Piala Gubernur Jatim 2020

Kerusuhan Antar Suporter di Kota Blitar, Polisi: Tak Ada Korban Jiwa

jatimnow.com - Kerusuhan antar suporter di luar Stadion Soeprijadi Kota Blitar ternyata ditumpangi tangan jahat dengan menyebar informasi korban tewas. Polisi memastikan kabar tersebut bohong dan tidak ada satupun korban jiwa dalam kerusuhan tersebut.

Kapolres Blitar Kota AKBP Leonard Sinambela menegaskan tidak korban jiwa dalam kerusuhan yang terjadi Selasa (19/2/2020) tersebut. Hanya ada korban luka patah kaki dan di wajah. Korban luka lain yang sempat dirawat di rumah sakit bahkan sudah pulang.

"Tidak ada (korban jiwa). Saya sudah cek ke seluruh rumah sakit yang ada. Dan memang tidak laporan korban jiwa di wilayah kita. Jadi informasi di media sosial itu kami pastikan bohong alias hoaks," ujar Leonard, Rabu (19/2/2020).

Dalam upaya pemulihan keamanan pascakerusuhan, semua aparat keamanan yang terlibat mengevakuasi suporter menggunakan 17 truk angkut dari TNI, Polri serta Satpol PP untuk mengantar para suporter ke tempat asalnya.

Baca juga:  

Alumni AKPOL 2000 ini menjelaskan, sejumlah suporter diantar ke Surabaya mengambil jalur Kediri. Beberapa suporter lain diantar Malang melalui Terminal Patria Kota Blitar dengan pengawalan ketat. Bahkan pemulangan itu melibatkan Polres Kediri, Tulungagung dan Malang.

Di sisi lain, Leonard mengakui ada beberapa suporter yang jadi sasaran amukan warga yang tidak terima tempatnya dijadikan ajang kerusuhan. Saat menyisir sejumlah jalan, ada sekitar 7 suporter yang dimassa. Bahkan saat mobil patroli mengangkut suporter sempat dikejar warga.

Leonard menyebut ada sekitar dua ribu orang dari kedua kelompok suporter yang datang ke Blitar untuk mendukung Persebaya dan Arema FC, meski dari luar stadion. Bahkan sampai di luar stadion, para suporter sempat termakan berita hoaks bahwa sudah ada di dalam stadion.

"Makanya itu saya bilang kegiatan sepakbola tanpa penonton bukan berarti tanpa suporter, ternyata antusiasme yang mau nonton itu kan tinggi. Polisi menerapkan pengamanan sistem ring dan memang tidak boleh masuk. Kalau masuk pertandingan berhenti. Kan itu sudah regulasi. Sehingga petugas pengamanan pasti konsen untuk mengamankan, lokalisir pertandingan itu," bebernya.

Leonard menambahkan, karena alasan inilah suporter lantas berkeliling mencari celah yang berbuntut pertemuan antar kedua suporter sehingga memicu bentrokan.

"Mau nonton di kecamatan tidak mau katanya. Padahal kalau datang nonton, katanya mau nonton di Stadion. Hal-hal seperti itu yang memancing mereka keliling. Semua personel sudah kita tempatkan di perempatan. Begitu ada informasi, lantas langsung informasi pasukan di stadion kita geser. Kalau ketemu pasti ada gesekan," tandasnya.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top