Melihat Petilasan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi

jatimnow.com - Petilasan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi terletak di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh.

Sebagai penanda, di lokasi petilasan yang disebut Lastono terdapat satu pohon beringin yang berukuran besar dan tinggi dan merindangi areal petilasan seluas 30 meter persegi itu.

Juru Kunci Lastono Syekh Siti Jenar, Turin menuturkan petilasan Syekh Siti Jenar di Bumi Blambangan ditemukan sekitar tahun 1468 Masehi.

"Syekh Siti Jenar berasal dari Cirebon. Setiap tempat yang pernah disinggahi diberi nama lemah (tanah) abang, yang di sini, sekarang disebut Lemahbang Kulon," tutur Turin kepada jatimnow.com, Sabtu (14/3/2020).

Di areal Lastono, juga terdapat gazebo, toilet, dan musala. Pengunjung, kata dia, lebih banyak datang saat malam hari.

Biasanya mereka, mempunyai tujuan sendiri-sendiri. Turin mengatakan, ada yang sekadar ingin tahu, silaturahmi dengan teman, ziarah dan selamatan.

Selain itu, juga ada yang menggelar doa untuk diberikan keselamatan hingga meminta apa yang akan dilakukan menjadi lancar.

"Beberapa kali juga ada mahasiswa dari UGM, Airlangga Surabaya, Brawijaya, Unej, Untag dan Ibrahimy ke sini untuk meneliti sejarah," terangnya.

Selain pengunjung dari beberapa wilayah di Banyuwangi, kata Turin, pengunjung juga banyak datang dari Surabaya, Jogja, Sumatera, Jakarta, Bali, Malang, Kediri, Blitar, Jember.

Dari cerita turun-temurun, kedatangan Syekh Siti Jenar di Bumi Blambangan, lanjutnya, untuk melakukan menenangkan diri, semedi, dan bukan untuk menyebarkan agama Islam.

"Beliau ke sini untuk menenangkan diri dan semedi, cerita dari kakek saya secara lisan," sebutnya.

Juru kunci yang ke sebelas itu menyebut hingga sejauh ini tidak ada ritual secara khusus yang dialamatkan untuk Syekh Siti Jenar. Hanya, setahun sekali dilakukan selamatan bersih dusun.

"Kalau selamatan atau ritual khusus tidak pernah. Cuma selamatan pas bersih dusun atau kadang ada warga menggelar selamatan secara mandiri karena mempercayai Syekh Siti Jenar sebagai salah satu wali, meskipun ada yang setuju atau kontra," papar Turin yang mengaku lahir tahun 1963 itu.

Ia menambahkan, situs Lastono di Desa Lemahbang Kulon ini bebas dikunjungi siapapun. Tidak ada syarat khusus bagi seseorang.

"Tidak ada syarat khusus untuk ziarah atau mengunjungi Lastono, yang penting sopan dan sama-sama menghargai," tandasnya.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top