jatimnow.com - Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember menggelar reviu Film Dokumenter KH Achmad Siddiq salah satu tokoh Jember, yang menelusuri jejak intelektual dan spiritual.
Bertempat di salah satu hotel di Jember, penayangan reviu film dokumenter berdurasi sekitar 3 jam mulai pukul 15.00 - 18.00 WIB itu dihadiri beberapa akademisi, ulama serta pimpinan kampus.
Turut hadir narasumber yang memiliki kedekatan historis dan akademik dengan sosok KH Achmad Siddiq, yakni KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman (putra KH Achmad Siddiq), KH. Ayub Saifur Rijal (keponakan), serta Akhmad Taufiq, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jember.
Sejumlah pimpinan UIN KHAS Jember turut hadir, di antaranya Rektor Hepni, Wakil Rektor I M. Khusna Amal, Wakil Rektor III Khoirul Faizin, serta Kepala Biro AUPK Nawawi.
Film dokumenter yang diputar dalam forum ini menelusuri jejak intelektual dan spiritual KH. Achmad Siddiq (ulama Nahdlatul Ulama (NU) asal Jember yang dikenal luas sebagai pemikir moderasi beragama).
Film tersebut merekam perjalanan hidupnya sejak masa kecil, pendidikannya di lingkungan pesantren, hingga kiprahnya sebagai tokoh sentral NU dalam merumuskan penerimaan Pancasila sebagai asas organisasi pada 1984.
Narasi film menegaskan pandangan KH. Achmad Siddiq bahwa agama berfungsi sebagai guidance (pedoman etis dan spiritual) yang harus membimbing akal, bukan sebaliknya.
Dalam konteks relasi agama dan negara pada masa Orde Baru, ia tampil sebagai jembatan yang menenangkan ketegangan antara umat Islam dan negara, dengan menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan bukan pula akidah, melainkan landasan bersama untuk berbangsa dan bergerak.
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni menilai KH. Achmad Siddiq sebagai pemikir yang pemikirannya melampaui zamannya. “Beliau berhasil memadukan spiritualitas dan rasionalitas, iman dan ilmu, serta menghadirkan etika sosial ke dalam wacana keagamaan,” ujar Hepni.
Baca juga:
Tak Ada Kembang Api, Pemkab Trenggalek Gelar Nobar Film Dokumenter
Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan KH. Achmad Siddiq tetap relevan dalam konteks pendidikan Islam modern yang menekankan moderasi, keterbukaan intelektual, dan integrasi ilmu.
Sementara itu, Wakil Rektor I, M. Khusna Amal menjelaskan pembuatan film dokumenter ini merupakan tanggung jawab moral UIN KHAS Jember sebagai institusi yang menyandang nama besar KH. Achmad Siddiq.
Media film dipilih karena dinilai efektif untuk menjembatani generasi yang hidup di era KH. Achmad Siddiq dengan generasi muda masa kini. Film ini, kata dia, masih terbuka untuk penyempurnaan sebelum diluncurkan ke publik luas dan disosialisasikan ke pesantren, madrasah, dan masyarakat.
Masukan substantif disampaikan para reviuwer. KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman menekankan pentingnya menampilkan dimensi kepemimpinan personal KH Achmad Siddiq, kemampuannya memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain, sebagai pesan moral yang kuat bagi publik.
KH. Ayub Saifur Rijal menyoroti relevansi sikap menjaga jarak dari politik praktis dan kemampuan bersikap tegas dalam prinsip namun lentur dalam pendekatan, nilai yang menurutnya sangat penting bagi generasi muda.
Baca juga:
Yayasan Gang Sebelah Produksi Film Mat Kauli, Maestro Macapat Gagrak Gresik
Adapun Akhmad Taufiq menggarisbawahi aspek sinematografis dan historis. Ia menyarankan agar film lebih kuat menampilkan suasana sosial-politik era 1980-an, termasuk ketegangan antara negara dan kelompok keagamaan, serta memperluas perspektif dengan menghadirkan respons dari kalangan non-Muslim.
Langkah ini, menurutnya, penting untuk menegaskan posisi KH. Achmad Siddiq sebagai tokoh nasional dan memperkuat legitimasi sejarahnya.
Forum reviu ini menegaskan bahwa film dokumenter KH. Achmad Siddiq bukan sekadar dokumentasi biografis, melainkan medium refleksi atas relasi agama, negara, dan kemanusiaan.
Lebih dari itu, film ini diposisikan sebagai warisan intelektual yang diharapkan dapat terus menginspirasi generasi mendatang, di Jember, Indonesia, dan dunia Islam secara lebih luas.