Pixel Code jatimnow.com

Bikin Geleng Kepala, Murid SD Bawean Angkat 'Warisan' Sampah Plastik 34 Tahun

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Puluhan siswa sekolah dasar (SD) di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, menggelar aksi bersih pantai. (Foto: Ecoton/jatimnow.com)
Puluhan siswa sekolah dasar (SD) di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, menggelar aksi bersih pantai. (Foto: Ecoton/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kepedulian lingkungan berubah menjadi temuan miris saat puluhan siswa sekolah dasar (SD) di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, menggelar aksi bersih pantai.

Bersama warga Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, anak-anak ini berhasil mengumpulkan hampir satu ton sampah pesisir, mencapai angka mengejutkan 945 kilogram.

Yang paling memprihatinkan, tumpukan sampah itu tidak hanya berisi sisa-sisa hari ini. Mereka menemukan kemasan plastik saset yang diperkirakan berasal dari tahun 1989—sebuah "warisan" sampah yang telah bertahan di lingkungan pesisir selama lebih dari tiga dekade.

Aksi bertajuk Children Environmental Action ini diinisiasi oleh SDIT Al Huda Bawean berkolaborasi dengan Ecoton dan Human In Love Foundation (Korea), didukung penuh oleh Pemerintah Desa Lebak.

Sebanyak 30 siswa SD dan 15 warga terlibat langsung membersihkan kawasan pantai yang juga menjadi area wisata dan tempat bermain anak.

Total 945 kg sampah yang terkumpul terbagi menjadi 70 karung sampah organik dan 80 karung sampah anorganik. Dominasi sampah plastik sekali pakai, terutama bungkus saset makanan, menjadi catatan terpenting.

Selain kemasan berusia 34 tahun, juga ditemukan sisa obat-obatan yang berpotensi membahayakan kesehatan ekosistem dan manusia.

Kepala Sekolah SDIT Al Huda Bawean, Rissky Wahyu Saputra, menyebut temuan ini sebagai pembelajaran kritis bagi semua pihak.

"Setelah kami telusuri, sekitar 60–70 persen sampah berasal dari aktivitas masyarakat sendiri, sisanya merupakan sampah kiriman. Namun, yang paling memprihatinkan adalah temuan bungkus saset yang diperkirakan sudah ada sejak 1989, bahkan juga sisa obat-obatan. Ini menunjukkan bahwa sampah plastik bisa bertahan sangat lama di lingkungan pesisir dan menjadi ancaman serius," tutur Rissky.

Baca juga:
Tersesat di Hutan Bawean, Wisatawan asal Sidoarjo Diselamatkan Polres Gresik

Rissky menekankan bahwa aksi ini bertujuan menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini melalui praktik nyata, sekaligus mendorong tanggung jawab bersama dalam menjaga ekosistem Pulau Bawean. Namun, lebih dari itu, ada urgensi perlindungan kesehatan anak-anak.

"Pantai ini adalah tempat bermain dan berenang anak-anak kami. Jika tidak ada pengelolaan dan pemantauan yang baik, kami khawatir ada zat-zat berbahaya yang bisa terus-menerus mengenai kulit atau bahkan terminum. Ke depan, kami berharap setiap desa yang memiliki pantai dapat memiliki sistem monitoring kebersihan secara rutin," harap Rissky.

Di sisi lain, Kepala Desa Lebak, Fadal, mengakui bahwa persoalan sampah pesisir tidak dapat ditangani sendiri. Pihaknya masih membutuhkan dukungan besar, terutama dalam penyediaan serta peningkatan fasilitas dan pelayanan persampahan, agar pengelolaan di tingkat desa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Menanggapi dominasi sampah plastik saset dan usianya yang tua, Manajer Divisi Advokasi dan Kebijakan Ecoton, Alaika Rahmatullah, melihat ini sebagai kegagalan sistemik. Ia mendesak para produsen untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan masalah ini.

"Temuan sampah saset di pesisir Bawean menunjukkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan plastik sekali pakai," tegas Alaika.

Baca juga:
Dibalik Layar Sail to Indonesia, Kisah Relawan Bawean Lestarikan Budaya

Ia lantas mengacu pada prinsip Extended Producer Responsibility (EPR). Menurutnya, produsen wajib bertanggung jawab penuh atas siklus hidup kemasan yang mereka edarkan, termasuk pengumpulan kembali.

"Tanpa keterlibatan aktif perusahaan, beban sampah akan terus dipikul oleh masyarakat dan pemerintah desa. Aksi anak-anak ini seharusnya menjadi cerminan bahwa masa depan ekosistem Bawean terancam oleh produk yang beredar tanpa tanggung jawab akhir," pungkas Alaika.

Melalui Children Environmental Action, para pihak berharap kegiatan ini dapat memperkuat peran anak-anak sebagai agen perubahan dan mendorong keterlibatan aktif masyarakat serta pemerintah desa dalam menjaga kebersihan dan kesehatan ekosistem Pulau Bawean.