Kisah Tarwiatun, Korban KM Santika Nusantara Terapung 7 Jam di Laut

jatimnow.com - Terbakarnya Kapal Motor (KM) Santika Nusantara di Perairan Masalembu, Sumenep, Madura pada Kamis (22/8) lalu masih terbayang oleh Tarwiatun Hasanah (34), salah satu korban.

"Saya sekeluarga masih trauma," kata Tarwiatun saat ditemui di rumahnya di Dusun Kendung II, Kelurahan Kendung, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi, Kamis (29/8/2019).

Diceritakannya, dirinya saat itu ingin kembali ke tempat kerjanya di perkebunan sawit Kalimantan Timur (Kaltim) setelah mengambil cuti.

"Jadwal awal berangkat pukul 04.00 Wib, tapi kapal ternyata baru berangkat pukul 09.00 Wib," ujarnya.

Penundaan keberangkatan kapal hingga 5 jam membuat perasaannya tidak enak bagi. Ia berfirasat akan ada kejadian yang tidak mengenakkan karena keberangkatan kapal yang tertunda.

"Saya sebenarnya pengen turun karena molor," lanjutnya.

Firasat buruk akhirnya menjadi kenyataan. Sekitar pukul 21.00 Wib, ia mendengar suara gaduh saat tertidur. Banyak orang teriak kebakaran. Ia panik namun suaminya yang bernama Joko Rianto berusaha menenangkannya.

"Suami saya bilang tenang. Kalau tenang, nanti bisa kita pikirkan supaya selamat," katanya.

Keduanya kemudian memutuskan sepakat untuk turun ke lantai bawah guna mencari pelampung.

"Pelampungnya saya ikat dengan anak saya yang kecil. Terus bapaknya sama anak saya yang besar. Kami cari sekoci bersama-sama," tegasnya.

Di tengah kepanikan ini, dirinya hanya bisa berdoa. Permintaannya hanya satu, jika memang harus meninggal dunia tidak terpisah dengan suami dan dua anaknya.

Keluarga ini terombang-ambing di laut selama 7 jam sebelum menemukan sekoci yang sesak dengan penumpang lain. Sayangnya sekoci yang dinaiki juga bocor.

"Lubangnya besar sekali. Jadi ya harus menguras biar tidak tenggelam," katanya.

Kepanikan tidak berlangsung lama. Di tengah suasana mencekam itu ada kapal nelayan yang melintas.

"Semua penumpang ditolong sama nelayan di Sumenep Madura, terus dievakuasi sama orang itu ke Madura," ujarnya.

Dia mengaku, pengalamannya itu menjadi sangat berharga. Bisa kembali ke Ngawi dengan selamat adalah mukjizat.

Peristiwa yang hampir mengakibatkan kehilangan nyawa ini membuat keluarga ini belum merelakan untuk kembali ke Kalimantan.

"Mungkin masih trauma. Kalau kami ya ingin kembali," pungkasnya.

 

 

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top