Pixel Code jatimnow.com

Penentu Kemenangan Pilkada Lamongan Bukan Elektabilitas, Lalu Apa?

Editor : Zaki Zubaidi   Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Rilis survei ARCI terkait Pilkada Lamongan 2024. (Foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Rilis survei ARCI terkait Pilkada Lamongan 2024. (Foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Lembaga penyelenggara pemilu KPU maupun Bawaslu harus berkerja ekstra terkait adanya potensi kecurangan politik uang. Hal itu selaras dengan hasil Survei Accurate Research and Consulting Indonesia Academy (ARCI).

Dari hasil survei, tingkat kecurangan politik uang tembus diangka 71,3 persen. Politik uang menjadi salah satu faktor utama penentu kemenangan pada Pilkada 2024 di Lamongan.

Direktur Eksekutif ARCI, Baihaki Sirajt menyebut bahwa kondisi ini bahkan bisa mengalahkan calon kuat yang memiliki elektabilitas tinggi.

"Belum tentu, calon kuat yang memiliki elektabilitas tinggi belum tentu menang," katanya, Sabtu (11/5/2024).

Dari fakta riset, beber Baihaki, angka 71 persen adalah nilai yang cukup tinggi bahkan bisa mempengaruhi perilaku pemilih saat jalanya Pilbup 27 November mendatang.

"Di Kabupaten Lamongan tingkat politik uang di angka 71,3 persen, artinya politik uang masih sangat tinggi di sini," urainya.

Baca juga:
Bahlil Dinilai Menteri Dengan Kinerja Baik Versi ARCI, Begini Analisa Pakar

Baihaki mengimbau bahwa kecurangan semacam ini, bisa diminimalisir tentunya selain dari pengawan Bawaslu juga dengan skema gerak dari paslon lain.

"Harus diimbangi dengan program dan persiapan termasuk timnya," bebernya.

Sementara itu, hasil survei yang digelar ARCI elektabilitas Pak Yes meroket hampir 49 persen mengalahkan beberapa kompetitornya.

Baca juga:
Hitung Cepat ARCI di Pilgub Jatim 2024: Khofifah-Emil Tembus 60,1 Persen

Survei ini digelar selama sepekan dari 23-29 April melibatkan 1.200 koresponden di 27 kecamatan di Lamongan.

 

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam