Pixel Code jatimnow.com

Riset Bocah SD Sidoarjo, Air Hujan dan Gelas Kertas Ternyata Berisi Plastik

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Siswa melakukan pengamatan langsung menggunakan mikroskop portabel. (Foto: Ecoton/jatimnow.com)
Siswa melakukan pengamatan langsung menggunakan mikroskop portabel. (Foto: Ecoton/jatimnow.com)

jatimnow.com - Fakta mengejutkan datang dari penelitian bocah sekolah dasar di Sidoarjo, Jawa Timur. Bukan ilmuwan laboratorium, melainkan ratusan siswa SD Muhammadiyah 3 Ikrom yang berhasil membuktikan bahwa air hujan di kota mereka telah tercemar mikroplastik. Temuan ini menjadi alarm keras bagi kualitas lingkungan di wilayah penyangga Surabaya tersebut.

Dalam kegiatan edukasi riset bersama Ecoton Foundation, Kamis (12/12), para siswa melakukan pengamatan langsung menggunakan mikroskop portabel. Hasilnya meresahkan. Ditemukan rata-rata 19 partikel mikroplastik dalam setiap satu liter sampel air hujan.

Rinciannya cukup spesifik, yakni 13 partikel jenis fiber dan 6 filamen. Polusi tak kasat mata ini disinyalir berasal dari serpihan ban kendaraan bermotor (fiber) serta debu sisa pembakaran sampah plastik (filamen) yang terbawa angin hingga mencemari awan.

Tak hanya soal hujan, eksperimen Zhafran Alexander, siswa kelas 5 SD, menyingkap fakta yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumsi harian kita. Zhafran menguji air panas yang diseduh dalam gelas kertas (paper cup) wadah yang selama ini dianggap ramah lingkungan.

Mitos keamanan gelas kertas runtuh seketika. Zhafran menemukan 28 partikel mikroplastik yang luruh ke dalam air panas hanya dari satu gelas berukuran 50 milimeter. Lapisan plastik tipis yang merekat pada kertas ternyata meleleh dan bercampur dengan air minum.

"Saya baru tahu gelas kertas ternyata dilapisi plastik. Jadi setiap kita minum air panas dari gelas itu, kita sebenarnya sedang meminum plastik," ujarnya.

Baca juga:
Ecoton Gandeng SMP NU Shafiyah Banyuwangi Kampanyekan Pesantren Zero Waste

Temuan Zhafran dan rekan-rekannya menegaskan peringatan dari para ahli Ecoton. Koordinator Kampanye Plastik Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyebut anak-anak adalah kelompok paling rentan terpapar polusi ini.

"Aksi mengurangi plastik harus dimulai sejak kecil. Mereka cepat belajar dan bisa membawa pesan peringatan ini ke rumah," kata Alaika.

Merespons data empiris yang disajikan siswanya, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Nursuciati, langsung mengambil langkah taktis. Temuan filamen plastik akibat pembakaran sampah menjadi dasar sekolah untuk memperketat aturan main.

Baca juga:
Hujan di Solo Tercemar Mikroplastik Serat, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

"Temuan ini memaksa kami bertindak. Kami mewajibkan seluruh warga sekolah membawa wadah guna ulang sendiri. Sekolah juga menekankan larangan keras membakar sampah karena residunya kembali ke kita lewat hujan dan udara," tegas Nursuciati.

Peneliti Ecoton, Rafika Aprilianti, menambahkan bahwa partikel berukuran kurang dari 5 milimeter ini bukan ancaman sepele.

"Jika terus masuk ke tubuh melalui air dan makanan, mikroplastik bisa memicu gangguan kesehatan serius dalam jangka panjang," tandasnya.