Pixel Code jatimnow.com

Anggotanya Terlibat Kericuhan dengan Mahasiswa, Kapolres Bangkalan Minta Maaf

Editor : Arina Pramudita   Reporter : Fathor Rahman
Demo mahasiswa menolak perpanjangan jabatan presiden di DPRD Bangkalan. (Foto: Fathor Rahman/jatimnow.com)
Demo mahasiswa menolak perpanjangan jabatan presiden di DPRD Bangkalan. (Foto: Fathor Rahman/jatimnow.com)

Bangkalan - Kapolres Bangkalan meminta maaf pascademo yang berlangsung ricuh di Gedung DPRD Bangkalan. Permintaan maaf itu, menyusul terlukanya lima mahasiswa saat menggelar aksi unjuk rasa menolak perpanjangan masa jabatan presiden.

Kapolres Bangkalan AKBP Alith Alarino memastikan akan bertanggung jawab dan meminta massa melaporkan aparat jika memang terbukti melakukan tindakan yang melanggar hukum.

"Kami meminta maaf kepada para mahasiswa atas kejadian ini. Karena memang situasinya yang tidak kondusif. Kami akan bertanggungjawab soal ini," ujar Kapolres Bangkalan AKBP Alith Alarino, Senin (11/4/2022).

Baca juga:

Data yang dihimpun di lokasi, lima mahasiswa yang terluka di antaranya Hamim dari Fakultas Teknik, Bayu, Bernard dan Abi dari Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Sementara satu mahasiswa lain, Saiful dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Ibrohimy (STITAL) Bangkalan.

Baca juga:
Kronologi Meninggalnya 1 Tahanan Politik di Rutan Medaeng Surabaya

Korlap aksi, Abdurahman Wahed mengatakan, saat ini pihaknya masih terus mendata mahasiswa yang terluka.

"Data sementara kami sudah lima orang yang diketahui terluka. Tapi kami masih menelusurinya. Mereka dipukul dengan alat oleh polisi," ucapnya.

Meski belum mengetahui pasti kondisi terkini mahasiswa yang terluka, ia menyebut jika beberapa mahasiswa dilarikan ke RSUD Syamrabu, Bangkalan untuk dirawat. Sementara beberapa ada yang memilih pulang ke rumah.

Baca juga:
1 Tahanan Politik Meninggal di Rutan Medaeng Surabaya

Walaupun membubarkan diri, lanjut Wahed, pilihan itu ditempuh karena mahasiswa menghargai waktu jelang berbuka puasa. Kendati begitu, ia mengaku kecewa atas tindakan polisi dan wakil rakyat yang diduga menjadi pemicu, karena tak beritikad menemui massa.

"Tuntutan kami tetap, yakni menolak jabatan presiden 3 periode. Menolak penundaan pemilu, dan pemerintah harus menurunkan harga sembako dan harga BBM yang tidak pro rakyat," tegas Wahed.

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam