak bisa hanya menerima keindahan tanpa memahami ancamannya.

Gunung-gunung ini meminta kita untuk menjaga dan mewaspadai mereka. Menjaga hutan di lerengnya agar tk longsor saat hujan, mewaspadai setiap gemuruh dan getaran, dan yang terpenting, mendidik setiap generasi agar bersahabat dengan takdir geologis ini.

Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari identitas kita para penjaga abadi yang sesekali harus kita dengarkan aumannya, demi kelangsungan hidup kita sendiri.