Pixel Code jatimnow.com

Polisi Ambil Sampel Limbah Diduga B3 yang Lukai Anak di Mojokerto

Editor : Narendra Bakrie   Reporter : Achmad Supriyadi
Polisi mengambil sampel limbah diduga B3 di Mojokerto yang membuat seorang anak mengalami luka bakar
Polisi mengambil sampel limbah diduga B3 di Mojokerto yang membuat seorang anak mengalami luka bakar

jatimnow.com - Luka bakar yang dialami Nizam Dwi Pramana (8), akibat menginjak limbah diduga bahan berbahaya dan beracun (B3) di areal persawahan Dusun Kedung Bulus, Desa Watesprojo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, akhirnya sampai ke telinga kepolisian.

Kapolsek Kemlagi AKP Eddie Purwo Santoso menjelaskan, dirinya sudah mendatangi lokasi pembuangan limbah diduga B3. Selain itu, ia sudah mengambil sampel limbah tersebut untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

"Kami sudah mendatangi lokasi abu yang diduga limbah tersebut, karena ada informasi dari warga dan mengambil sedikit abu itu," kata Eddie, Jumat (19/7/2019).

Baca juga:  Seorang Anak di Mojokerto Luka Bakar Terkena Limbah Diduga B3

Baca juga:
Mahasiswa Ubaya Sulap Kantong Teh Jadi Dekorasi Rumah Estetik & Berkelanjutan

Akibat luka bakar yang dideritanya, Nizam masih menjalani perawatan di Ruang Lavender, RSUD Basoeni, Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

"Kondisi luka bakar derajat grade tiga dan sudah mengenai otot-otot yang menyebabkan kematian ototnya itu," kata Dokter Bedah RSUD Basoeni, dr Afvan Tri Kurniawan.

Baca juga:
Profesor ITS Ubah Limbah Jadi Adsorben, Solusi Pencemaran Air Ramah Lingkungan

Selanjutnya, korban diberikan tindakan perawatan dengan membersihkan jaringan otot yang mati. Sedangkan tulang dan bagian dalam masih bagus.

"Luka bakar di kaki hanya tiga persen. Kondisi sekarang cukup baik, tinggal perawatan di poli dan butuh perawatan berbulan-bulan untuk penyembuhan luka," jelasnya.

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam