Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Gandeng LKN Bahas Kemandirian Pangan

jatimnow.com - Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) mengundang Lembaga Kajian Nawacita (LKN) untuk membahas program ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional.

Diskusi bertajuk 'Program Ketahanan Pangan Menuju Kemandirian Pangan' itu digelar pengurus IKAL dan LKN, di Sekretariat IKAL, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (19/9/2019).

"Kita diminta memikirkan suatu sistem bagaimana bisa membantu kayak fluktuatif harga barang itu bisa membaik. Kemudian distribusi barang lebih baik. Kemudian kebutuhan masyarakatnya bisa terpenuhi dengan baik. Kita sampaikan konsep-konsep kita tentang program ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional," ujar Ketua Komite Ketahanan Pangan LKN, Hartono Wignjopranoto kepada jatimnow.com.

Hartono yang juga Direktur Utama Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) itu menjadi salah satu narasumber yang diundang IKAL untuk membahas program ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional.

"Rencana ke depan, pemerintah mau meningkatkan segala-galanya. Lah kalau pangan nggak dibenerin, mau bagaimana," ungkap Hartono.

"Kita diminta, karena dianggap kita punya lumayan pengalaman dalam pengembangan pasar induk berjaringan. Jadi kita diminta masukannya," tambahnya.

Katanya, sekarang ini Indonesia dengan segala kelebihannya, punya tanah subur dan segala macam. Namun ketersediaan pangannya, sering bermasalah.

"Fluktuasi harga barang naik turun, misalnya kadang bisa Rp 10 ribu, kapan-kapan atau sebulan lagi bisa naik menjadi Rp 100 ribu. Itu kan nggak benar. Kalau tidak ada kepastian berusaha, sakno rakyate (kasihan rakyatnya)," tuturnya.

Paskomnas memiliki jaringan pasar induk yang tersebar di beberapa kota besar seperti Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS), Pasar Induk Jakabaring Palembang dan Pasar Induk Tanah Tinggi, Tanggerang. Paskomnas juga menjadi anggota dari LKN.

Hartono yang juga Direktur Utama PIOS itu diundang untuk memberikan konsep-konsep tentang ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional.

"Jadi kita diminta memikirkan suatu sistem yang bagaimana bisa membantu agar kayak fluktuatif harga barang itu bisa membaik, kemudian distribusi barang lebih baik, kemudian kebutuhan masyarakatnya bisa terpenuhi dengan baik dan terutama kalau bisa tentu terpenuhi dalam negeri. Wong tanahe subur (tanahnya kan subur)," ungkapnya.

"Dan kita sampaikan konsep-konsep kita. Kemudian, rupanya direspon dengan baik dari pihak Alumni Lemhanas, kemudian akan segera membentuk Forum Group Discussion untuk mengecerutkan ini yang hasilnya dari diskusi ini. Tentu bukan hanya diskusi, tapi masukan kepada pemerintah, kira-kira action plannya apa. Sehingga nawacitanya pemerintah itu kelakon (terlaksana)," terang Hartono.

Dari hasil pertemuan 'kecil' tersebut, IKAL akan membuat forum group discussion (FGD) dengan mengundang berbagai stakeholder serta para praktisi yang berkaitan dengan pangan.

"Para alumni lemhanas bersama para praktisi di bidang ketahanan pangan akan berkumpul membahas bagaimana ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional," tegasnya.

"Mereka bisa mengumpulkan praktisi-praktisi bukan teori-teori. Ya mudah-mudahan ke depan bisa menjadi program nasional. Karena pangan ini suatu kebutuhan pokok. Hubungannya sama Lemhannas, ya tentunya salah satunya bukan membawa bedil (senjata api) lagi. Kalau makannya susah, ketahanan pangan nasionalnya buruk. Dan yang terpenting, bagaimana kita bisa bergandengan dengan tujuan sama, harus dirajut bersama-sama," tutupnya.

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top